Photobucket

Laman

Sabtu, 14 Juli 2012

Partikel Tuhan: dari Democritus sampai Peter Higgs

Pada Rabu (4/7/2012) lalu, Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN) mengumumkan penemuan partikel yang konsisten dengan Higgs Boson. Penemuan ini disambut meriah, walau masih harus ditindaklanjuti apakah partikel yang ditemukan memang Higgs Boson.

Pencarian Partikel Tuhan sudah berlangsung selama 40-an tahun. Waktu yang lama memang, tapi belum terlalu lama jika dibandingkan dengan sejarah fisika partikel yang kemudian mendasari pencetusan keberadaan Higgs Boson oleh Peter Higgs, fisikawan dari University of Edinburgh.

Kajian fisika partikel yang akhirnya menelurkan konsep Higgs Boson sebenarnya sudah berlangsung lama, sejak Sebelum Masehi. Berikut rangkuman lompatan-lompatan penting dalam fisika partikel hingga penemuan CERN pada minggu lalu.

5 SM
Filsuf Yunani Democritus mengungkapkan bahwa semesta terdiri atas ruang kosong serta partikel yang terlihat dan tak terlihat disebut atom.

1802
John Dalton, fisikawan dan kimiawan Inggris mencetuskan konsep dasar atom dan unsur. Menurut dalton, atom adalah bagian materi yang tak dapat dibagi lagi. Atom berbentuk bola pejal. Suatu unsur terdiri atas atom yang identik. Berbeda unsur, berbeda atom. Atom bisa bergabung membentuk senyawa serta bisa dipisahkan dan digabungkan lewat reaksi kimia.

1897
Joseph Thompson menemukan elektron. Ia kemudian mengemukakan bahwa atom terdiri atas inti atom yang dikelilingi elektron.

1899 - 1919
Ernest Rutherford, fisikawan dari Selandia Baru, mengidentifikasi inti atom, terdiri atas proton serta partikel alfa dan beta.

1920-an
Fisika kuantum semakin berkembang, terutama tentang perilaku materi pada level atom.

1932
Neutron, partikel yang tak bermuatan, ditemukan oleh James Chadwick, ilmuwan dari Inggris. Antipartikel pertama, positron, ditemukan oleh ilmuwan Amerika Serikat, Carl Anderson.

1934
Enrico Fermi, ilmuwan asal Italia, mengkonsepkan keberadaan neutrino, partikel kecil bermuatan netral yang merupakan rekan elektron. Teorinya dikonfirmasi tahun 1959.

1950-an
Penemuan akselerator partikel yang memacu penemuan-penemuan penting di bidang fisika partikel.

1964
Peter Higgs mengkonsepkan keberadaan partikel pemberi massa, yang kemudian disebut Higgs Boson. Murray Gell-Mann dan George Zweig, ilmuwan asal Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa proton dan netron terdiri atas bagian yang lebih kecil disebut quark.

1974
Perkembangan Model Standar Fisika Partikel. Menurut model ini, semesta terdiri atas 12 partikel yang disebut fermion. Fermion terbagi menjadi 2 jenis, quark dan lepton, masing-masing ada enam buah. Semesta juga terdiri atas empat gaya fundamental disebut boson.

1977
Adanya penemuan-penemuan yang memperkuat Model Standar. Pada periode ini, ditemukan keberadaan top dan botton quark, tau lepton, gluon, tau neutrino serta W dan Z Boson.

2008
Misi Large hadron Collider dimulai.

4 Juli 2012
CERN mengumumkan eksistensi sebuah partikel yang diduga Higgs Boson.

»»  Baca selengkapnya...

Jumat, 13 Juli 2012

Kaidah Abjadiyyah

Untuk mempelajari huruf Hijaiyah tentu kita harus mengetahui terlebih dahulu huruf-hurufnya. Huruf Hijaiyah terbagi menjad 28 makhraj (pengucapan huruf). Jika selama ini kita mengenal susunan huruf Arab dari ALIF sampai YA (A-Ba-Ta-Tsa), itu adalah urutan huruf Arab yang sesungguhnya adalah ALIF sampai GHAIN (A-Ba-Ja-Dun atau disingkat ABJAD).

Perhatikan susunan huruf Hijaiyah di bawah ini:


Dalam ilmu hikmah yang akan kita pelajari, tentu saja urutan huruf Hijaiyah yang dipakai adalah Susunan Abjad atau disebut juga dengan istilah Kaidah Abjadiyyah. Dimana dalam kaidah Abjadiyyah ini, setiap huruf memiliki nilai numerik (angka).

