Photobucket

Laman

Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2012

Bukti Bahwa Gunung Itu Bergerak

Dalam sebuah ayat, kita diberitahu bahwa gunung-gunung tidaklah diam sebagaimana yang tampak, akan tetapi mereka terus-menerus bergerak.

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللهِ الَّذِيْ أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيْرٌ بِمَا تَفْعَلُوْنَ

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Mahamengetahui apa yang kamu kerjakan.” 
Qs. Al-Naml (27) : 88.

Gerakan gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah SWT telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al-Qur`an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al-Qur`an.

»»  Baca selengkapnya...

Selasa, 03 April 2012

Empat Hal Sebelum Menyesal

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Apa kabar para blogger, khususnya para pengunjung blog saya? Sudah beberapa bulan lamanya saya tidak bersentuhan dengan blog tercinta ini. Bukannya lupa atau sengaja melupakan. Tetapi ini semata-mata karena persoalan waktu. Tapi bukan berarti sok sibuk, karena alasan kesibukan mungkin terlalu naif bagi orang biasa seperti saya. "Manajemen waktu", kira-kira begitulah maksudnya. Sebab diakui atau tidak, sampai sejauh ini saya masih belum bisa mengatur waktu dengan baik. Padahal waktu merupakan elemen penting bagi manusia untuk menentukan masa depannya.

Betapa vital peranan waktu, sampai-sampai dalam al-Qur`an Allah swt beberapa kali bersumpah atas nama waktu. Kita dapat menjumpainya di banyak tempat seperti di surat al-Lail, al-Fajr, al-Dhuha, dan al-'Ashr. Tidak hanya itu, matahari dan bulan yang merupakan sumber perputaran waktu pun dijadikan sebagai alat bersumpah.


Lama Namun Sebentar

Apakah waktu itu dan sejak kapan ia ada? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. 

Seiring dengan terciptanya alam semesta, waktu pun ikut hadir di dalamnya. Penelitian ilmiah menyatakan bahwa bumi diperkirakan telah berusia 4,54 milyar tahun yang lalu. Benar-benar angka yang fantastis! Angka tersebut juga menunjukkan bahwa umur dunia sudah sangat renta. Namun, di mata Rasulullah saw waktu di dunia ini begitu singkat. Dalam sabdanya beliau menyatakan,

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa urusanku dengan dunia. Di dunia ini, aku hanyalah bagaikan seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu.” (H.R. al-Tirmidzi)

Bayangkan! 4,54 milyar tahun yang telah dilalui oleh waktu tidak lain hanyalah persinggahan semata. Bagi seorang musafir, persinggahan tersebut merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya. Di sana ia harus memanfaatkan betul minimnya waktu yang ia miliki. Persinggahan tersebut bukan untuk berleha-leha, akan tetapi digunakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik agar perjalanan berikutnya dapat dilanjutkan hingga mencapai tujuan akhir yang diinginkan meskipun harus melalui berbagai macam rintangan.


Empat Hal Sebelum Menyesal

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh manusia dalam persinggahan dunia ini? Dan apa akibatnya jika tidak mematuhinya? Jawabannya tertera dalam surat al-'Ashr (103) : 1-3,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ إِلَّا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Ayat di atas merupakan petunjuk bagi manusia agar menggunakan waktunya setidaknya untuk empat hal saja; 1) beriman, 2) beramal saleh, 3) saling menasehati dalam kebenaran, dan 4) saling menasehati dalam kesabaran. Selain itu, ayat tersebut juga sekaligus memberi peringatan bahwa jika keempat hal tersebut tidak dijalankan dengan baik, maka kita akan menjadi manusia yang merugi.

Hanya saja, kebanyakan manusia lupa bahwa mereka tidak memiliki banyak waktu. Sehingga sesampainya di tempat tujuan tidak ada yang didapat kecuali penyesalan yang begitu mendalam seraya berangan agar mereka dapat dikembalikan ke masa silam untuk memperbaiki keteledorannya dahulu.

Bentuk penyesalan ini tercantum dalam al-Qur`an surat al-Fajr (89) : 23-24,

وَجِآيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى يَقُوْلُ يَا لَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْ

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.”

dan surat al-Naba` (78) : 40,

إِنَّآ أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرَابًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah.”

Penutup
Setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang layak baik di kehidupan dunia maupun di akhirat nanti. Semua itu bergantung pada seberapa pintar kita memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Sejatinya, kita dapat melakukannya jika disertai dengan penuh kesadaran bahwa waktu yang telah lewat tidak dapat kembali lagi. Dan itu artinya kita hanya memiliki satu kali kesempatan untuk singgah dan tidak ada tempat persinggahan lagi setelah ini.

