Photobucket

Laman

Minggu, 09 Oktober 2011

Antara Materialisme dan Relativitas Nilai

 Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Secara garis besar, Materialisme merupakan aliran filsafat yang menyatakan bahwa bahwa yang benar-benar ada hanyalah materi. Tidak ada fenomena apapun di dunia ini yang tidak terdiri dari materi. Materi merupakan satu-satunya substansi. Dengan demikian, ia menolak dan tidak mempercayai hal-hal metafisik (non-inderawi).

Dalam Islam sendiri, mempercayai hal-hal gaib merupakan salah satu ciri orang bertaqwa, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur`an,

اَلَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ

"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagiaan rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka." (Q.S. Al-Baqarah [2] : 3)

Relativitas Nilai
"Relatif", kata yang sangat familiar di telinga terutama ketika bicara soal nilai. Relatif berarti tidak mutlak atau tidak absolut. Sesuatu bisa dipandang baik, buruk, kurang baik, biasa, atau sekedar lumayan saja. Karena memiliki nilai yang berbeda-beda, maka itu artinya nilai sesuatu tersebut relatif.

Secara etimologi, relatif merupakan kata serapan dari bahasa Inggris relative (adjective), derivasi dari kata relation (noun) dan relate (verb). Salah satu sinonimnya adalah connect atau connection yang berarti berhubungan, berkaitan, bertalian, bersambung. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa suatu benda yang memiliki nilai yang berbeda-beda, maka nilai tersebut relatif. Dengan kata lain ia berhubungan dengan sesuatu yang lain. Sebuah pulpen akan dikatakan panjang jika dibandingkan (baca: dihubungkan) dengan sebatang korek api. Sebaliknya, ia dikatakan pendek jika disandingkan dengan sebuah penggaris. Jadi, hasil penilaian terhadap sesuatu "tergantung" dengan apa ia dihubungkan.

Penilaian terhadap sesuatu seperti panjang, tinggi, baik, tua, besar, jauh, barat, kanan, atau gerak hanya dapat diungkapkan ketika di dalam otak terdapat konsep mengenai pendek, rendah, buruk, muda, kecil, dekat, timur, kiri, dan diam. Hasil penilaiannya tergantung dengan benda lain yang juga dinilai bersamaan dengan sesuatu itu. Mungkin saja si A dianggap pintar di kelasnya, tapi belum tentu di kelas lainnya. Bisa jadi ia dinilai tinggi untuk ukuran orang Indonesia, tetapi sedang-sedang saja di seluruh kawasan Asia, atau malah pendek di mata orang Eropa. Intinya, semua nilai itu relatif.

Kembali ke persoalan materialisme yang hanya mengakui keberadaan materi saja. Tetapi pertanyaannya adalah bukankah itu tidak mungkin mengatakan sesuatu sebagai materi tanpa menghubungkannya dengan yang immateri? Bukankah keberadaan konsep tentang materi di benak manusia menunjukkan adanya konsep tentang yang immateri? Bukankah bumi dan benda antariksa lainnya dinamakan materi semata-mata karena ia duhubungkan oleh area luas di sekelilingnya yang bersifat immateri? Dan bukankah yang disebut "konsep" dan "nilai" itu sendiri bersifat immateri? Bukan begitu?
»»  Baca selengkapnya...

Daur Teologi Sosial dalam Misi Kenabian: dari Refleksi Menuju Aksi


Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Kata pertama di ayat pertama dari wahyu pertama tidak bisa diartikan secara sederhana. Iqra`! Bacalah! Bagi kita, mungkin kata itu hanyalah sebuah kata biasa. Tetapi di hadapan orang dengan kecerdasan luar biasa seperti Nabi Muhammad, kata tersebut diterima dengan berjilid-jilid makna yang terkandung di dalamnya. Ia menggunakan kata tersebut sebagai titik tolak sekaligus rumusan dalam upayanya melakukan rekonstruksi fundamental-komprehensif.

Menurut Prof. Dr. Quraish Shihab, iqra` terambil dari akar kata yang berarti menghimpun. Dari menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu, dan membaca baik teks tertulis maupun tidak. Iqra` berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu; bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun tidak. Alhasil, objek perintah iqra` mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya (Wawasan al-Qur`an).