Apa itu nilai numerik?

Angka yang kita kenal sekarang yaitu angka 1, 2, 3 dan seterusnya sebenarnya dikenal belum lama oleh manusia. Sebelum ada angka-angka tersebut (1,2,3 dst) orang melakukan penghitungan berdasarkan simbol atau karakter yang merepresentasikan sebuah angka.

Pada awalnya dijumpai angka-angka yang diucapkan dan angka-angka yang disimbolkan dengan jari tangan (diindikasikan oleh posisi tangan dan jari-jari). Bahkan sampai sekarang masih ada segolongan suku di Indonesia yang masih menggunakan metode ini, misalnya cara jual beli sapi di Madura.

Selanjutnya untuk pencatatan secara permanen dan penghitungan diperlukan apa yang disebut sebagai “NUMERAL” yang merupakan sebuah simbol atau karakter yang digunakan untuk mewakili sebuah bilangan. Misalnya, dalam sistim Romawi angka “SATU” disimbolkan (ditulis) dengan huruf “I”. Angka “LIMA” disimbolkan “V”, Sepuluh=X, Limapuluh=L, Seratus=C, Limaratus=D, dan Seribu=M. Bila kita menemukan tulisan Romawi misalnya “MCMLXXV” itu maksudnya adalah angka “1975”.

Jadi Nilai numerik adalah nilai yang melekat pada huruf-huruf atau simbol. Nilai numerik dari setiap huruf Arab dapat dilihat pada table di bawah.


Jika kita memperhatikan sistem angka, maka akan kita dapatkan beberapa fakta bahwa:
  • Angka-angka itu adalah 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 dan 9. 
  • Maka kita perlu mengulang angka-angka itu lagi untuk menjadi 10 (puluhan), 100 (ratusan), 1000 (ribuan). 
  • Misalnya, untuk membuat angka 10, kita memilih 1 dan 0 dari deretan digit tunggal (0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9). 
  • Sehingga, angka 9 adalah angka digit tunggal terakhir. 
  • Sistem per-angka-an normal adalah tak terbatas. Kita seringkali menyebut angka ratusan, ribuan, jutaan, milyaran, dan seterusnya. Namun tidak terdapat “satu angka besar ” yang dapat disebut sebagai angka terakhir yang setelah itu tidak ada lagi angka lain. 
  • Dari sinilah angka 9 digunakan sebagai digit terakhir, tanpa ulangan.
Kaidah Abjad dan nilai numerik ini dipergunakan untuk menghitung nilai suatu nama, Asma Allah dan ayat-ayat Al-Quran. Misalnya dalam bacaan wirid-wirid Asmaul Husnah kita sering menemui jumlah angka wiridnya.

Contoh: Asma Allah “AL KHOBIR” dibaca “Yaa KHOBIR” sebanyak 812 kali. “AL LATHIIF” dibaca “Ya Lathiif” sebanyak 129 kali, Kalimat Basmalah dibaca 786 kali dan sebagainya. Angka-angka tersebut didapat dengan cara dihitung (hisab) dengan kaidah Abjadiyyah. Simak penjelasan berikut ini.

Cara Menghitung (Hisab) Huruf Asma Al-Husna dan Ayat-ayat Suci

Contoh 1: Asma AL-KHABIR :


Kata Asma AL-KHABIR dipisahkan perhuruf, yaitu: alif – lam – kha – ba – ya – ra.

Huruf alif dan lam pada AL tidak dihitung, jadi yang dihitung kata dasarnya (KHABIR = KHA – BA – YA – RA).

Dari tabel Nilai Numerik Huruf Arab (Abjad) didapatkan:

Kha nilainya = 600

Ba nilainya = 2

Ya nilainya = 10
Ra nilainya = 200 +

Jumlahnya = 812

Contoh 2: Asma AL-LATHIF :


Contoh 3: BASMALAH :


Inilah rahasia bacaan “Bismillahirrohmanirrohim” secara masyhur dibaca 786 kali. Para ulama terdahulu menghitungnya berdasarkan Kaidah Abjadiyyah ini.

Demikianlah salah satu kegunaan dari Ilmu Huruf Kaidah Abjadiyyah ini, dan tentu saja dalam ilmu hikmah, kaidah ini masih banya aplikasi pemakaiannya, misalnya sebagai dasar ilmu menulis wafaq (rajah).