Mulai dari sekarang, tentukan masa depan Anda. Lakukan empat hal atau Anda akan menyesal!
»»  Baca selengkapnya...

Jumat, 04 November 2011

Usia Alam Semesta Dihitung Berdasarkan Dalil al-Qur`an

Apakah anda tahu berapa umur alam semesta yang kita huni saat ini? Dengan mempergunakan dalil-dalil ayat-ayat suci al-Qur`an kita dapat menghitung usia dari alam semesta ini.

Mohammad Asadi dalam bukunya, The Grand Unifying Theory of Everything, menyatakan bahwa umur alam semesta itu 17-20 milyar tahun. Sementara Profesor Jean Claude Batelere berpendapat  bahwa umur semesta sekitar 18 milyar tahun. Sedangkan teori NASA mengeluarkan data umur semesta itu berada di pada kisaran 12-18 milyar tahun.

Sebagaimana diketahui, selama ini para ilmuwan dengan segala peralatan canggihnya dan ilmu 'tingginya' berusaha menguak berapa umur semesta. Sebenarnya, misteri tersebut sudah tertera di dalam al-Qur`an dengan sangat jelas. Mari kita telaah dari sini:

(1) Berdasarkan informasi Al Qur’an, keberadaan alam dunia tidak lebih dari 1 hari. Ini termuat dalam al-Qur`an,

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ إِذْ يَقُوْلُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيْقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا يَوْماً

"Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya  di antara mereka, “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja." Q.S. Thaha (20) : 104

(2) Sehari langit sama artinya dengan 1.000 tahun perhitungan manusia.

وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّوْنَ

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." Q.S. Al-Hajj (22) : 47

(3) Sehari kadarnya 50.000 tahun.

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوْحُ إِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun." Q.S. Al-Ma'arij (70) : 4

Bila 1 tahun hitungan manusia adalah 365,2422 hari, maka sehari langit diperoleh: 365,2422 x 50.000 x 1.000 x 1 diperoleh 18,26 milyar tahun. Hasil perhitungan 18.26 milyar tahun itu secara kebetulan hampir sama dengan yang dihitung oleh para ilmuwan yang saya sebutkan di atas. Artinya tidak ada yang sulit dimata Allah SWT selagi manusia mau berpikir. Persoalan sains dan iptek dapat digali dan dijawab oleh al-Quran dengan begitu mudah. Itulah salah satu alasan mengapa al-Qur`an disebut sebagai petunjuk bagi manusia dan penerang atas kegelepan, pemberi obat bagi yang sakit, pemberi ketenteraman jiwa yang tidak pernah damai, kitab suci yang tidak pernah ada kadaluarsa dalam judul dan bahasan, selalu elastis dalam tiap sendi kehidupan manusia, bisa diterima dalam tiap kondisi bangsa yang berbeda tingkat umur yang berbeda, suku yang berbeda, negara yang berbeda, serta pas dalam kondisi apapun alias UNIVERSAL. Wallahu a'lam.

»»  Baca selengkapnya...