Misi Kenabian
Lalu apa yang dibaca oleh Muhammad? Langkah pertama yang ia lakukan adalah analisa struktural. Ia mencoba memahami betapa pentingnya peranan berhala (Hubal, Mannat, Lata, Uzza) bagi masyarakat pagan kala itu. Betapa Ka’bah, sumur Zamzam, Maqam Ibrahim, dan situs-situs lainnya dapat mendongkrak perekonomian mereka. Ia juga paham betul bahwa suku Quraisy dan para pemukanya sangat disegani dan berpengaruh dalam membentuk tatanan kehidupan masyarakat kesukuan di wilayah Makkah dan sekitarnya. Semua itu ia analisa dengan tajam, tanpa mengabaikan pengamatannya pada entitas lainnya yang berada pada lapisan kedua dan seterusnya, seperti halnya suku-suku non-Quraisy, agama Hanif, kaum perempuan, perdagangan, perbudakan, kesusastraan, komunitas keagamaan (Yahudi, Nasrani, Majusi, dan lainnya), serta imperium Romawi dan Persia, berikut karakteristik dan sejarah yang melatarbelakangi semuanya.

Ternyata, ia mendapati banyak sekali kesalahan dan penyimpangan di tengah-tengah masyarakatnya. Ia sadar bahwa kebodohan dan kezhaliman mereka telah melampaui batas. Dari sini, muncullah keprihatinan dan tekad kuatnya untuk menegakkan kebenaran dan keadilan. Akan tetapi, akal sehat dan niat baik saja tidaklah cukup. Ia butuh bimbingan dari Tuhan agar memiliki landasan argumentasi serta bukti-bukti meyakinkan akan kerasulan dan ajarannya. Lebih tepatnya, ia butuh justifikasi teologis. Ia hanya ingin menyampaikan apa yang benar menurut kacamata Tuhan, dan bukan menurut hawa nafsunya.

Menyampaikan kebenaran dan melakukan perubahan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Muhammad sudah memprediksi sebelumnya bahwa sebagian besar masyarakat akan secara tegas menolak mentah-mentah dan membantah habis-habisan apapun yang disampaikannya nanti. Karakteristik mereka yang keras dan keteguhan dalam memegang ajaran leluhur menjadi duri penghalang misi risalahnya. Tetapi ia tetap tegar dan optimis. Bagaimana tidak? Ia memiliki seorang Khadijah, istri yang cukup terpandang, setia, serta rela berkorban baik nyawa maupun harta. Selain itu, ia sendiri berasal dari keluarga Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib yang merupakan dua komunitas elit dalam internal suku Quraisy. Dukungan dari mereka sangat penting dan menguntungkan.

Di sisi lain, Muhammad menyadari bahwa kekuatan fisik, mental, maupun materi barisannya belum tentu dapat mengimbangi kekuatan yang dimiliki pihak lain yang berseberangan dengannya. Untuk itu, ia perlu melihat apa, bagaimana, dan siapa saja yang harus didekati. Isu-isu semisal kesetaraan ras, pengangkatan derajat wanita, dan sebagainya akan menarik banyak perhatian terutama di kalangan budak, wanita, dan kaum marginal lainnya. Ada beberapa celah lagi yang dilihat oleh Muhammad untuk memperkokoh dan mempermudah jalan dakwahnya, salah satunya adalah apabila ia mampu menarik dua ‘Umar, yakni ‘Umar ibn al-Khotthob dan ‘Umar ibn Hisyam (Abu Jahl), atau minimal salah satunya untuk memeluk agama Islam. Tidak hanya itu, Muhammad juga mewaspadai setiap gerakan sekecil apapun yang mungkin dapat menghambat proyek besarnya tersebut. Hasutan, cemoohan, hingga ancaman pembunuhan pasti akan terus menghantui kesehariannya. Pada dasarnya, ia tahu bahwa ia sedang bermain api dan resiko yang dihadapinya tidaklah ringan.

Setelah mengantongi sekian banyak catatan dan dengan penuh perhitungan akurat, Muhammad memberanikan diri untuk melancarkan misinya sedikit demi sedikit. Dimulai dari istri, keluarga dekat, tetangga, teman, hingga akhirnya melebar dan terus meluas melewati batas-batas geografis dan kultural. Ketika satu misi berhasil ditempuh, maka ia akan mengevaluasi kinerjanya sekaligus mengamati dan mengontrol setiap perubahan dan perkembangan yang terjadi setelahnya sebagai landasan untuk aksi selanjutnya.

