Photobucket

Laman

Tampilkan postingan dengan label al-Qur`an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label al-Qur`an. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

Bukti Bahwa Gunung Itu Bergerak

Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللهِ الَّذِيْ أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيْرٌ بِمَا تَفْعَلُوْنَ

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.” 
Qs. Al-Naml (27) : 88.

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah SWT telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al-Qur`an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al-Qur`an.

»»  Baca selengkapnya...

Jumat, 04 November 2011

Usia Alam Semesta Dihitung Berdasarkan Dalil al-Qur`an

Apakah anda tahu berapa umur alam semesta yang kita huni saat ini? Dengan mempergunakan dalil-dalil ayat-ayat suci al-Qur`an kita dapat menghitung usia dari alam semesta ini.

Mohammad Asadi dalam bukunya, The Grand Unifying Theory of Everything, menyatakan bahwa umur alam semesta itu 17-20 milyar tahun. Sementara Profesor Jean Claude Batelere berpendapat  bahwa umur semesta sekitar 18 milyar tahun. Sedangkan teori NASA mengeluarkan data umur semesta itu berada di pada kisaran 12-18 milyar tahun.

Sebagaimana diketahui, selama ini para ilmuwan dengan segala peralatan canggihnya dan ilmu 'tingginya' berusaha menguak berapa umur semesta. Sebenarnya, misteri tersebut sudah tertera di dalam al-Qur`an dengan sangat jelas. Mari kita telaah dari sini:

(1) Berdasarkan informasi Al Qur’an, keberadaan alam dunia tidak lebih dari 1 hari. Ini termuat dalam al-Qur`an,

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ إِذْ يَقُوْلُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيْقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا يَوْماً

"Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya  di antara mereka, “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja." Q.S. Thaha (20) : 104

(2) Sehari langit sama artinya dengan 1.000 tahun perhitungan manusia.

وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّوْنَ

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." Q.S. Al-Hajj (22) : 47

(3) Sehari kadarnya 50.000 tahun.

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوْحُ إِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun." Q.S. Al-Ma'arij (70) : 4

Bila 1 tahun hitungan manusia adalah 365,2422 hari, maka sehari langit diperoleh: 365,2422 x 50.000 x 1.000 x 1 diperoleh 18,26 milyar tahun. Hasil perhitungan 18.26 milyar tahun itu secara kebetulan hampir sama dengan yang dihitung oleh para ilmuwan yang saya sebutkan di atas. Artinya tidak ada yang sulit dimata Allah SWT selagi manusia mau berpikir. Persoalan sains dan iptek dapat digali dan dijawab oleh al-Quran dengan begitu mudah. Itulah salah satu alasan mengapa al-Qur`an disebut sebagai petunjuk bagi manusia dan penerang atas kegelepan, pemberi obat bagi yang sakit, pemberi ketenteraman jiwa yang tidak pernah damai, kitab suci yang tidak pernah ada kadaluarsa dalam judul dan bahasan, selalu elastis dalam tiap sendi kehidupan manusia, bisa diterima dalam tiap kondisi bangsa yang berbeda tingkat umur yang berbeda, suku yang berbeda, negara yang berbeda, serta pas dalam kondisi apapun alias UNIVERSAL. Wallahu a'lam.

»»  Baca selengkapnya...

Sabtu, 22 Oktober 2011

Mengenal Surat-surat Makkiyah dan Madaniyah

PENGERTIAN MAKKIYAH DAN MADANIYAH SERTA YANG PERKARA BERKAITAN DENGANNYA

Cara menentukan Makkiyah dan Madaniyah
Untuk mengetahui dan menentukan makkiyah dan madaniyah para ulama bersandar pada dua cara utama. Manhaj simâ'i naqli (metode pendengaran seperti apa adanya) dan Manhaj qiyâsi ijtihâdi (menganalogikan dan ijtihad).
  1. Cara simâ'i naqli: didasarkan pada riwayat sahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu atau dari para tabi'in yag menerima dan mendengar dari para sahabat bagaimana, dimana, dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu. Sebagian besar penentuan makkiyah dan madaniyah itu didasarkan pada cara pertama. Dan contoh-contoh diatas adalah bukti paling baik baginya. Penjelasan tentang penentuan tersebut telah memenuhi kitab-kitab tafsir bi al-ma`tsûr. Kitab asbabun nuzul dan pembahasan-pembahasan mengenai ilmu-ilmu Qur`an.
  2. Cara qiyâsi ijtihadi: didasarkan pada ciri-ciri makkiyah dan madaniyah. Apabila dalam surah makkiyah terdapat suatu ayat yang mengandung ayat madaniyah atau mengandung persitiwa madani, maka dikatakan bahwa ayat itu madaniyah dan sebaliknya. Bila dalam satu surah terdapat ciri-ciri makki, maka surah itu dinamakan surah makkiyah dan sebaliknya. Inilah yang disebut qiyâs ijtihâdi.
Perbedaan Makkiyah dan Madaniyah
Untuk membedakan makkiyah dan madaniyah, para ulama mempunyai tiga cara pandangan yang masing-masing mempunyai dasarnya sendiri.1) Dari segi waktu turunnya. Makkiyah adalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di Makkah. Madaniyah adalah yang turun sesudah hijrah meskipun bukan di Madinah. Yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di Makkah atau Arafah adalah madaniyah seperti ayat yang diturunkan pada tahun penaklukan kota makkah, 