Jumat, 21 Oktober 2011

Komentar-komentar Kontroversial Moammar Qaddafi tentang Ajaran Islam



Moammar Qaddafi ternyata tidak hanya kontroversial di dunia politik. Ia juga kerap melontarkan komentar-komentar pedas dan mencengangkan seputar ajaran Islam. Komentarnya dianggap tidak lazim bahkan menjurus kepada penyimpangan aqidah Islam. Oleh karenanya, Qaddafi juga disebut-sebut sebagai Musailamah Abad ini. Tak heran jika mayoritas umat Islam justru berbahagia atas kematian Qaddafi yang juga menandakan tumbangnya rezim otoriternya di Libya.
Berikut beberapa komentar kontrovesial Qaddafi seputar ajaran Islam:
1. Tentang Haji tahun 1400 H
Haji tahun 1400 H ini hanya merupakan permainan tepuk tangan dan siulan belaka sebagaimana pada zaman jahiliyyah. Karena itu, apa artinya haji tahun ini dan juga tahun-tahun selanjutnya jika pendudukan Amerika masih terus berlanjut di Baitullah Masjidil Haram?
(Khutbah Iedul Adha di kota Jadu 19 Oktober 1990)
2. Tentang Ka’bah
“Ka’bah adalah berhala terakhir yang masih tersisa di antara berhala-berhala lainnya”
(Pembukaan Majlis Ittihad Al Jami’at Al Arobiyyah di kota Benghazi 18 Februari 1990)
3. Tentang Melontar Jumrah
“Kalian semua melontar jamarat? Yang wajib saat ini bagi kalian adalah melempar Zionis yahudi di Palestina. Setiap seorang dari kita membawa tujuh batu lalu pergi ke Palestina dan melempar para Zionis itu. Inilah Jihad sesungguhnya, inilah melontar Jamarat yang sebenarnya. Apa artinya melontar tujuh batu ke arah sebuah tonggak? Inilah ganti dari melontar Jamarat, inilah Haji yang sebenarnya di zaman ini.”
(Pembukaan Muktamar II Qiyadah Sya’biyyah Al Alamiyyah di kota Benghazi Trablus 19 Maret 1990)
4. Tentang Hijab
“Hawa telanjang bulat tanpa sehelai benang. Siapa yang lebih tahu dibandingkan Allah? Allah menciptakan kita sejak awal seperti itu. Inilah fithrah kita. Kalau bukan karena setan, kita tidak memakai sehelai benang pun, bahkan meskipun sehelai daun blueberry (waraqah tuut). Setan lah yang menyebabkan kita harus memakai pakaian seperti ini. Sedangkan sebelum itu, secara naluriah kita ini telanjang. Hijab sendiri adalah hasil perbuatan setan karena hijab adalah bentuk lain dari daun blueberry, dan ini adalah hasil karya setan untuk mencegah kita dari kemerdekaan dan melangkah ke depan …. Tidak mungkin bagi wanita harus mengenakan hijab dan tinggal di rumah saja. … haram…… hijab adalah hijab maknawi.”
(Pidato di depan Parlemen Tunis 8 Desember 1988)
5. Tentang Khulafaur Rasyidin
“Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam berlepas diri dari para Khalifah sepeninggal beliau. Ali menjadi Khalifah, tetapi mengapa ia diperangi oleh setengah dari kaum muslimin? anak cucunya juga diperangi. Utsman tidak pantas sebagai Khalifah karena ia seorang aristokrat dan mengangkat kerabatnya sebagai pembantu-pembantunya. Ia telah menyebarkan nepotism ke seantero wilayah Islam sehingga ia dibunuh…
(Multaqo II Universitas dan Ma’had Aly di Trablus 30 Maret 1991)
6. Tentang Riba
“Sistem ekonomi adalah sistem yang sudah mendunia. Dunia Islam seluruhnya menerapkan sistem ini. Jika mereka semua menerapkannya, maka kita juga. Siapa yang bilang haram ? Tidak haram. Tidak benar bahwa sistem ekonomi dunia saat ini adalah haram.”
(Muktamar Wartawan se-dunia, 13 Juni 1973. Ini adalah jawaban atas pertanyaan seorang wartawan Reuter cabang Mesir tentang riba)
7. Tentang Hadits Nabi Shollallohu ‘alaihi wa Sallam (bukti bahwa Qaddafi adalah penganut Madzhab Ingkarus Sunnah)
“Jika ada seseorang berkata kepada kita, “Hadits Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Sallam harus kita muliakan dan kita hormati serta wajib disikapi sebagaimana kita bersikap terhadap Al Qur’an, INI ADALAH SYIRIK !!!! Mungkin ucapan saya ini kedengaran asing. Ini disebabkan saat ini kita sudah sangat jauh dari Islam, dan kita sedang berada di tengah jalan menuju penyembahan berhala dan menjauhkan kita dari Al Qur’an dan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka tidak ada jalan lain agar kita tidak terjerumus dalam penyembahan berhala dan penyimpangan yang sangat berbahaya kecuali dengan cara berpegang teguh kepada Al Qur’an saja dan beribadah kepada Allah semata.”
(Ceramah pada acara Maulid Nabi di Masjid Maulawi Muhammad di kota Trablus 19 Februari 1978)
8. Tentang Syari’ah Islam
“…… oleh karena itu Syari’ah Islam seharusnya cukup disikapi sebagai sebuah Madzhab Fiqh yang disusun oleh seseorang. Kedudukannya sama dengan undang-undang Romawi atau undang-undang Napoleon atau undang-undang lainnya yang disusun oleh para ahli hukum Perancis, Italia atau dari kaum muslimin ………………….. Maka siapa saja yang mempelajari undang-undang Romawi pasti akan menyimpulkan bahwa para ulama Islam menyusun undang-undang yang sangat mirip dengan undang-undang Romawi, akan tetapi mereka tidak mau mengakuinya. Mereka menyatakan bahwa ini adalah Agama (syari’ah Islam).”
(Pertemuan ramah tamah dengan para huffadz Al Qur’an di kota Trablus 3 Juni 1978)
9. Tentang Pengakuannya Sebagai Nabi
Dalam sebuah wawancara dengan Mirella Bianco, seorang wartawati dari Italia yang bertanya kepadanya : ” Wahai Nabi Allah … apakah engkau juga menggembala kambing?” Qaddafi menjawab, “Ya, tentu…. Tidak ada satu Nabi pun yang tidak menggembala kambing.”
(“Qaddafi : Messenger of Dessert” tulisan  Mirella Bianco halaman 241)
»»  Baca selengkapnya...