Daur Teologi Sosial
Dari paparan di atas, dapat kita lihat bagaimana pola dakwah Nabi Muhammad begitu sistematis. Oleh karenanya, sebagai agen perubahan (agent of change), yang harus dilakukan pertama kali adalah “refleksi sosial” dengan analisis sosial, personal, sejarah, dan kultural. Refleksi ini akan melahirkan kesadaran dan keprihatinan yang akhirnya mendorong hati nurani untuk melakukan perubahan. Kedua, membangun landasan epistemologi secara rasional-empiris (‘aqli) berikut argumentasi teks al-Qur`an dan al-hadits (naqli) yang menghasilkan “sintesis teologis”.

Langkah ketiga adalah menyusun “rencana tindakan” dengan menggunakan analisis KeKePAN (Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman), atau lebih dikenal dengan istilah SWOT (StrengthWeaknessOpportunitiesand Threat). Keempat, aksi. Dan yang terakhir adalah “evaluasi”. Evaluasi itu sendiri dilaksakanan dengan kembali melakukan “refleksi sosial” seperti semula. Dengan kata lain, seorang agen perubahan akan senantiasa melakukan daur teologi sosial tersebut secara terus menerus tanpa henti. Refleksi berujung pada aksi, dan aksi akan diikuti oleh refleksi berikutnya.
»»  Baca selengkapnya...

Sabtu, 08 Oktober 2011

Meruntuhkan Hegemoni Sosio-Ekonomi Quraisy

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Saat Muhammad diangkat menjadi rasul, Makkah merupakan pusat perekonomian dengan penghasilan yang cukup signifikan. Aktifitas perdagangan dari barat ke timur dan utara ke selatan ataupun sebaliknya pasti akan melintasi daerah ini. Di sanalah rombongan kafilah singgah untuk beristirahat serta melakukan ritual dan ibadah keagamaan, terutama haji dan ziarah ke baitullah, baik saat keberangkatan maupun kepulangan mereka.

Untuk mengakomodir kebutuhan spiritual para pemeluk agama, penduduk Makkah pun sengaja menyediakan ratusan berhala dan simbol-simbol suci dari berbagai agama dan kepercayaan, samawi atau non-samawi. Hal tersebut bernilai ekonomis, karena setiap kafilah yang masuk dan menikmati fasilitas akan dikenakan biaya dengan jumlah tertentu. Belum lagi dengan ibadah haji yang setiap tahunnya mendatangkan devisa yang berlimpah. Tak pelak, semua ini benar-benar menjadi ladang subur bagi perekonomian Makkah.

Kondisi demikian berlangsung hingga masa kerasulan Nabi Muhammad yang diutus untuk menegakkan kalimat tauhid, yakni "tiada Tuhan selain Allah". Sebenarnya masyarakat setempat tidak pernah meresahkan segala akivitas yang dilakukan Muhammad. Mereka yakin bahwa Muhammad tidak akan berbuat sesuatu yang macam-macam dan membiarkannya melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan barunya tersebut. Apalagi pada dasarnya mereka sudah mengenal konsep tersebut sejak ratusan tahun sebelumnya. Sebagai pusat lalu lintas perdagangan, secara otomatis Makkah juga menjadi pusat informasi. Setiap kafilah yang datang akan membawa seluruh kabar yang terjadi di daerah masing-masing, termasuk seputar ajaran keagamaan.

Intinya, masyarakat Makkah sudah tidak asing lagi dengan monotheisme. Yahudi, Nasrani, Agama Hanif, Majusi, bahkan paganisme sendiri sebenarnya meyakini ada satu Tuhan. Hanya saja perbedaannya terletak pada penamaan mereka kepada Tuhan dan aplikasi ajarannya. Oleh karenanya pada awal kemunculan Muhammad, mereka tidak mempersoalkannya sama sekali. Materi khutbah yang diberikan Muhammad ke setiap kafilah yang datang dianggap sebagai materi yang sudah lumrah.

Namun, lama kelamaan mereka merasakan dampak dari ajaran Muhammad ini. Dari hari ke hari, lambat laun jumlah peziarah semakin berkurang. Ajaran Muhammad benar-benar berpengaruh terhadap pola pikir para pendengarnya. Apalagi yang mengatakannya adalah sosok yang dikenal dengan kejujuran, kecerdasan, serta perilaku terpuji lainnya sejak dari masa anak-anak hingga dewasa. Kalimat tiada Tuhan selain Allah secara tidak langsung menyatakan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Dengan demikian setiap orang harus beribadah langsung ke Tuhannya tanpa memerlukan perantara apapun dan dapat dilakukan dimanapun ia berada. Karena itu, mereka sudah tidak memiliki kepentingan apa-apa lagi untuk singgah ke Makkah. Mereka tidak perlu berhala dan Ka'bah lagi untuk beribadah.