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوْا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.” (Q.S. al-Nisa` [4] : 58)

Ayat ini diturunkan di Mekkah dalam Ka'bah pada tahun penaklukan kota Makkah. Pendapat ini lebih baik dari kedua pendapat berikut. Karena ia lebih memberikan kepastian dan konsisten.

2) Dari segi tempat turunnya. Makkiyah adalah yang turun di Makkah dan sekitarnya seperti Mina, Arafah, dan Hudaibiyah. Sedangkan Madaniyah ialah yang turun di Madinah dan sekitarnya seperti Uhud, Quba, dan Sil`. Pendapat ini mengakibatkan tidak adanya pembagian secara konkrit yang mendua. Oleh karenanya, yang turun dalam perjalanan, di Tabukh, atau di Baitul Maqdis tidak termasuk ke dalam salah satu bagiannya, sehingga ia tidak dinamakan makkiyah ataupun madaniyah. Juga mengakibatkan apa yang diturunkan di Makkah sesudah hijrah disebut makkiyah.

3) Dari segi sasaran pembicaraan. Makkiyah adalah yang seruannya ditujukan kepada penduduk Makkah dan madaniyah ditujukan kepada penduduk Madinah. Berdasarkan pendapat ini, para pendukungnya menyatakan bahwa ayat al-Qur`an yang mengandung seruan, "yâ ayyuhânnâs" (wahai manusia) adalah makkiyah, sedang ayat yang mengandung seruan, "yâ ayyuhâlladzîna âmanû" (wahai orang-orang yang beriman) adalah madaniyah. Namun melalui pengamatan cermat, nampak bagi kita bahwa kebanyakan surah al-Qur`an tidak selalu dibuka dengan salah satu seruan itu, dan ketentuan demikian pun tidak konsisten. Misalnya surah al-Baqarah itu madaniyah, tetapi di dalamnya terdapat ayat makkiyah.

A. MAKKIYAH
Ketentuan dan Ciri Khas Makkiyah
Para ulama telah meneliti surah-surah makkiyah dan madaniyah, menyimpulkan beberapa ketentuan analogis bagi keduanya yang menerangkan ciri-ciri khas gaya bahasa dan persoalan-persoalan yang dibicarakannya. Dari situ mereka dapat menghasilkan kaedah-kaedah dengan ciri-ciri tersebut.
Ketentuan Surah Makkiyah:
  • Setiap surah yang didalamnya mengandung "sajdah" maka surah itu makkiyah.
  • Setiap surah yang mengandung lafaz "kallâ" berarti makkiyah. Lafaz ini hanya terdapat dalam separuh terakhir dari al-Qur`an dan disebutkan sebanyak tiga puluh tiga kali dalam lima belas surah.
  • Setiap surah yang mengandung "yâ ayyuhannâs" dan tidak mengandung "yâ ayyuhâlladzîna âmanû", berarti makkiyah. Kecuali surah al-Hajj yang pada akhir surah terdapat ayat "yâ ayyuhâlladzîna âmanûr ka'û wasjudû". Namun demikian sebagian besar ulama berpendapat bahwa ayat tersebut adalah makkiyah.
  • Setiap surah yang menngandung kisah para nabi umat terdahulu adalah makkiyah, kecuali surah al-Baqarah.
  • Setiap surah yang mengandung kisah Adam dan iblis adalah makkiyah, kecuali surat al-Baqarah.
  • Setiap surah yang dibuka dengan huruf-huruf singkatan seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra, Ha Mim dll, adalah makkiyah, kecuali surah al-Baqarah dan Alu 'Imran, sedang surah al-Ra'd masih diperselisihkan.
Tema dan Gaya Bahasa Surah Makkiyah
Dari segi ciri tema dan gaya bahasa, ayat makkiyah dapatlah diringkas sebagai berikut :
  • Ajakan kepada tauhid dan beribadah hanya kepada Allah, pembuktian mengenai risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat dan kengeriannya, neraka dan siksanya, surga dan nikmatnya, argumentasi dengan orang musyrik dengan menggunkan bukti-bukti rasional dan ayat-ayat kauniah.
  • Peletakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan ahlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat, dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim secara zalim. Penguburan hidup-hidup bayi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
  • Menyebutkan kisah para nabi dan umat-umat terdahulu sebagai pelaran bagi mereka sehingga megetahui nasib orang yang mendustakan sebelum mereka, dan sebagai hiburan buat Rasulullah SAW sehingga ia tabah dalam mengadapi gangguan dari mereka dan yakin akan menang.
  • Suku katanya pendek-pendek disertai kata-kata yang mengesankan sekali, pernyataannya singkat, ditelinga terasa menembus dan terdengar sangat keras. Menggetarkan hati, dan maknanya pun meyakinkan dengan diperkuat lafal-lafal sumpah, seperti surah-surah yang pendek-pendek dan perkecualiannya hanya sedikit.