Minggu, 09 Oktober 2011

Daur Teologi Sosial dalam Misi Kenabian: dari Refleksi Menuju Aksi


Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Kata pertama di ayat pertama dari wahyu pertama tidak bisa diartikan secara sederhana. Iqra`! Bacalah! Bagi kita, mungkin kata itu hanyalah sebuah kata biasa. Tetapi di hadapan orang dengan kecerdasan luar biasa seperti Nabi Muhammad, kata tersebut diterima dengan berjilid-jilid makna yang terkandung di dalamnya. Ia menggunakan kata tersebut sebagai titik tolak sekaligus rumusan dalam upayanya melakukan rekonstruksi fundamental-komprehensif.

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, iqra` terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak. Iqra` berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun tidak. Alhasil, objek perintah iqra` mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya (Wawasan al-Qur`an).

Misi Kenabian
Lalu apa yang dibaca oleh Muhammad? Langkah pertama yang ia lakukan adalah analisa struktural. Ia mencoba memahami betapa pentingnya peranan berhala (Hubal, Mannat, Lata, Uzza) bagi masyarakat pagan kala itu. Betapa Ka’bah, sumur Zamzam, Maqam Ibrahim, dan situs-situs lainnya dapat mendongkrak perekonomian mereka. Ia juga paham betul bahwa suku Quraisy dan para pemukanya sangat disegani dan berpengaruh dalam membentuk tatanan kehidupan masyarakat kesukuan di wilayah Makkah dan sekitarnya. Semua itu ia analisa dengan tajam, tanpa mengabaikan pengamatannya pada entitas lainnya yang berada pada lapisan kedua dan seterusnya, seperti halnya suku-suku non-Quraisy, agama Hanif, kaum perempuan, perdagangan, perbudakan, kesusastraan, komunitas keagamaan (Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lainnya), serta imperium Romawi dan Persia, berikut karakteristik dan sejarah yang melatarbelakangi semuanya.

Ternyata, ia mendapati banyak sekali kesalahan dan penyimpangan di tengah-tengah masyarakatnya. Ia sadar bahwa kebodohan dan kezhaliman mereka telah melampaui batas. Dari sini, muncullah keprihatinan dan tekad kuatnya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Akan tetapi, akal sehat dan niat baik saja tidaklah cukup. Ia butuh bimbingan dari Tuhan agar memiliki landasan argumentasi serta bukti-bukti meyakinkan akan kerasulan dan ajarannya. Lebih tepatnya, ia butuh justifikasi teologis. Ia hanya ingin menyampaikan apa yang benar menurut kacamata Tuhan, dan bukan menurut hawa nafsunya.

Menyampaikan kebenaran dan melakukan perubahan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Muhammad sudah memprediksi sebelumnya bahwa sebagian besar masyarakat akan secara tegas menolak mentah-mentah dan membantah habis-habisan apapun yang disampaikannya nanti. Karakteristik mereka yang keras dan keteguhan dalam memegang ajaran leluhur menjadi duri penghalang misi risalahnya. Tetapi ia tetap tegar dan optimis. Bagaimana tidak? Ia memiliki seorang Khadijah, istri yang cukup terpandang, setia, serta rela berkorban baik nyawa maupun harta. Selain itu, ia sendiri berasal dari keluarga Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib yang merupakan dua komunitas elit dalam internal suku Quraisy. Dukungan dari mereka sangat penting dan menguntungkan.

Di sisi lain, Muhammad menyadari bahwa kekuatan fisik, mental, maupun materi barisannya belum tentu dapat mengimbangi kekuatan yang dimiliki pihak lain yang berseberangan dengannya. Untuk itu, ia perlu melihat apa, bagaimana, dan siapa saja yang harus didekati. Isu-isu semisal kesetaraan ras, pengangkatan derajat wanita, dan sebagainya akan menarik banyak perhatian terutama di kalangan budak, wanita, dan kaum marginal lainnya. Ada beberapa celah lagi yang dilihat oleh Muhammad untuk memperkokoh dan mempermudah jalan dakwahnya, salah satunya adalah apabila ia mampu menarik dua ‘Umar, yakni ‘Umar ibn al-Khotthob dan ‘Umar ibn Hisyam (Abu Jahl), atau minimal salah satunya untuk memeluk agama Islam. Tidak hanya itu, Muhammad juga mewaspadai setiap gerakan sekecil apapun yang mungkin dapat menghambat proyek besarnya tersebut. Hasutan, cemoohan, hingga ancaman pembunuhan pasti akan terus menghantui kesehariannya. Pada dasarnya, ia tahu bahwa ia sedang bermain api dan resiko yang dihadapinya tidaklah ringan.