(sumber)
»»  Baca selengkapnya...

Selasa, 03 April 2012

Empat Hal Sebelum Menyesal

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Apa kabar para blogger, khususnya para pengunjung blog saya? Sudah beberapa bulan lamanya saya tidak bersentuhan dengan blog tercinta ini. Bukannya lupa atau sengaja melupakan. Tetapi ini semata-mata karena persoalan waktu. Tapi bukan berarti sok sibuk, karena alasan kesibukan mungkin terlalu naif bagi orang biasa seperti saya. "Manajemen waktu", kira-kira begitulah maksudnya. Sebab diakui atau tidak, sampai sejauh ini saya masih belum bisa mengatur waktu dengan baik. Padahal waktu merupakan elemen penting bagi manusia untuk menentukan masa depannya.

Betapa vital peranan waktu, sampai-sampai dalam al-Qur`an Allah swt beberapa kali bersumpah atas nama waktu. Kita dapat menjumpainya di banyak tempat seperti di surat al-Lail, al-Fajr, al-Dhuha, dan al-'Ashr. Tidak hanya itu, matahari dan bulan yang merupakan sumber perputaran waktu pun dijadikan sebagai alat bersumpah.


Lama Namun Sebentar

Apakah waktu itu dan sejak kapan ia ada? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997), waktu adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. 

Seiring dengan terciptanya alam semesta, waktu pun ikut hadir di dalamnya. Penelitian ilmiah menyatakan bahwa bumi diperkirakan telah berusia 4,54 milyar tahun yang lalu. Benar-benar angka yang fantastis! Angka tersebut juga menunjukkan bahwa umur dunia sudah sangat renta. Namun, di mata Rasulullah saw waktu di dunia ini begitu singkat. Dalam sabdanya beliau menyatakan,

مَا لِي وَلِلدُّنْيَا ؟ مَا أَنَا في الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa urusanku dengan dunia. Di dunia ini, aku hanyalah bagaikan seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian berangkat lagi dan meninggalkan pohon itu.” (H.R. al-Tirmidzi)

Bayangkan! 4,54 milyar tahun yang telah dilalui oleh waktu tidak lain hanyalah persinggahan semata. Bagi seorang musafir, persinggahan tersebut merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya. Di sana ia harus memanfaatkan betul minimnya waktu yang ia miliki. Persinggahan tersebut bukan untuk berleha-leha, akan tetapi digunakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik agar perjalanan berikutnya dapat dilanjutkan hingga mencapai tujuan akhir yang diinginkan meskipun harus melalui berbagai macam rintangan.


Empat Hal Sebelum Menyesal

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh manusia dalam persinggahan dunia ini? Dan apa akibatnya jika tidak mematuhinya? Jawabannya tertera dalam surat al-'Ashr (103) : 1-3,

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ إِلَّا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”

Ayat di atas merupakan petunjuk bagi manusia agar menggunakan waktunya setidaknya untuk empat hal saja; 1) beriman, 2) beramal saleh, 3) saling menasehati dalam kebenaran, dan 4) saling menasehati dalam kesabaran. Selain itu, ayat tersebut juga sekaligus memberi peringatan bahwa jika keempat hal tersebut tidak dijalankan dengan baik, maka kita akan menjadi manusia yang merugi.

Hanya saja, kebanyakan manusia lupa bahwa mereka tidak memiliki banyak waktu. Sehingga sesampainya di tempat tujuan tidak ada yang didapat kecuali penyesalan yang begitu mendalam seraya berangan agar mereka dapat dikembalikan ke masa silam untuk memperbaiki keteledorannya dahulu.

Bentuk penyesalan ini tercantum dalam al-Qur`an surat al-Fajr (89) : 23-24,

وَجِآيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الْإِنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى يَقُوْلُ يَا لَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْ

“Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.”

dan surat al-Naba` (78) : 40,

إِنَّآ أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيْبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرَابًا

“Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu adalah tanah.”

Penutup
Setiap manusia pasti menginginkan kehidupan yang layak baik di kehidupan dunia maupun di akhirat nanti. Semua itu bergantung pada seberapa pintar kita memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya. Sejatinya, kita dapat melakukannya jika disertai dengan penuh kesadaran bahwa waktu yang telah lewat tidak dapat kembali lagi. Dan itu artinya kita hanya memiliki satu kali kesempatan untuk singgah dan tidak ada tempat persinggahan lagi setelah ini.