B. MADANIYAH
Ketentuan Surah Madaniyah
  • Setiap surah yang berisi kewajiban atas had (sanksi) adalah madaniyah.
  • Setiap surah yang di dalamnya disebutkan orang-orang munafik adalah madaniyah, kecuali surah al-Ankabut adalah makkiyah.
  • Setiap surah yang di dalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab adalah madaniyah.
Tema dan Gaya Bahasa surat Madaniyah
Dari segi ciri khas, tema dan gaya bahasa, dapatlah diringkaskan sebagai berikut :
  • Menjelaskan ibadah, muamalah, had, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan sosial, hubungan internasiaonal baik di waktu damai maupun perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan.
  • Seruan terhadap ahli kitab, dari kalangan yahudi dan nasrani. Dan ajakan kepada mereka untuk masuk Islam, penjelasan mengenai penyimpangan mereka, terhadap kitab-kitab Allah, permusuhan mereka terhadap kebenaran, dan perselisihan mereka setelah ilmu datang kepada mereka karena rasa dengki di antara sesama mereka.
  • Menyingkap perilaku orang munafik, menganalisi kejiwaannya, membuka kedoknya, dan menjelaskan bahwa ia berbahaya bagi agama.
  • Suku kata dan ayat-ayatnya panjang-panjang dan dengan gaya bahasa yang memantapkan syariat serta menjelaskan tujuan dan sasarannya.

SURAH-SURAH MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Surah-surah makiyah dan madaniah yang sah ada 20 surah:
01. Al-Baqarah 
02. Alu 'Imran
03. Al-Nisa'
04. Al-Ma`idah
05. Al-Anfal
06. Al-Taubah
07. Al-Nur
08. Al-Ahzab
09. Muhammad
10. Al-Fath
11. Al-Hujrat
12. Al-Hadid
13. Al-Mujadilah
14. Al-Hasyr
15. Al-Mumtahinah
16. Al-Jumu'ah
17. Al-Munafiqun
18. Al-Thalaq
19. Al-Tahrim
20. Al-Nasr

Dan ada perbedaan pendapat pada 12 surah tersebut:
01. Al-Fatihah
02. Al-Ra'd
03. Al-Rahman
04. Al-Shaff
05. Al-Taghabun
06. Al-Muthaffifin
07. Al-Qadar
08. Al-Bayyinah
09. Al-Zalzalah
10. Al-Ikhlas
11. Al-Falaq
12. Al-Nas

Nama-nama Surat Makkiyah Berdasarkan Urutan Turunnya (Menurut Sebagian Besar Ulama)
01. Al-'Alaq
02. Al-Qalam
03. Al-Muzammil
04. Al-Muddatstsir
05. Al-Fatihah
06. Al-Lahab
07. Al-Takwir
08. Al-A'la
09. Al-Lail
10. Al-Fajr
11. Al-Dhuha
12. Al-Insyirah
13. Al-'Ashr
14. Al-'Adiyat
15. Al-Kautsar
16. Al-Takatsur
17. Al-Ma'un
18. Al-Kafirun
19. Al-Fil
20. Al-Falaq
21. Al-Nas
22. Al-Ikhlas
23. Al-Najm
24. 'Abasa
25. Al-Qadar
26. Al-Syams
27. Al-Buruj
28. Al-Tin
29. Al-Quraisy
30. Al-Qari'ah
31. Al-Qiyamah
32. Al-Humazah
33. Al-Mursalah
34. Qaf
35. Al-Balad
36. Al-Thariq
37. Al-Qamar
38. Shad
39. Al-A'raf
40. Al-Jin
41. Yasin
42. Al-Furqan
43. Fathir
44. Maryam
45. Thaha
46. Al-Waqi'ah
47. Al-Syura
48. Al-Naml
49. Al-Qashash
50. Al-Isra
51. Yunus
52. Hud
53. Yusuf
54. Al-Hijr
55. Al-An'am
56. Al-Shaffat
57. Luqman
58. Saba`
59. Al-Zumar
60. Ghafir
61. Fushshilat
62. Al-Syura
63. Al-Zukhruf
64. Al-Dukhan
65. Al-Jatsiyah
66. Al-Ahqaf
67. Al-Dzariyat
68. Al-Ghasyiyah
69. Al-Kahf
70. Al-Nahl
71. Nuh
72. Ibrahim
73. Al-Anbiya
74. Al-Mu`minun
75. Al-Sajdah
76. Al-Thur
77. Al-Mulk
78. Al-Haqqah
79. Al-Ma'arij
80. Al-Naba`
81. Al-Nazi'at
82. Al-Infithar
83. Al-Insyiqaq
84. Al-Rum
85. Al-'Ankabut
86. Al-Muthaffifin
87. Al-Zalzalah
88. Al-Ra'd
89. Al-Rahman
90. Al-Insan
91. Al-Bayyinah

Turunnya surah-surah Makiyyah lamanya 12 tahun, 5 bulan, 13 hari, dimulai pada 17 Ramadhan 40 tahun usia Nabi (Februari 610 M).