Setelah mengantongi sekian banyak catatan dan dengan penuh perhitungan akurat, Muhammad memberanikan diri untuk melancarkan misinya sedikit demi sedikit. Dimulai dari istri, keluarga dekat, tetangga, teman, hingga akhirnya melebar dan terus meluas melewati batas-batas geografis dan kultural. Ketika satu misi berhasil ditempuh, maka ia akan mengevaluasi kinerjanya sekaligus mengamati dan mengontrol setiap perubahan dan perkembangan yang terjadi setelahnya sebagai landasan untuk aksi selanjutnya.

Daur Teologi Sosial
Dari paparan di atas, dapat kita lihat bagaimana pola dakwah Nabi Muhammad begitu sistematis. Oleh karenanya, sebagai agen perubahan (agent of change), yang harus dilakukan pertama kali adalah “refleksi sosial” dengan analisis sosial, personal, sejarah, dan kultural. Refleksi ini akan melahirkan kesadaran dan keprihatinan yang akhirnya mendorong hati nurani untuk melakukan perubahan. Kedua, membangun landasan epistemologi secara rasional-empiris (‘aqli) berikut argumentasi teks al-Qur`an dan al-hadits (naqli) yang menghasilkan “sintesis teologis”.

Langkah ketiga adalah menyusun “rencana tindakan” dengan menggunakan analisis KeKePAN (Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman), atau lebih dikenal dengan istilah SWOT (StrengthWeaknessOpportunitiesand Threat). Keempat, aksi. Dan yang terakhir adalah “evaluasi”. Evaluasi itu sendiri dilaksakanan dengan kembali melakukan “refleksi sosial” seperti semula. Dengan kata lain, seorang agen perubahan akan senantiasa melakukan daur teologi sosial tersebut secara terus menerus tanpa henti. Refleksi berujung pada aksi, dan aksi akan diikuti oleh refleksi berikutnya.
»»  Baca selengkapnya...

Sabtu, 08 Oktober 2011

Meruntuhkan Hegemoni Sosio-Ekonomi Quraisy

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Saat Muhammad diangkat menjadi rasul, Makkah merupakan pusat perekonomian dengan penghasilan yang cukup signifikan. Aktifitas perdagangan dari barat ke timur dan utara ke selatan ataupun sebaliknya pasti akan melintasi daerah ini. Di sanalah rombongan kafilah singgah untuk beristirahat serta melakukan ritual dan ibadah keagamaan, terutama haji dan ziarah ke baitullah, baik saat keberangkatan maupun kepulangan mereka.

Untuk mengakomodir kebutuhan spiritual para pemeluk agama, penduduk Makkah pun sengaja menyediakan ratusan berhala dan simbol-simbol suci dari berbagai agama dan kepercayaan, samawi atau non-samawi. Hal tersebut bernilai ekonomis, karena setiap kafilah yang masuk dan menikmati fasilitas akan dikenakan biaya dengan jumlah tertentu. Belum lagi dengan ibadah haji yang setiap tahunnya mendatangkan devisa yang berlimpah. Tak pelak, semua ini benar-benar menjadi ladang subur bagi perekonomian Makkah.

Kondisi demikian berlangsung hingga masa kerasulan Nabi Muhammad yang diutus untuk menegakkan kalimat tauhid, yakni "tiada Tuhan selain Allah". Sebenarnya masyarakat setempat tidak pernah meresahkan segala akivitas yang dilakukan Muhammad. Mereka yakin bahwa Muhammad tidak akan berbuat sesuatu yang macam-macam dan membiarkannya melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan barunya tersebut. Apalagi pada dasarnya mereka sudah mengenal konsep tersebut sejak ratusan tahun sebelumnya. Sebagai pusat lalu lintas perdagangan, secara otomatis Makkah juga menjadi pusat informasi. Setiap kafilah yang datang akan membawa seluruh kabar yang terjadi di daerah masing-masing, termasuk seputar ajaran keagamaan.