Penurunan jumlah peziarah itu sama artinya dengan berkurangnya pendapatan kota Makkah. Di sisi lain, pengaruh serta kewibawaan Quraisy pun semakin terkikis. Dampak sosio-ekonomi inilah yang akhirnya menyulut perlawanan keras dari masyarakat Makkah. Mereka tidak takut kehilangan pemeluk agama, yang mereka khawatirkan adalah kehilangan materi dan jabatan. Itulah yang sesungguhnya menjadi sasaran utama pada permualaan dakwah Muhammad. Baginya, untuk memperlancar tugas kerasulan ia harus dapat mengimbangi kekuatan sosial dan ekonomi suku Quraisy. Ketika hal itu belum memungkinkan, maka satu-satunya jalan adalah dengan cara meruntuhkannya.
»»  Baca selengkapnya...

Senin, 03 Oktober 2011

Kitab Spektakuler Karya Ibnul Muqri`

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Manusia tidak pernah berhenti berkreasi. Mulai dari karya yang sederhana hingga yang kompleks sekalipun. Abu Muhammad Isma'il ibn Abi Bakr ibn 'Abdillah al-Muqri` ibn Ibrahim ibn 'Ali ibn 'Athiyah al-Syafdari al-Syawiri al-Syarji al-Yamani al-Husaini al-Syafi'i al-Asawi atau yang lebih dikenal sebagai Ibnul Muqri` (754 H/1353 M - 837 H/1433 M) adalah salah seorang ulama yang membuktikan bahwa manusia dapat melakukan sesuatu yang luar biasa. Ulama asal Yaman ini menunjukkan kecerdasan dan kreatifitasnya dengan menyusun sebuah kitab hiperteks yang hampir mustahil dilakukan, 'Unwân al-Syaraf al-Wâfî fî 'Ilm al-Fiqh wa al-'Arûdh wa al-Târîkh wa al-Naĥwi wa al-Qawâfî.

Sekilas, kitab ini terlihat biasa-biasa saja. Sebuah kitab dengan pembahasan fiqh standar madzhab Syafi'i sama seperti kitab-kitab fiqh lainnya. Namun apabila dicermati lebih teliti, maka di dalamnya akan ditemukan empat kitab lagi yang tertulis secara vertikal (lihat pada gambar). Kitab pertama membahas tentang ilmu 'arudh (warna hijau tua), yakni ilmu yang membahas hal-hal yang bersangkutan dengan karya sastra, syair, dan puisi. Ilmu 'arudh memberitahukan tentang wazan-wazan (timbangan) syair dan tujuannya adalah untuk membedakan proses dalam puisi serta membedakan antara syair dan bukan syair.


Kedua (warna coklat muda), bercerita tentang sejarah pemerintahan kerajaan-kerajaan Yaman dan Syam (Bani Rasul) dari awa berdiri (626 H/1229 M) hingga kitab ini selesai dibuat (804 H/1401 M). Ketiga (warna hijau muda), tentang ilmu nahwu yakni ilmu pengetahuan yang membahas perihal kata-kata Arab, baik ketika sendiri (satu kata) maupun ketika terangkai dalam kalimat. Dengan kaidah-kaidah ini, orang dapat mengetahui baris akhir kata. Tujuannya adalah untuk menjaga kesalahan-kesalahan dalam mempergunakan bahasa, untuk menghindarkan kesalahan makna dalam rangka memahami al-Qur`an dan hadits, serta tulisan-tulisan ilmiah atau karangan. Dan terakhir (warna coklat tua) berbicara soal qawafi, sebuah ilmu yang membahas suku terakhir kata dari bait-bait syair sehingga diketahui keindahan syair.

Al-Sakhawi menuturkan bahwa apa yang dilakukan oleh Ibnul Muqri` ini dilatarbelakangi oleh hasratnya untuk menjadi qadhi (hakim) setelah al-Majd al-Syairazi (pengarang kamus al-Muhith). Al-Majd sendiri sebelumnya telah menulis sebuah kitab yang ia persembahkan untuk penguasa Yaman saat itu, Sultan al-Asyraf al-Tsani alias Isma'il ibn al-'Abbas. Keunikan kitab tersebut adalah pada setiap barisnya selalu diawali dengan huruf Alif. Hal ini kemudian mendapatkan apresiasi yang luar biasa dari Sultan.