Nama-nama Surah Madaniyah Berdasarkan Urutan Turunnya (Menurut Sebagian Besar Ulama)
01. Al-Baqarah
02. Al-Anfal
03. Alu 'Imran
04. Al-Ahzab
05. Al-Mumtahanah
06. Al-Nisa'
07. Al-Hadid
08. Al-Qital
09. Al-Thalaq
10. Al-Hasyr
11. Al-Nur
12. Al-Hajj
13. Al-Munafiqun
14. Al-Mujadilah
15. Al-Hujurat
16. Al-Tahrim
17. Al-Taghabun
18. Al-Shaf
19. Al-Jumu'ah
20. Al-Fath
21. Al-Ma`idah
22. Al-Taubah
23. Al-Nas

FAEDAH MENGETAHUI MAKKIYAH DAN MADANIYAH
Pengetahuan tentang makkiyah dan madaniyah banyak faedahnya, diantaranya:
  1. Untuk dijadikan alat bantu dalam menafsirkan al-Qur`an, Sebab pengetahuan mengenai tempat turun ayat dapat membantu memahami ayat tersebut dan menafsirkannya dengan tafsiran yang benar. Sekalipun yang menjadi pegangan adalah pengertian umum lafadz, bukan sebab yang khusus. Berdasarkan hal itu seorang penafsir dapat membedakan antara ayat yang nasikh dengan yang mansukh, bila diantara kedua ayat terdapat makna yang kontradiktif. Yang datang kemudian tentu merupakan nasikh yang tedahulu.
  2. Untuk meresapi gaya bahasa Quran dan memanfaatkannya dalam metode dakwah menuju jalan Allah. Sebab setiap situasi mempunyai bahasa tersendiri. Memperhatikan apa yang dikehendaki oleh situasi merupakan arti peling khusus dalam retorika. Karakteristik gaya bahasa makkiyah dan madaniyah dalam Quran pun memberikan kepada orang yang mempelajarinya sebuah metode dalam penyampaian dakwah ke jalan Allah yang sesuai dengan kejiwaan lawan berbicara dan menguasai pikiran dan perasaaannya serta menguasai apa yang ada dalam dirinya dengan penuh kebijaksanaan.
  3. Untuk mengetahui sejarah hidup Nabi melalui ayat-ayat al-Qur`an. Sebab turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW sejalan dengan sejarah dakwah dengan segala peristiwanya, baik dalam periode mekkah maupun madinah. Sejak permulaan turun wahyu hingga ayat terakhir diturunkan. Al-Qur`an adalah sumber pokok bagi peri hidup Rasulullah SAW, peri hidup beliau yang diriwayatkan para ahli sejarah harus sesuai denga al-Quran; dan al-Qur`an pun memberikan kata putus terhadap perbedaan riwayat yang mereka riwayatkan.
»»  Baca selengkapnya...

Sabtu, 15 Oktober 2011

11 Cerita untuk Menghafal Nama-nama Surat al-Qur`an Secara Berurutan

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Cerita ke-1 (Surat 1 - 10) :

Dalam acara PEMBUKAAN, saya menyembelih SAPI BETINA milik KELUARGA ‘IMRAN. Sementara itu, PARA WANITA sedang menyediakan HIDANGAN untuk BINATANG TERNAK yang kandangnya berada di TEMPAT-TEMPAT YANG TINGGI, lalu dibagikan sebagai HARTA RAMPASAN PERANG bagi orang yang TAUBAT seperti taubat Nabi YUNUS.

Nama Surat:
001. Pembukaan = AL-FÂTIHAH
002. Sapi Betina = AL-BAQARAH
003. Keluarga Imran = ÂLU ‘IMRÂN
004. Para Wanita = AL-NISÂ`
005. Hidangan = AL-MÂ`IDAH
006. Binatang Ternak = AL-AN’ÂM
007. Tempat-tempat yang Tinggi = AL-A’RÂF
008. Harta Rampasan Perang = AL-ANFÂL
009. Taubat = AL-TAUBAH
010. Yunus = YÛNUS

***

Cerita ke-2 (surat 11 - 20) :

HUD dan YUSUF berlindung dari PETIR, sedangkan IBRAHIM naik ke PEGUNUNGAN HIJR tempat dimana para LEBAH memulai PERJALANAN MALAM menuju ke GUA tempat MARYAM dan THOHA bersembunyi.

