Photobucket

Laman

Sabtu, 12 November 2011

Pengalaman Berharga di Dunia Sastra: Ngaji dan Berdiskusi dengan Ustadz In'am (Bag. 2)

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Waktu liburan sudah habis. Saatnya berangkat ke Jakarta untuk bergelut kembali dengan aktifitas kuliah dan kemacetan. Namun, pada keberangkatan kali ini ada sesuatu yang berbeda. Pikiran saya terpecah menjadi dua, antara makalah dan nazham.

Sekilas tentang Ustadz In'am
Selama proses penyusunan nazham, saya dibantu oleh Ust. In'am Abdul Fattah. Pria kelahiran 1969 ini merupakan salah satu alumnus PP. Al-Khiyaroh Buntet Pesantren Cirebon yang didirikan oleh almarhum al-maghfur lah K.H. Mohammad Nashiruddin Zahid. Allahummaghfil lahu warhamhu wa afihi wa'fu 'anhu.

Di sana, ia mengenyam pendidikan agama selama enam tahun (1983-1989). Sebagai sosok yang cerdas, ulet, tekun,  ikhlas, dan penyabar, ia pun menjadi salah satu murid kesayangan Kyai Nashir. Ia mampu menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari fiqh, ushul fiqh, mantiq, nahwu shorof, balaghoh, dan lain sebagainya. Keahliannya dalam memijat pun menjadi media kedekatannya dengan sang Kyai yang memang gemar sekali dipijat. Sedangkan posturnya yang jangkung (182 cm) membuatnya mudah dikenali. Saya sendiri, yang saat itu masih anak-anak, sangat suka jika digendong olehnya, karena hal itu membuat saya seolah-olah sedang terbang ke angkasa.

Selepas dari Al-Khiyaroh, ia melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren tempat Kyai Nashir muda dahulu berguru, PP. Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, asuhan al-mukarram KH. Maymun Zubair. Baru satu bulan di pesantren barunya tersebut, Ust. In'am berhasil meraih juara kedua dalam perlombaan kajian kitab Alfiyah yang diselenggarakan oleh pihak pondok. Hal ini tidaklah mengherankan karena selama di Al-Khiyaroh ia sudah berhasil menghafal kitab Alfiyah secara bolak-balik. Namun demikian, ini tetaplah merupakan sebuah prestasi yang sulit ditiru mengingat ketatnya persaingan yang terjadi diantara sekitar 1500 santri senior dengan kompetensi mereka yang tidak diragukan lagi. Prestasi tersebut dapat membuktikan tingkat kecerdasannya yang di atas rata-rata.

Sayang, keberadaannya di PP. Al-Anwar harus terhenti di tahun kelima masa pendidikannya. Persoalan ekonomi keluarga menjadi faktor utama mengapa ia harus menghentikan pendidikan dan kembali ke kampung halamannya di Cilacap, Jawa Tengah. Tidak lama dari kepulangannya, 1995, ia diminta oleh sahabatnya sesama alumnus Al-Khiyaroh, Ust. Syu'aib Abdullah, untuk mengajar di pondok pesantren miliknya, PP. Roudlotul Qur`an, Ciputat. Tanpa pikir panjang, ia pun menerima permintaan sahabatnya itu untuk tinggal di Ciputat.

Pada tahun 2000, ia menikah dengan gadis setempat yang notabene merupakan muridnya sendiri. Lalu pada tahun 2001, saya diminta oleh Ust. Syu'aib untuk menjadi staff pengajar di tempat yang sama menemani Ust. In'am. Di sanalah saya dipertemukan kembali dengan Ust. In'am setelah sekian tahun lamanya berpisah.

Ngaji dan Diskusi Bersama
Saya tinggal bersamanya selama enam tahun, dan masa-masa itu saya manfaatkan untuk menimba ilmunya. Meskipun Ust. In'am adalah murid Abah saya, namun saya tidak malu untuk berguru kepadanya dan mengakuinya sebagai guru. Beberapa kitab sudah saya ikuti, seperti Tafsîr al-Jalâlain (tafsir al-Qur`an) sebanyak tiga kali, Syarĥ Ibn ‘Aqîl (nahwu), al-Tsimâr al-Yâni’ah (fiqh), Bulûgh al-Marâm (hadits), al-Luma’ (ushul fiqh), al-Asybâh wa al-Nazhâ`ir (qawa’idul fiqhiyyah), dsb, termasuk belajar kaligrafi seperti yang telah saya singgung di artikel bagian pertama.