Intinya, masyarakat Makkah sudah tidak asing lagi dengan monotheisme. Yahudi, Nasrani, Agama Hanif, Majusi, bahkan paganisme sendiri sebenarnya meyakini ada satu Tuhan. Hanya saja perbedaannya terletak pada penamaan mereka kepada Tuhan dan aplikasi ajarannya. Oleh karenanya pada awal kemunculan Muhammad, mereka tidak mempersoalkannya sama sekali. Materi khutbah yang diberikan Muhammad ke setiap kafilah yang datang dianggap sebagai materi yang sudah lumrah.

Namun, lama kelamaan mereka merasakan dampak dari ajaran Muhammad ini. Dari hari ke hari, lambat laun jumlah peziarah semakin berkurang. Ajaran Muhammad benar-benar berpengaruh terhadap pola pikir para pendengarnya. Apalagi yang mengatakannya adalah sosok yang dikenal dengan kejujuran, kecerdasan, serta perilaku terpuji lainnya sejak dari masa anak-anak hingga dewasa. Kalimat tiada Tuhan selain Allah secara tidak langsung menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Dengan demikian setiap orang harus beribadah langsung ke Tuhannya tanpa memerlukan perantara apapun dan dapat dilakukan dimanapun ia berada. Karena itu, mereka sudah tidak memiliki kepentingan apa-apa lagi untuk singgah ke Makkah. Mereka tidak perlu berhala dan Ka'bah lagi untuk beribadah.

Penurunan jumlah peziarah itu sama artinya dengan berkurangnya pendapatan kota Makkah. Di sisi lain, pengaruh serta kewibawaan Quraisy pun semakin terkikis. Dampak sosio-ekonomi inilah yang akhirnya menyulut perlawanan keras dari masyarakat Makkah. Mereka tidak takut kehilangan pemeluk agama, yang mereka khawatirkan adalah kehilangan materi dan jabatan. Itulah yang sesungguhnya menjadi sasaran utama pada permualaan dakwah Muhammad. Baginya, untuk memperlancar tugas kerasulan ia harus dapat mengimbangi kekuatan sosial dan ekonomi suku Quraisy. Ketika hal itu belum memungkinkan, maka satu-satunya jalan adalah dengan cara meruntuhkannya.
»»  Baca selengkapnya...

Selasa, 27 September 2011

Karya-karya Monumental Syaikh Nawawi al-Bantani

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils



Siapa yang tidak kenal dengan Syaikh Nawawi al-Bantani? Ulama yang lahir di Kampung Tanara, Serang, Banten tahun 1815 M/1230 H, dengan nama lengkap Muhammad Nawawi ibn 'Umar ibn 'Arabi al-Tanara al-Jawi al-Bantani, ini adalah salah seorang pengajar di lingkungan Masjidil Haram, Makkah, di perguruan Nasyr al-Ma'arif al-Diniyyah.

Pada tanggal 25 Syawwal 1314 H, Syaikh Nawawi menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 84 tahun. Beliau wafat saat sedang menyusun sebuah tulisan yang menguraikan dan menjelaskan kitab Minhaaj al-Thaalibiin karya Yahya ibn Syaraf ibn Mura ibn Hasan ibn Husain. Beliau dimakamkan di Ma'la, dekat makam Siti Khadijah, istri Nabi Muhammad saw. Sebagai tokoh kebanggaan umat Islam
di Jawa khususnya di Banten, umat Islam di desa Tanara, Tirtayasa, Banten, setiap tahun di hari Jum'at terakhir bulan Syawal selalu diadakan acara haul sebagai bentuk kecintaan dan penghargaan mereka sekaligus untuk memperingati jejak peninggalannya.

Karya-karyanya
Syaikh Nawawi al-Bantani dikenal sebagai penulis produktif. Tulisan-tulisannya dalam bentuk kitab berjumlah puluhan, dan seluruhnya ditulis dalam bahasa Arab, sehingga ia dikenal dengan baik di Mesir, Syam, Turki, dan India.

Karya-karya besar Syaikh Nawawi yang gagasan pemikirannya berangkat dari Mesir, sesungguhnya terbagi ke dalam tujuh kategorisasi bidang, yakni bidang fiqh, tauhid, tasawuf, tafsir, hadits, sejarah Nabi, serta bahasa. Hampir semua bidang ditulis dalam beberapa kitab kecuali bidang tafsir yang ditulisnya hanya dalam satu kitab. Berdasarkan informasi, kitab-kitab karangannya (sekitar 115 judul kitab) ada di universitas al-Azhar Mesir, Belanda, dan di tempat-tempat lainnya. Bukan hanya itu, karya-karya beliau juga terdapat di perguruan tinggi Chicago.