Nama Surat:
011. Hud = HÛD
012. Yusuf = YÛSUF
013. Petir = AL-RA’D
014. Ibrahim = IBRÂHÎM
015. Pegunugan Hijr = AL-HIJR
016. Lebah = AL-NAHL
017. Perjalanan Malam = AL-ISRÂ`
018. Gua = AL-KAHFI
019. Maryam = MARYAM
020. Thoha = THÂHÂ

***

Cerita ke-3 (Surat 21 - 30) :

PARA NABI melaksanakan HAJI diikuti ORANG-ORANG BERIMAN yang berpakaian ihram putih laksana CAHAYA sebagai PEMBEDA ANTARA YANG HAQ DAN BATHIL seperti cerita PARA PENYAIR tentang SEMUT dalam kitab KISAH-KISAH dan juga tentang LABA-LABA di zaman BANGSA ROMAWI.

Nama Surat:
021. Para Nabi = AL-ANBIYÂ`
022. Haji = AL-HAJJ
023. Orang-orang Beriman = AL-MU`MINÛN
024. Cahaya = AL-NÛR
025. Pembeda antara yang Haq dan Bathil = AL-FURQÂN
026. Para Penya'ir = AL-SYU’ARÂ`
027. Semut = AL-NAML
028. Kisah-kisah = AL-QASHASH
029. Laba-laba = AL-‘ANKABÛT
30. Bangsa Romawi = AL-RÛM

***

Cerita ke-4 (Surat 31 - 40) :

LUKMAN rajin SUJUD, tetapi sebaliknya GOLONGAN YANG BERSEKUTU dan KAUM SABA tidak beriman kepada Sang PENCIPTA. Surat YASIN banyak dibaca oleh orang YANG BERSHAF-SHAF membentuk huruf SHOD, yakni ROMBONGAN-ROMBONGAN, dari kalangan ORANG YANG BERIMAN / seraya berdo'a kepada YANG MAHAPENGAMPUN.

Nama Surat:
031. Lukman = LUQMÂN
032. Sujud = AL-SAJDAH
033. Golongan yang Bersekutu = AL-AHZÂB
034. Kaum Saba` = SABA`
035. Pencipta = FÂTHIR
036. Yasin = YÂSÎN
037. Yang Bershaf-shaf = AL-SHÂFFÂT
038. Shod = SHÂD
039. Rombongan-rombongan = AL-ZUMAR
040. Orang yang Beriman / Yang Mahapengampun = AL-MU`MIN / GHÂFIR

***

Cerita ke-5 (Surat 41 - 50) :

YANG DIJELASKAN dalam MUSYAWARAH itu adalah tentang hukum PERHIASAN, bukan tentang KABUT yang membuat orang YANG BERLUTUT terdampar di BUKIT-BUKIT PASIR. Hal ini menjadikan MUHAMMAD memperoleh KEMENANGAN, kemudian ia masuk ke dalam KAMAR-KAMAR yang bertuliskan huruf QOF.

Nama Surat :
041. Yang Dijelaskan = FUSHILAT
042. Musyawarah = AL-SYÛRÂ
043. Perhiasan = AL-ZUKHRUF
044. Kabut = AL-DUKHÂN
045. Yang Berlutut = AL-JÂTSIYAH
046. Bukit-bukit Pasir = AL-AHQÂF
047. Muhammad = MUHAMMAD
048. Kemenangan = AL-FATH
049. Kamar-kamar = AL-HUJURÂT
050. Qof = QÂF

***

Cerita ke-6 (Surat 51 - 60) :

ANGIN YANG MENERBANGKAN bertiup ke arah BUKIT saat BINTANG dan BULAN bersinar sebagai pertanda YANG MAHAPEMURAH akan mendatangkan HARI KIAMAT yang melumerkan BESI pada saat WANITA YANG MENGAJUKAN GUGATAN mengalami PENGUSIRAN, sehingga membuatnya menjadi PEREMPUAN YANG DIUJI.

Nama Surat:
051. Angin yang Menerbangkan = AL-DZÂRIYÂT
052. Bukit = AL-THÛR
053. Bintang = AL-NAJM
054. Bulan = AL-QAMAR
055. Yang Mahapemurah = AL-RAHMÂN
056. Hari Kiamat = AL-WÂQI’AH
057. Besi = AL-HADÎD
058. Wanita yang Mengajukan Gugatan = AL-MUJÂDILAH
059. Pengusirah = AL-HASYR
060. Perempuan yang Diuji = AL-MUMTAHANAH

***

Cerita ke-7 (Surat 61 - 70) :

BARISAN orang beriman pada HARI JUM’AT berbeda dengan ORANG-ORANG MUNAFIK, saat HARI DITAMPAKAN KESALAHAN-KESALAHAN orang yang suka TALAK dalam pernikahan. Dan Allah MENGHARAMKAN pelimpahan KERAJAAN secara tertulis dengan PENA pada HARI KIAMAT, yang tidak ada lagi TEMPAT-TEMPAT NAIK bagi amal sholih.