Mulai dari sekarang, tentukan masa depan Anda. Lakukan empat hal atau Anda akan menyesal!
»»  Baca selengkapnya...

Jumat, 18 November 2011

Mengenal Rating dan Share Suatu Program TV

Istilah rating dan share bagi sebagian orang bukan hal yang baru. Selalu dikatakan hidup-mati sebuah program TV tergantung rating dan share yang diraih. Tetapi hanya sedikit yang memahami makna rating dan share, juga bagaimana rating dan share dihasilkan. Ukuran seperti apakah yang digunakan AGB Nielsen Media Research dalam melakukan penelitiannya? Metode seperti apakah yang dilakukan?

Khusus untuk TV, sebutannya Television Audience Measurement (TAM) yang dilakukan Nielsen di Indonesia dan 26 negara lainnya. Survey itu dirancang bagi pengiklan, agensi iklan, maupun pengelola TV untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik karakter penonton TV dan acuan tontonan TV di kota-kota besar Indonesia.

Sejak 1991, Nielsen Indonesia telah menyediakan laporan rating mingguan bagi stasiun TV dan pengiklan mengunakan Layanan Rating Harian (penonton sampel mencatat acara yang ditonton serta di kanal mana, di dalam buku harian yang disediakan). Hasilnya dikirimkan pada NMR yang kemudian mentransfernya ke komputer.


Tahun 1997, NMR beralih menggunakan Peoplemeter System untuk mengembangkan pengukuran yang lebih akurat menit per menit.. Metode Peoplemeter untuk memperoleh gambaran lebih akurat mencakup 5 kota besar (Jabodetabek, Surabaya, Medan, Semarang, dan Bandung). Pada 2002 di tambah Makassar. Pada 2003 ditambah Yogyakarta (termasuk Bantul dan Sleman) serta Palembang, 2004 (Denpasar), dan 2006 (Banjarmasin). Survey Nielsen mencakup populasi 49,5 juta penonton TV.

Sejak Maret 2007, Nielsen memberikan layanan laporan rating harian. Informasi detil sebuah program acara bisa langsung diketahui sehari setelah acaranya tayang. Rating harian juga mencakup 10 kota besar Indonesia.

Angka rating dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, misalnya saja durasi suatu program, program tandingan, kualitas gambar yang diterima di rumah, penonton yang ada (available audience), jadwal tayang, waktu-waktu insidentil, juga pola kebiasaan penonton di daerah-daerah tertentu.

Rating program tidak mencerminkan kualitas program. Rating adalah presentase dari penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Yang diukur melalui rating ini kuantitas dan bukan kualitas suatu acara.

Rating = Jumlah penonton program A x 100 %
                         Populasi pemirsa TV

Dengan perhitungan rating yang menit per menit, panjangnya program mempengaruhi rating dari satu program. Misalnya program yang tadinya berdurasi 30 menit mempunyai rating 10. Ketika diperpanjang menjadi 60 menit, ratingnya turun menjadi 8 persen, dikarenakan angka pembagi yang semakin besar. 

Lantas, apakah share? Apa bedanya dengan rating? Share adalah persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu channel tertentu terhadap total pemirsa di semua channel.

Share = Program Rating x 100 %
                     Total Rating

Ada pula istilah Channel Share yakni persentase pemirsa TV di satu periode tertentu pada saluran TV. Rumus perhitungannya sebagai berikut:

Channel Share = Share x 100 % 
                          Total Pemirsa

Pada Channel Share yang dibandingkan bukan lagi acaranya, melainkan stasiun TV-nya.

Singkat kata, beda rating dan share yakni, angka rating menghitung jumlah penonton TV pada sebuah acara, sedang share menghitung persentase penonton TV di antara stasiun TV lain. Misal, jika ada 3 stasiun TV dengan populasi 10 ribu dan TV1 mempunyai angka penonton 2 ribu, TV2 seribu, dan TV3 seribu, maka rating TV1 20% dan share-nya 50%; TV2 rating 10%, share 25%; TV3 rating 10% dan share 25%. 