Berikut daftar sebagian kitab karya beliau:
  • A. Fiqh
  1. Al-‘Aqd al-Tsamîn, ulasan atas kitab Fatĥ al-Mubîn, Kairo: Mathba‘at al-Wahbîyah, 1300.
  2. Fatĥ al-Mujîb, ulasan atas kitab Manâsik al-‘Allâmah al-Khathîb karya Muĥammad ibn Muĥammad ibn al-Syirbînî al-Khathîb, Mesir: Bûlâq, 1276, 1292; Kairo, 1297, 1298; Makkah: Mathba‘at at-Tarâqî Majîdîyah1316, 1328.
  3. Kâsyifat al-Sajâ, ulasan atas kitab Safînat al-Najâ karya Syaikh Sâlim ibn Samîr al-Ĥadhramî, Kairo: Mathba‘at al-Mushthafâ, 1292, 1301, 1302, 1303, 1305; Bûlâq, 1309; Indonesia: Maktabat al-‘Aydrûs, tt.
  4. Mirqât Shu‘ûd al-Tashdîq, ulasan atas kitab Sullam al-Tawfîq karya Sayyid ‘Abd Allâh ibn Ĥusayn ibn Thâhir ibn Muĥammad ibn Hâsyim  ‘Alawî, Mesir, 1292; Makkah: Mathba‘at al-Mirîyah, 1304. Kitab ini juga memuat pembahasan tentang tauhid dan tasawuf.
  5. Nihâyat al-Zayn, ulasan atas kitab Qurrat al-‘Ayn karya Syaikh Zayn al-Dîn al-Malîbârî, Mathba‘at al-Wahbîyah, th. 1297; Bandung: Syarikat al-Ma‘ârif, tt.
  6. Qût al-Ĥabîb, ulasan atas kitab Fatĥ al-Qarîb al-Mujîb karya Ibn Qâsim al-Ghazî, Kairo, 1301, 1305, 1310.
  7. Sullam al-Munâjâh, ulasan atas kitab Safînat al-Shalâh karya Sayyid ‘Abd Allâh al-Ĥadhramî ibn ‘Umar, Mesir: Bûlâq, 1297 dan 1301; Mathba‘at al-Maymanah, 1300.
  8. Al-Tsimâr al-Yâni‘ah, ulasan atas kitab Riyâdh al-Badî‘ah karya Syaikh Muĥammad Ĥasb Allâh), Mesir: Mathba‘at al-Bahîyah, 1299; Mesir: Mathba‘at Mushtafâ al-Babî al-Halabî, 1342.
  9. Uqûd al-Lujayn fî Ĥuquq al-Zawjayn, Mathba‘at al-Wahbîyah, 1316.
  • Tauhid
  1. Bahjat al-Wasâ`il, Mesir: Bûlâq, 1292; dan Mathba‘at al-Maymanah, 1334.
  2. Dzarî‘at al-Yaqîn ‘Alâ Umm al-Barâhîn, Mathba‘at ‘Abd al-Razzâq, 1303; dan Makkah, 1317.
  3. Fatĥ al-Majîd, ulasan atas kitab Durr Farîd, Makkah: Mathba‘at al-Mirîyah, 1304, 1298. Selesai 7 Ramadan 1294 H/1877 M.
  4. Ĥilyat al-Shibyân, ulasan atas kitab Fatĥ al-Raĥmân Tajwîd al-Qur`ân, Makkah: Mathba‘at al-Mirîyah, 1332.
  5. Nûr al-Zhalâm, ulasan atas kitab ‘Aqîdat al-‘Awwâm karya Sayyid Aĥmad al-Marzûqi al-Mâliki, Mathba‘at ‘Abd al-Razzâq, 1303; dan Mathba‘at al-Ijmâlîyah, 1329.
  6. Qâmi‘ al-Thughyân, Mathba‘at al-Wahbîyah, 1296.
  7. Qathr al-Ghayts, ulasan atas kitab Masâ`il Abî al-Layts karya Nashr ibn Muĥammad ibn Aĥmad ibn Ibrâhîm al-Ĥanafî al-Samarqandî, Makkah: Mathba‘at al-Mirîyah, 1321.
  8. Tîjân al-Darârî, ulasan atas kitab Risâlat al-Bâjûrî karya Syaikh Ibrâhîm al-Bâjûrî, Mesir, 1301; Mathba‘at al-Maymanah, 1309; dan Makkah, 1309. Selesai 7 Rabî‘ al-Awwal 1297 H/1879 M.
  • Tasawuf