Nama Surat:
061. Barisan = AL-SHAFF
062. Hari Jum'at = AL-JUMU’AH
063. Orang-orang Munafik = AL-MUNÂFIQÛN
064. Hari Ditampakkan Kesalahan-kesalahan = AL-TAGHÂBUN
065. Talak = AL-THALÂQ
066. Mengharamkan = AL-TAHRÎM
067. Kerajaan = AL-MULK
068. Pena = AL-QALAM
069. Hari Kiamat = AL-HÂQQAH
070. Tempat-tempat Naik = AL-MA’ÂRIJ

***

Cerita ke-8 (Surat 71 - 80) :

NUH diganggu JIN saat ORANG YANG BERSELIMUT dan ORANG YANG BERKEMUL tertidur pulas dan tidak menyadari datangnya KIAMAT. Saat itu MANUSIA didatangi oleh MALAIKAT YANG DIUTUS menyampaikan BERITA BESAR tentang kematian yang dibawa oleh MALAIKAT - MALAIKAT YANG MENCABUT nyawa seraya IA BERMUKA MASAM.

Nama Surat:
071. Nuh = NÛH
072. JIN = AL-JINN
073. Orang yang Berselimut = AL-MUZAMMIL
074. Orang yang Berkemul = AL-MUDATSTSIR
075. Kiamat = AL-QIYÂMAH
076. Manusia = AL-INSÂN
077. Malaikat yang Diutus = AL-MURSALÂT
078. Berita Besar = AL-NABA`
079. Malaikat-malaikat yang mencabut = AL-NÂZI’ÂT
080. Ia Bermuka Masam = ‘ABASA

***

Cerita ke-9 (Surat 81 - 90) :

Gempa MENGGULUNG bumi hingga TERBELAH dan ORANG-ORANG YANG CURANG pun ikut TERBELAH hancur lebur ke dalam GUGUSAN BINTANG. Diantaranya adalah bintang YANG DATANG DI MALAM HARI atas kuasa YANG PALING TINGGI. Dan pada HARI PEMBALASAN tidak akan muncul FAJAR di NEGERI manapun.

Nama Surat:
081. Menggulung = AL-TAKWÎR
082. Terbelah = AL-INFITHÂR
083. Orang-orang yang Curang = AL-MUTHAFFIFÎN
084. Terbelah = AL-INSYIQÂQ
085. Gugusan Bintang = AL-BURÛJ
086. Yang Datang di Malam Hari = AL-THÂRIQ
087. Yang Paling Tinggi = AL-A’LÂ
088. Hari Pembalasan = AL-GHÂSYIYAH
089. Fajar = AL-FAJR
090. Negeri = AL-BALAD

***

Cerita ke-10 (Surat 91 - 99) :

MATAHARI terbenam saat MALAM tiba hingga datang WAKTU DHUHA. Lalu Allah MELAPANGKAN rizki serta menumbuhkan BUAH TIN untuk manusia yang berasal dari SEGUMPAL DARAH tanpa KEMULIAAN sedikit pun, sebagai BUKTI akan terjadi KEGONCANGAN dunia akibat KUDA PERANG YANG BERLARI KENCANG.

Nama Surat:
091. Matahari = AL-SYAMS
092. Malam = AL-LAIL
093. Waktu Dhuha = AL-DHUHÂ
094. Melapangkan = AL-INSYIRÂH
095. Buah Tin = AL-TÎN
096. Segumpal Darah = AL-‘ALAQ
097. Kemuliaan - AL QADAR
098. Bukti = AL-BAYYINAH
099. Kegoncangan = AL-ZALZALAH
100. Kuda Perang yang Berlari Kencang = AL-‘ÂDIYÂT

***

Cerita ke-11 (Surat 100-114) :

Pada HARI KIAMAT, tidak ada lagi waktu untuk BERMEGAH-MEGAHAN. Pada MASA itu si PENGUMPAT diinjak-injak oleh GAJAH milik SUKU QURAISY tanpa menyisakan BARANG-BARANG YANG BERGUNA sedikit pun, apalagi NIKMAT YANG BANYAK. Seluruh ORANG-ORANG KAFIR tidak mendapat PERTOLONGAN Allah dari GEJOLAK API yang membakar, karena mereka tidak TULUS dalam MEMURNIKAN KEESAAN ALLAH di WAKTU SUBUH kala MANUSIA yang bertaqwa melaksanakan ibadah.