Ust. In'am memberi banyak pengalaman kepada saya tentang Kitab Kuning, dari segi gaya bahasa maupun metode pembahasan. Ia tidak pernah sungkan untuk menjawab setiap pertanyaan yang saya ajukan. Apapun pertanyaannya selalu dijawab dengan penjelasan yang begitu luas, lugas, serta intonasi yang halus. Ia tidak pernah marah, baik saat mengajar maupun dalam kehidupan sehari-harinya. Ia adalah teman dan guru yang asyik untuk dijadikan tempat bertanya dan berdiskusi. Demikian pula dengan nazham ciptaan saya. Setiap baitnya selalu kami diskusikan bersama seperti apa yang biasa kami lakukan terhadap disiplin ilmu lainnya.

Bersambung.. (insya Allah)

Kembali ke Bagian Pertama
»»  Baca selengkapnya...

Membaca Pesan dari Tuhan

Oleh: A. Irfan Maulana, SH


Banyaknya kekacauan yang kerap terjadi akhir-akhir ini, mulai dari persoalan sosial, konflik antar warga, dan sebagainya, menuntut kita untuk menyegarkan kembali apa yang terkandung dari agama. Agama merupakan pesan Tuhan bagi umat manusia yang disampaikan bersamaan dengan berbagai ritual yang terkandung di dalamnya. Pesan agama adalah pesan langit yang harus dijalani, apapun bentuknya.

Dalam pelaksanaannya, karena bahasa Tuhan berbeda dengan bahasa manusia, Ia mengutus ribuan juru selamat (baca: nabi dan rasul) untuk menerjemahkan bahasa-Nya kepada umat mereka masing-masing. Dengan demikian, pesan Tuhan dapat sampai dan dipahami serta diaplikasikan oleh seluruh umat secara sempurna. Perlu diketahui bahwa dari sekian banyak jumlah juru selamat yang diyakini oleh umat Islam, Bani Israel menyumbang juru selamat paling banyak. Hampir sebagian besar dari mereka berasal dari golongan ini. Melihat hal tersebut, ada adagium kuat bahwasanya Bani Israel adalah bangsa pilihan diantara bangsa-bangsa yang lain.

Pesan yang nge-Tren
Gambaran konflik horizontal yang ada di tengah masyarakat merupakan bagian dari realita masyarakat yang harus dicari darimana akar permasalahannya berasal. Oleh karena itu, pembahasan mengenai bagaimana Pesan Tuhan tersampaikan dan kemudian terlembagakan pada umat-Nya merupakan bagian dari upaya untuk mengurai akar permasalahan tersebut. 

Setiap agama tentunya memiliki golongan yang dengan sukarela giat menjaga pesan Tuhan yang dijelmakan melalui perilaku mereka. Istilahnya adalah golongan suci yang mentahbiskan diri secara utuh untuk agamanya. Dalam Islam, setelah generasi juru selamat disempurnakan oleh Rasulullah saw sebagai khâtam al-anbiyâ` (penutup para nabi), pesan Tuhan tersebut beralih tugas kepada para sahabatnya untuk disampaikan kepada seluruh manusia. Sepeninggal Rasulullah, maka generasi berikutnya adalah golongan sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, hingga pada ulama salaf. Sementara itu, agama lain mempunyai istilah tersendiri dalam menamai generasinya. 

Sepeninggal para juru selamat dari berbagai agama, maka pelembagaan pesan Tuhan dirasa perlu untuk dilakukan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya pesan Tuhan yang perlu untuk dikaji dan ditelaah kembali berdasarkan konteks kekinian sehingga Ruh dari Pesan Tuhan yang berlaku dalam setiap ruang dan waktu dapat tetap hidup. 