Oleh karenanya, Ibnul Muqri` sengaja membuat kitab unik lain yang nantinya akan ia persembahkan pula kepada Sultan al-Asyraf al-Tsani. Namun sayangnya, Sang Sultan meninggal terlebih dahulu (803 H) setahun sebelum masterpiece Ibnul Muqri` ini selesai dibuat (804 H). Akhirnya, ia mempersebahkannya kepada penerusnya yang merupakan putra Sultan al-Asyraf al-Tsani, yakni Sultan Ahmad al-Nashir.
»»  Baca selengkapnya...

Kehancuran Israel dan Geliat Palestina

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Isra Mi'raj merupakan peristiwa bersejarah dalam sejarah peradaban Islam. Itu adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsha di Yerusalem, dilanjutkan dengan kenaikan beliau menuju Sidratul Muntaha, lalu kembali ke tempat semula dalam waktu yang begitu singkat. Sebuah kisah pertemuan seorang hamba dengan Penciptanya yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya sampai kapanpun.

Anehnya, peristiwa langka ini dapat ditemukan dalam al-Qur`an hanya dalam satu ayat saja dan kurang dari 30 kata!

سُبْحَانَ الَّذِيْ أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَي الْمَسْجِدِ الْأَقْصَا الَّذِيْ بَرَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Mahamendengar lagi Mahamengetahui." (Q.S. Al-Isra [17] : 1)

Kehancuran Israel
Mengapa demikian? Mengapa ayat-ayat berikutnya justru bercerita tentang Bani Israil? Itulah pertanyaan besar yang terlintas dalam benak Bassam Nahad Jarrar, seorang penulis buku "Lenyapnya Israel di Tahun 2022 M; Ramalan al-Qur`an dan Otak Atik Gathuk" (judul asli: Zawâl Isrâ`îl) berkebangsaan Palestina. Menurutnya, tidaklah mungkin Allah swt menceritakan peristiwa agung ini dalam narasi yang sedemikian singkat dan lebih fokus pada peristiwa lain. Pasti ada rahasia yang tersembunyi di balik itu semua.

Penulis mencoba meneliti ayat 1-7 surat al-Isra. Di sana diceritakan bahwa Bani Israil akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali. Pada kerusakan yang pertama, mereka berhasil dihancurkan oleh pasukan yang lebih kuat hingga tercerai-berai. Setelah bersatu kembali, mereka kembali melakukan kerusakan untuk kedua kalinya yang juga berakhir pada kehancuran mereka.

Kapan kerusakan pertama dan kedua itu terjadi? Kerusakan pertama berlangsung tidak lama setelah kewafatan Nabi Sulaiman (935 SM), yakni ketika 12 suku Israil terpecah menjadi dua kubu. Sedangkan kerusakan kedua adalah pada saat israel mendirikan negara pada tahun 1948. Hal ini didasarkan pada makalah penulis Iraq bernama Syekh Muhammad Ahmad Arrosyid yang menceritakan seorang perempuan tua Yahudi yang datang kepadanya sewaktu negara Israel berdiri. Perempuan itu berkata, "Sesungguhnya berdirinya negara Yahudi ini akan menjadi sebab kebinasaan mereka."

Dari penelitian panjang dan njlimet dengan berdasarkan pada hitungan matematis, terutama pada perhitungan angka 19, hisab al-jummal (abajadun), dan perputaran komet Halley, tersebut akhirnya didapat kesimpulan bahwa Negara Israel akan hancur di tahun 2022 M. Inilah ramalan yang diungkapkan oleh Bassam Nahad Jarrar tentang kehancuran Negara Israel. Percaya atau tidak itu terserah Anda.

Geliat Palestina
Saat ini Palestina mulai menggeliat. Hal itu dapat terlihat dari proposal resmi yang mereka ajukan ke sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-bangsa (DK PBB) melalui pemimpin otoritas Palestina, Mahmoud Abbas, pada Jum'at, 23 September 2011, untuk keanggotaan penuh di PBB alias pendirian negara Palestina yang independen. Jika proposal ini diterima, maka Amerika dan Zionis Israel harus bersiap-siap menghadapi pengaduan atas berbagai kejahatan rezim mereka ke Pengadilan Internasional PBB (ICJ) dan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). Untuk itu, mari kita dukung masyarakat Palestina untuk segera mendapatkan kebebasannya!
»»  Baca selengkapnya...

Komentar