Nama Surat:
101. Hari Kiamat = AL-QÂRI’AH
102. Bermegah-megahan = AL-TAKÂTSUR
103. Masa = AL-‘ASHR
104. Pengumpat = AL-HUMAZAH
105. Gajah = AL-FÎL
106. Suku Quraisy = AL-QURAISY
107. Barang-barang yang Berguna = AL-MÂ’ÛN
108. Nikmat yang Banyak = AL-KAUTSAR
109. Orang-orang Kafir = AL-KÂFIRÛN
110. Pertolongan = AL-NASHR
111. Gejolak Api - AL-LAHAB
112. Tulus / Memurnikan Keesaan Allah = AL-IKHLÂSH
113. Waktu Shubuh = AL-FALAQ
114. Manusia = AL-NÂS
»»  Baca selengkapnya...

Senin, 03 Oktober 2011

Kehancuran Israel dan Geliat Palestina

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Isra Mi'raj merupakan peristiwa bersejarah dalam sejarah peradaban Islam. Itu adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Yerusalem, dilanjutkan dengan kenaikan beliau menuju Sidratul Muntaha, lalu kembali ke tempat semula dalam waktu yang begitu singkat. Sebuah kisah pertemuan seorang hamba dengan Penciptanya yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya sampai kapanpun.

Anehnya, peristiwa langka ini dapat ditemukan dalam al-Qur`an hanya dalam satu ayat saja dan kurang dari 30 kata!

سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَي الْمَسْجِدِ الْأَقْصَا الَّذِيْ بَرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Mahamendengar lagi Mahamengetahui." (Q.S. Al-Isra [17] : 1)

Kehancuran Israel
Mengapa demikian? Mengapa ayat-ayat berikutnya justru bercerita tentang Bani Israil? Itulah pertanyaan besar yang terlintas dalam benak Bassam Nahad Jarrar, seorang penulis buku "Lenyapnya Israel di Tahun 2022 M; Ramalan al-Qur`an dan Otak Atik Gathuk" (judul asli: Zawâl Isrâ`îl) berkebangsaan Palestina. Menurutnya, tidaklah mungkin Allah swt menceritakan peristiwa agung ini dalam narasi yang sedemikian singkat dan lebih fokus pada peristiwa lain. Pasti ada rahasia yang tersembunyi di balik itu semua.

Penulis mencoba meneliti ayat 1-7 surat al-Isra. Di sana diceritakan bahwa Bani Israil akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali. Pada kerusakan yang pertama, mereka berhasil dihancurkan oleh pasukan yang lebih kuat hingga tercerai-berai. Setelah bersatu kembali, mereka kembali melakukan kerusakan untuk kedua kalinya yang juga berakhir pada kehancuran mereka.

Kapan kerusakan pertama dan kedua itu terjadi? Kerusakan pertama berlangsung tidak lama setelah kewafatan Nabi Sulaiman (935 SM), yakni ketika 12 suku Israil terpecah menjadi dua kubu. Sedangkan kerusakan kedua adalah pada saat israel mendirikan negara pada tahun 1948. Hal ini didasarkan pada makalah penulis Iraq bernama Syekh Muhammad Ahmad Arrosyid yang menceritakan seorang perempuan tua Yahudi yang datang kepadanya sewaktu negara Israel berdiri. Perempuan itu berkata, "Sesungguhnya berdirinya negara Yahudi ini akan menjadi sebab kebinasaan mereka."

Dari penelitian panjang dan njlimet dengan berdasarkan pada hitungan matematis, terutama pada perhitungan angka 19, hisab al-jummal (abajadun), dan perputaran komet Halley, tersebut akhirnya didapat kesimpulan bahwa Negara Israel akan hancur di tahun 2022 M. Inilah ramalan yang diungkapkan oleh Bassam Nahad Jarrar tentang kehancuran Negara Israel. Percaya atau tidak itu terserah Anda.

Geliat Palestina
Saat ini Palestina mulai menggeliat. Hal itu dapat terlihat dari proposal resmi yang mereka ajukan ke sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) melalui pemimpin otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, pada Jum'at, 23 September 2011, untuk keanggotaan penuh di PBB alias pendirian negara Palestina yang independen. Jika proposal ini diterima, maka Amerika dan Zionis Israel harus bersiap-siap menghadapi pengaduan atas berbagai kejahatan rezim mereka ke Pengadilan Internasional PBB (ICJ) dan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Untuk itu, mari kita dukung masyarakat Palestina untuk segera mendapatkan kebebasannya!
»»  Baca selengkapnya...

Senin, 26 September 2011

Diaspora Bani Israel: Perjalanan Menuju Tanah yang Dijanjikan

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Perbudakan kejam Fir'aun atas Bani Israel sepertinya tidak akan pernah berakhir. Ia menanamkan sistem kerja paksa selama ratusan tahun dalam setiap proyek pembangunan kota Mesir Kuno. Hingga akhirnya, muncullah seorang juru selamat yang membebaskan mereka dari perbudakan dan kembali menempatkan Israel sebagai ras unggulan di muka bumi ini. Dialah Musa (Moses) sang Messias.