Proses pelembagaan dari pelbagai agama memiliki sejarah panjang. Misalnya saja yang terjadi pada agama Budha. Sepeninggal pendirinya, yaitu Siddhartha Gautama atau yang biasa dipanggil dengan julukan Buddha Gautama, para pengikut Budha mengadakan Sidang Agung yang bertujuan untuk menghimpun ajaran-ajaran Budha yang terserak untuk kemudian diajarkan dan disebarkan kepada banyak orang. Karena Buddha tidak meninggalkan ajarannya secara tertulis, ajarannya diteruskan lewat sekumpulan memori murid-muridnya yang tertuang dalam bentuk sutra-sutra. Melalui Sidang Agung pula lahir para bhiksu. Mereka mendedikasikan diri secara utuh dalam lingkungan biara sebagai golongan suci yang mencoba menerjemahkan pesan Tuhan. 

Dalam ajaran Kristen, golongan suci dinamakan biarawan atau biarawati. Demi kepentingan agama, mereka secara sukarela meninggalkan kehidupan duniawi dan memfokuskan hidupnya di biara dan gereja. Di Indonesia, biasanya para biarawan ini dipanggil dengan sebutan suster. Mereka bertugas melayani ummat, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga sosial kemasyarakatan. Tugas suster, atau bagi laki-laki disebut dengan bruder, ini semata-mata untuk memperingan tugas uskup atau pastor yang memimpin lingkungan gereja. 

Islam, Indonesia, dan Santri
Tidak terkecuali Islam. Setelah kemunculan al-Qur`an di zaman kegelapan pada abad ketujuh masehi dimana mayoritas masyarakatnya pada waktu itu buta huruf, semua orang memandang perlu untuk kembali mengkaji pesan Tuhan yang terkandung di dalamnya. Tentunya proses mengkaji al-Qur`an bukanlah persoalan yang gampang, melainkan memerlukan metode jitu serta kapasitas yang mumpuni. Khusus di Indonesia, pemegang tongkat estafet sebagai juru selamat yang berkompeten untuk mengartikan bahasa Tuhan adalah santri. Santri berasal dari bahasa sansekerta cantrik, yang berarti pengemban Kitab Suci.

Polarisasi pendidikan model santri merupakan cara para ulama terdahulu untuk mengakaji serta memahami pesan Tuhan secara komprehensif. Gus Dur mengemukakan bahwa pesantren, berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, memiliki paling tidak tiga elemen utama yang layak untuk dijadikan sebagai sebuah subkultur; (1) pola kepemimpinan pesantren yang mandiri dan tidak terkooptasi oleh negara; (2) kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan yang diambil dari berbagai abad (dalam terminologi pesantren dikenal dengan kitab klasik atau Kitab Kuning); dan (3) sistem nilai (value system) yang dianut. Beberapa nilai moralitas yang selalu ditekankan dalam ajaran-ajaran di pesantren adalah keikhlasan (al-ikhlâsh), kemandirian (al-i’timâd ‘alâ al-nafs), kesederhanaan hidup (al-iqtishâd), asketis (al-zuhd), menjaga diri (al-wara’), dan lain-lain.

Pada umumnya, pesantren menjadikan tafaqquh fi al-dîn sebagai tujuan pesantren. Secara literal ia berarti “mendalami agama”. Pengertian tafaqquh di sini tidak hanya berarti mempelajari agama eksoterik atau dalam arti hukum-hukum fiqh yang legal-formal, melainkan lebih dari itu. Lebih lanjut, menurut Zamakhsyari,


“Tujuan pendidikan tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran santri dengan pelajaran-pelajaran agama, tetapi untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah-laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan para santri untuk hidup sederhana dan bersih hati. Setiap santri diajarkan agar menerima etik agama di atas etik-etik yang lain. Tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi ditanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian (ibadah) kepada Tuhan.”