  1. Fatĥ al-Shamad al-‘Alîm, Mesir: Mathba‘at Dâr al-Kutub ‘Arabîyah al-Kubrâ, 1328. Selesai pada awal Jûmâdî al-Awwal 1286 H/1869 M.
  2. Al-Futûĥât al-Madanîyah Syu‘ab al-Îmânîyah, Makkah: Mathba‘at al-Mirîyah, 1323.
  3. Al-Isti‘dâd li Nashâ`iĥ al-‘Ibâd, ulasan atas kitab al-Munabbihât li Yawm al-Ma‘âd karya Syaikh Syihâb al-Dîn Aĥmad ibn Aĥmad al-‘Asqalâni, Makkah: Mathba‘at  al-Mirîyah,  cet. 2, 1323. Selesai pada tanggal 21Shafar 1311 H/1893 M.
  4. Marâqî al-‘Ubûdîyah, ulasan atas kitab Bidâyat al-Hidâyah karya al-Ghazâli, Mesir: Bûlâq, 1293, 1309; dan Mesir, 1298, 1304. Selesai pada 13 Dzû al-Qa‘dah 1289 H/1872 M.
  5. Mishbâĥ al-Zhalâm ‘alâ Manhaj al-Atamm Tabwîb al-Ĥikam, Makkah: Mathba‘at al-Mirîyah, 1314. Selesai Jumâdî al-Awwal 1305 H/1887 M, dan dicetak atas biaya saudara kandung beliau sendiri, yaitu ‘Abd Allâh al-Bantanî.
  6. Salâlîm al-Fudhalâ`, ulasan atas kitab Hidâyat al-Adzkiyâ` karya Syaikh Zayn al-Dîn al-Malîbârî, Makkah, 1315.
  7. Mirâĥ Labîd li Kasyf Ma‘nâ Qur`ân Majîd, dikenal juga dengan sebutan
     Tafsîr al-Munîr li Ma‘âlim al-Tanzîl al-Musfir ‘an Wujûh Maĥâsin al-Ta`wîl atau Tafsîr al-Nawâwî.
  • Hadits
  1. Tanqîĥ al-Qawl al-Ĥatsîts, ulasan atas kitab Lubab al-Ĥadîts karya Imam Jalâl al-Dîn al-Suyûthi, Mathba‘at Dâr Iĥyâ` al-Kutub al-‘Arabîyah, tt.
  • Sejarah
  1. Bughyat al-‘Awwâm, ulasan atas kitab Mawlid Sayyid al-Anâm karya Ibn al-Jawzî, Mesir: Mathba‘at al-Jadîdah al-‘Amîrah, 1297. Selesai 17 Safar 1294 H/1877 M.
  2. Al-Ibrîz al-Dânî Mawlid Sayyidinâ Muĥammad al-Sayyid al-‘Adnânî, Mesir: Hijr, 1299.
  3. Madârij al-Shu‘ûd ilâ Iktisâ` al-Burûd, Mesir: Mathba‘at Mushtafâ al-Bâbî al-Halabî, 1327. Mulai ditulis 18 Rabî‘ al-Awwal 1293 H/1876 M.
  4. Targhîb al-Musytâqîn, Makkah: Mathba‘at al-Mirîyah, 1311 H. Selesai Jum‘at, 13 Jumâdî al-Akhîr 1284 H/1867 M.
  • Bahasa
  1. Fatĥ al-Ghâfir al-Khaththîyah ‘alâ al-Kawâkib al-Jalîyah Nazhm al-Âjurûmîyah, Mesir: Bûlâq, 1298.
  2. Al-Fushûsh al-Yâqûtîyah, ulasan atas kitab al-Rawdhah al-Bahîyah al-Abwâb al-Tashrîfîyah karya ‘Abd al-Mun‘im ‘Iwadh al-Jirjâwî, Kairo: Mathba‘at al-Bahîyah, 1299.
  3. Kasyf al-Murûthîyah ‘an Sitâr al-Âjurûmîyah, ulasan atas kitab al-Âjurûmîyah karya Abû ‘Abd Allâh Muĥammad ibn Muĥammad ibn Dâwûd al-Shanhâjî ibn al-Âjurûm, Kairo: Mathba‘at Syarf, 1308.
  4. Lubab al-Bayân ‘Ilm al-Bayân, ulasan atas kitab Risâlât al-Isti‘ârât karya Syaikh Ĥusayn al-Nawawî al-Mâlikî, Kairo: Mathba‘at Muĥammad Mushthafâ, 1301. Selesai tahun 1293.
  5. Al-Riyâdh al-Qawlîyah, Mesir, 1299.
Untuk gambaran lebih lengkap tentang Syaikh Nawawi al-Bantani, lihat skripsi penulis di sini
»»  Baca selengkapnya...

Komentar