Peristiwa pembebasan ini didokumentasikan dalam al-Qur`an dalam beberapa ayat yang tersebar di berbagai tempat. Tidak hanya itu, al-Qur`an pun mengisahkan bagaimana perjalanan Bani Israel pasca-pembebasan menuju tanah yang dijanjikan. Perjalanan yang sangat merepotkan dan berujung pada konflik eksistensial berkepanjangan antara Israel dan Palestina.

Menyembah Berhala
Setelah berhasil menyeberangi lautan dalam usaha menyelamatkan diri dari kejaran pasukan Fir'aun, Bani Israel bertemu dengan masyarakat pagan Mesir. Pertemuan ini mempengaruhi pemikiran dan melemahkan iman sejumlah orang dari mereka. Mereka sempat terbawa ajaran sesat kaum pagan itu sampai-sampai meminta Nabi Musa untuk membuat patung untuk disembah seperti halnya yang dilakukan oleh kaum pagan tersebut. Nabi Musa kemudian menjelaskan bahwa kaum itu adalah kaum terbelakang dan ajarannya akan dihancurkan oleh Allah. (QS. Al-A'raf [7] : 138-140)

Kemudian Bani Israel melanjutkan perjalanan menuju gunung Horeb. Menurut al-Qur`an, Allah telah mengadakan perjanjian dengan Bani Israel di sisi kanan gunung tersebut. Tidak sabar dengan janji Allah, Nabi Musa berangkat sendirian terlebih dahulu dan menyerahkan pengawasan kepada Nabi Harun. Beberapa hari setelah kepergian Nabi Musa, Bani Israil benar-benar terjerumus ke dalam paganisme dengan membuat patung anak sapi dari emas atas hasutan Musa al-Samiri, tokoh munafik mereka. Patung itu kemudian disembah layaknya tuhan, sedangkan Nabi Harun tidak bisa berbuat banyak.

Empat puluh hari kemudian, setelah Allah memberitahu penyimpangan kaumnya, Nabi Musa kembali dengan membawa 10 perintah dan larangan dari Allah yang tertulis pada lembaran (tabut) untuk diamalkan oleh Bani Israel (kitab Taurat). Melihat tingkah laku kaumnya, ia pun murka dan segera mengusir Samiri serta menghancurkan patung anak sapi emas tersebut. Lalu ia meminta Bani Israel untuk bertaubat dengan cara bunuh diri sesuai dengan syari'at Nabi Musa. Dengan cara itu, Allah pun bersedia mengampuni kesalahan mereka. (QS. Thaha [20] : 83-98)

Manna dan Salwa
Setelah meninggalkan Mesir, Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memimpin kaumnya menuju tanah yang telah lama Ia janjikan kepada Nabi Ibrahim untuk Bani Israil. Maka perjalanan menuju ke tanah yang dijanjikan itu pun segera dimulai. Agar tidak kepanasan, Allah memayungi mereka dengan awan. Dan agar tidak kelaparan di tengah perjalanan, setiap hari mereka disuguhi dua macam makan yang langsung diturunkan dari surga; manna dan salwa. Akan tetapi lama kelamaan mereka mengeluh bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja dan meminta makanan lainnya berupa sayur mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.

Nabi Musa merasa heran dengan selera rendah kaumnya yang mengganti manna dan salwa dengan makanan biasa. Nabi Musa pun memberi pilihan bahwa jika memang demikian yang diinginkan maka pergi saja ke kota, karena di sana tersedia apapun yang mereka inginkan tadi. (QS. Al-Baqarah [2] : 61)

Tanah yang Dijanjikan
Sesampainya di tanah yang dijanjikan, Bani Israel tetap menunjukkan sikap membangkang dan keras kepala. Mereka tidak mau masuk karena di dalamnya terdapat kaum Kana'an yang memang sudah menetap di sana jauh sebelum kedatangan mereka. Meskipun dirayu agar mau masuk ke tanah tersebut, mereka tetap menolak sebelum kaum Kana'an diusir terlebih dahulu.

Namun anehnya, Bani Israel tidak mau mengusir dengan kekuatan mereka sendiri karena melihat postur orang-orang Kana'an yang tidak mungkin mereka kalahkan. Akhirnya mereka meminta Nabi Musa dan Tuhannya untuk melakukan pengusiran, sedangkan mereka hanya menunggu hasilnya saja.

Kali ini kemarahan Nabi Musa sampai pada puncaknya. Beliau berdoa agar hubungannya dengan kaumnya tersebut diakhiri saja sampai di sini. Tidak hanya Nabi Musa, Allah pun murka lalu melarang Bani Israel untuk memasuki tanah yang dijanjikan itu selama 40 tahun lamanya. Dengan larangan itu, Bani Israel berpencar dan berkeliaran tak tentu arah di tengah padang pasir tanpa tanah air yang disebut dengan diaspora. (QS. Al-Ma`idah [5] : 25-26)
»»  Baca selengkapnya...

Komentar