Kesimpulan
Pada akhirnya, janganlah kita terjebak akan luasnya pesan Tuhan. Pesan Tuhan merupakan pesan yang harus dipahami secara lebih mendalam lagi agar tatanan bangsa dan masyarakat kita lebih terarah. Namun demikian, ironisnya, banyak dari kalangan agamawan tidak bisa membawakan perannya sebagai pembawa pesan Tuhan yang baik hingga pada akhirnya justru kekacauanlah yang banyak terjadi. Seharusnya agamawan dan juga lembaga-lembaga agama yang ada mampu memposisikan diri sebagai pencetak karakter bangsa dan peradaban manusia, sehingga yang terjadi kemudian bukanlah Pesan Tuhan yang terabaikan karena adanya “pesan” lain yang lebih memberikan keuntungan bagi dirinya. Karena pada dasarnya, Pesan Tuhan melalui semua agama telah mengarahkan, menganjurkan, serta membimbing manusia ke arah yang lebih baik. Persoalannya kemudian hanyalah sejauh mana kita dapat mengartikan pesan Tuhan tersebut? 

Selamat membaca pesan dari Tuhan!
»»  Baca selengkapnya...

Sabtu, 05 November 2011

Pengalaman Berharga di Dunia Sastra: Berawal dari Seni Kaligrafi (Bag. 1)

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Seperti biasanya, liburan kuliah di pertengahan tahun 2002 kali itu saya manfaatkan untuk pulang ke kampung halaman. Masa libur yang cukup lama, hampir dua bulan, memberikan banyak kesempatan bagi saya untuk berkumpul dengan keluarga sekaligus cooling down setelah setahun berkutat dengan diskusi dan tugas perkuliahan yang melelahkan.

Berawal dari Kaligrafi
Masa senggang itu lebih banyak saya habiskan untuk jalan-jalan, bercanda ria dengan keluarga, ataupun santai di kamar. Saat di kamar, kegiatan yang saya lakukan adalah nonton tv, utak-atik komputer, baca buku, dan sesekali corat coret sambil mengasah kemampuan seni tulis huruf Arab (kaligrafi) yang saya pelajari dari Ustadz In'am di Ciputat.

Nah, saat corat-coret itulah tanpa sengaja saya bersentuhan dengan salah satu cabang sastra Arab, yakni syi'ir dan nazham. Secara etimologi, syi'ir berasal dari sya'ara atau sya'ura yang berarti "mengetahui dan merasakannya". Sedangkan menurut terminologi, syi'ir adalah "suatu kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama dan sajak yang mengungkapkan tentang khayalan atau imaginasi yang indah". (1)

Adapun nazham, secara etimologi, berasal dari kata nazhama yang berarti "menyusun". Dan secara terminologi, pengertiannya tidak terlalu berbeda dengan syi'ir. Perbedaanya terletak pada konten dan sistematika penulisannya. Syi'ir dibuat untuk menggambarkan suatu perasaan atau peristiwa tertentu secara acak, sementara itu nazham mengandung pembahasan dan penjelasan mengenai suatu cabang ilmu secara sistematis. Namun, karena syi'ir memiliki pengertian yang lebih luas, maka nazham dapat disebut sebagai syi'ir, dan tidak sebaliknya. 

Membuat Teks Muqaddimah dan 
Pada mulanya, saya bingung harus menulis apa untuk sekedar mengasah kemampuan kaligrafi saya ini. Kebetulan saat itu saya sedang fokus mempelajari salah satu jenis tulisan (khath), yakni Khath Naskhi -- tulisan Arab standar seperti halnya Times New Roman untuk tulisan Latin. Akhirnya saya putuskan untuk membuat teks pembukaan (muqaddimah) untuk ceramah atau sambutan yang terdiri dari beberapa kalimat pendek berakhiran huruf Ha atau Ta Marbuthah yang ketika waqaf bunyinya berubah menjadi Ha. Dua kalimat pertama berbunyi,

حَمْدًا وَشُكْرًا لِمَنْ أَعْطَى الرَّحْمَةَ * لِجَمِيْعِ الْمَخْلُوْقِ وَالْهِدَايَةَ * .....

"Segala puji dan syukur bagi Dzat yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada segenap makhluq"

Iseng-iseng saya baca kalimat tersebut dengan irama yang mirip dengan syi'iran, dan bisa! Skenario pun langsung berubah, dari semula membuat muqaddimah ceramah menjadi muqaddimah kitab nazham seperti halnya kitab 'Aqidat al-'Awwam,. Setelah selesai membuat muqaddimah sebanyak enam bait, saya kembali kebingungan mencari kira-kira tema apa yang mau dibahas. Berbagai ide bermunculan, dan saya memilih untuk membahas pembagian lima macam hukum fiqh Islam; wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Kurang dari satu jam, saya berhasil membuat sekitar sepuluh bait (selain muqaddimah) untuk menerangkan kelima macam hukum tersebut secara ringkas. Akan tetapi, lagi-lagi saya dibuat bingung untuk menentukan tema berikutnya yang akan dibahas.

Membuat Nazham Ilmu Nahwu
Setelah berfikir cukup lama, saya pun memilih untuk membahas ilmu nahwu bagi pelajar pemula. Adapun konten dan sistematika penulisannya merujuk pada kitab al-Ajurumiyyah dengan sedikit tambahan. Pilihan tersebut bukannya tanpa alasan. Pembahasan yang panjang dan sistem penulisan yang sudah demikian sistematis akan meringankan saya, mengingat kitab tersebut memiliki lebih dari dua puluh bab. Setidaknya, saya tidak perlu bingung-bingung lagi mencari tema pembahasan dalam jangka waktu yang relatif lama.

Sejak saat itu, pikiran saya dihantui oleh proyek baru ini. Kapanpun, dimanapun, dan sedang melakukan kegiatan apapun, otak saya tak pernah berhenti untuk terus menerus membuat nazham. Kertas dan pulpen tidak pernah lepas dari tangan saya untuk mencatat bait-bait baru yang saya hasilkan. Hati kecil saya mengatakan bahwa saya harus berhasil menyelesaikan keseluruhan nazham ini secara utuh meski harus menghabiskan waktu berbulan-bulan dan siap dengan resiko apapun yang mungkin terjadi. Sebuah komitmen yang benar-benar kuat, sekuat pohon Rengas di Kali Cawang  dekat Bunen yang ada di kampung halaman saya, Buntet Pesantren Cirebon.

»»  Baca selengkapnya...

Jumat, 04 November 2011

Usia Alam Semesta Dihitung Berdasarkan Dalil al-Qur`an

Apakah anda tahu berapa umur alam semesta yang kita huni saat ini? Dengan mempergunakan dalil-dalil ayat-ayat suci al-Qur`an kita dapat menghitung usia dari alam semesta ini.

Mohammad Asadi dalam bukunya, The Grand Unifying Theory of Everything, menyatakan bahwa umur alam semesta itu 17-20 milyar tahun. Sementara Profesor Jean Claude Batelere berpendapat  bahwa umur semesta sekitar 18 milyar tahun. Sedangkan teori NASA mengeluarkan data umur semesta itu berada di pada kisaran 12-18 milyar tahun.

Sebagaimana diketahui, selama ini para ilmuwan dengan segala peralatan canggihnya dan ilmu 'tingginya' berusaha menguak berapa umur semesta. Sebenarnya, misteri tersebut sudah tertera di dalam al-Qur`an dengan sangat jelas. Mari kita telaah dari sini:

(1) Berdasarkan informasi Al Qur’an, keberadaan alam dunia tidak lebih dari 1 hari. Ini termuat dalam al-Qur`an,

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ إِذْ يَقُوْلُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيْقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا يَوْماً

"Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya  di antara mereka, “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja." Q.S. Thaha (20) : 104

(2) Sehari langit sama artinya dengan 1.000 tahun perhitungan manusia.

وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّوْنَ

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." Q.S. Al-Hajj (22) : 47

(3) Sehari kadarnya 50.000 tahun.

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوْحُ إِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun." Q.S. Al-Ma'arij (70) : 4

Bila 1 tahun hitungan manusia adalah 365,2422 hari, maka sehari langit diperoleh: 365,2422 x 50.000 x 1.000 x 1 diperoleh 18,26 milyar tahun. Hasil perhitungan 18.26 milyar tahun itu secara kebetulan hampir sama dengan yang dihitung oleh para ilmuwan yang saya sebutkan di atas. Artinya tidak ada yang sulit dimata Allah SWT selagi manusia mau berpikir. Persoalan sains dan iptek dapat digali dan dijawab oleh al-Quran dengan begitu mudah. Itulah salah satu alasan mengapa al-Qur`an disebut sebagai petunjuk bagi manusia dan penerang atas kegelepan, pemberi obat bagi yang sakit, pemberi ketenteraman jiwa yang tidak pernah damai, kitab suci yang tidak pernah ada kadaluarsa dalam judul dan bahasan, selalu elastis dalam tiap sendi kehidupan manusia, bisa diterima dalam tiap kondisi bangsa yang berbeda tingkat umur yang berbeda, suku yang berbeda, negara yang berbeda, serta pas dalam kondisi apapun alias UNIVERSAL. Wallahu a'lam.

»»  Baca selengkapnya...

Selasa, 01 November 2011

Bayi-bayi ke-7 Miliar di Dunia

Menurut PBB, Senin (31/10/2011) menjadi tanda sebuah tonggak baru populasi umat manusia di dunia terjadi. Jumlah umat manusia di dunia akan melebihi 7 miliar jiwa, mulai hari ini.

Seperti dilansir Time, para pejabat PBB menganugerahkan kehormatan simbolik kepada seorang bayi menandai manusia ketujuh miliar di dunia kepada Danica Camacho. Bayi mungkil ini lahir di Manila, Filipina. Camile Galura, nama manusia ketujuh miliar ini yang kepadanya dirayakan lahirnya sejarah baru dunia.

Time juga mencatat manusia ketujuh miliar adalah bayi yang juga lahir Senin (31/10/2011) di Louisville, Colorado, Amerika Serikat. Cin demikian nama bayi yang berada dalam dekapan hangat Miran ibunya, yang lahir di rumah sakit Advent Avista di Louisville, Colorado dekat Denver pada pukul 02:41 waktu setempat.

Selain itu, di Hefei, China, juga tercatat para perawat menunjukkan bayi baru lahir di sebuah rumah sakit di Hefei, provinsi Anhui, Cina, pada hari yang sama.

Pun demikian dengan bayi yang lahir di Tegucigalpa, Honduras. Tampak seorang dokter anak mengukur kepala Linda Abigail, anak ketiga dari Lourdes Suyapa Rodriguez, setelah ia lahir pukul 00.20, di Escuela rumah sakit di Tegucigalpa, Honduras.

Demikian pula di Karachi, Pakistan. Ibu Sakeena Khatoon juga baru saja melahirkan bayinya yang lahir pada Senin 31 Oktober 2011 di sebuah rumah sakit lokal di Karachi, Pakistan.

Lebih lanjut juga di Kolombo, Sri Lanka, tampak orangtua dan kerabat memegang bayi yang baru lahir di Castle, rumah sakit di Kolombo, Sri Lanka, Senin, 31 Oktober, 2011. Bayi itu bernama, Oishee.

Di Moskow, Rusia, seorang bayi juga terlihat baru dilahirkan di pusat kota Moskow. Sama pula dengan bayi yang lahir pada hari yang sama di kota Mal, India. Bayi itu adalah anak Vinita Yadav, 23 tahun. Tampak sang ibu memegang bayinya bernama Nargis, bayi perempuan, yang lahir pada pukul 07:20 waktu setempat, di pinggiran kota Lucknow, India utara, 31 Oktober 2011.

Tbilisi, Georgia juga menjadi kota sejarah dimana Seorang ibu melahirkan bayinya di sebuah rumah sakit bersalin di Tbilisi, Georgia, 31 Oktober 2011.

Di kota Ankara, Turki, PBB juga merilis foto seorang anak bayi yang baru lahir di Turki. Bayi tersebut bernama Yusuf Efe, lahir di Rumah Sakit Bersalin Tahir Burak di Ankara Zekai, Turki, Senin pagi, 31 Oktober 2011.

»»  Baca selengkapnya...

Komentar