Dalam penentuan responden, NMR menggunakan metode Stratified Random atau acak bertingkat dan dikontrol berdasarkan kelas sosial ekonomi (SES) juga berdasarkan rumah tangga yang memiliki televisi. Klasifikasi SES AGB Nielsen Media Reserch Indonesia didasarkan pengeluaran pokok rutin bulanan rumah tangga seperti listrik, air, bahan bakar, makanan, ongkos sekolah, dll. Dan TIDAK termasuk pengeluaran tambahan seperti rokok maupun tagihan bulanan seperti tagihan rumah, mobil, kartu kredit, dll.

Dalam klasifikasi SES Nielsen terdapat kategirisasi berikut: A1 ( > Rp 3.5000.000), A2 (Rp 2.500.001-3.500.000), B (Rp 1.750.001-2.500.000), C1 (1.250.001-1.750.000), C2 (Rp 900.001-1.250.000), D (Rp 600.001-900.000), dan E (< Rp 600.000). 

Kriteria dari responden adalah pria dan wanita berusia 5 tahun ke atas, di rumah tangga yang memiliki televisi dalam keadaan baik. Metodologi survey kepemirsaan TV ini harus dilaksanakan sesuai dengan Global Guidelines for Television Audience Measurement (GG TAM) dan Nielsen TAM Gold Standard Worldwide yang diterapkan di negara-negara lain di seluruh dunia.

Sistem survei yang digunakan dengan alat Peoplemeter. Setiap responden yang terpilih akan dipasang alat itu di televisi mereka, yang dapat mendeteksi frekuensi TV. Alat ini terdiri dari handset yang berbentuk seperti remote control yang sudah diprogram untuk mencatat setiap anggota rumah tangga yang ada.

Jika salah satu anggota keluarga akan menonton suatu acara, mereka cukup menekan tombol khusus di handset yang sudah ditentukan. Setiap selesai menonton penonton harus memencet lagi tombol pertama. Dengan menggunakan metode Peoplemeter ini, margin of error dalam penghitungan data Nielsen berada di bawah 5 persen.

Secanggih apa pun metode penghitungan rating dan share yang dilakukan Nielsen, tentu saja tidak selalu memuaskan bagi pelaku bisnis televisi maupun masyarakat. Karena rating dan share tidak mengukur kualitas, banyak acara yang sebetulnya baik tapi karena ratingnya jeblok harus dihentikan.

Yah mau bagaimana lagi, bagi stasiun TV, angka rating sudah jadi panglima.

»»  Baca selengkapnya...

Kamis, 17 November 2011

"Jalan Dakwah": Potret Perjalanan Seorang Santri

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Seorang santri akan memanfaatkan sebaik mungkin waktunya ketika di dalam pesantren untuk menuntut ilmu keagamaan. Ilmu itu akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari setelah keluar dari pesantren. Jalan Dakwah merupakan potret kehidupan seorang santri dalam melakukan perjalanan untuk menyebarkan ilmu yang pernah ia dapatkan dalam pesantren. Sang santri akan berinteraksi dan berpartisipasi dengan masyarakat sekitar dan berusaha ikut mencari solusi ketika terjadi konflik disertai dengan penjelasan ayat al-Qur`an dan al-Hadits.

Tulisan di atas merupakan sinopsis program Jalan Dakwah, salah satu program bergenre religi milik stasiun televisi Trans7 yang tayang setiap hari Kamis, pkl. 05.00 WIBB. Program yang dirilis sejak Kamis 10 November 2011 ini didasari oleh keprihatinan banyak kalangan, khususnya kaum agamawan, terhadap berbagai fenomena yang muncul di tengah-tengah masyarakat awam yang kian bergeser dari apa yang telah digariskan oleh agama.

Dakwah, Partisipasi, dan Motivasi
Penulis sendiri ikut terlibat dalam pembuatan program tersebut sebagai host yang memerankan seorang santri yang baru selesai menempuh pendidikan agama di sebuah pesantren. Selepas dari pesantren, sang santri melakukan perjalanan panjang ke berbagai daerah guna mengaplikasikan ilmu yang telah ditimbanya di pesantren. Dalam perjalanannya, ia menemukan banyak hal yang dilakukan masyarakat yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama Islam.

Melihat kondisi demikian, ia pun menghampiri mereka dan mencoba meluruskannya kembali dengan berlandaskan dalil al-Qur`an, al-Hadits, serta fatwa para sahabat dan ulama yang disampaikan secara bijak dan santun. Dan ternyata apa yang disampaikan oleh santri tersebut dapat diterima dengan baik oleh setiap orang yang dihampirinya, sehingga dengan dakwahnya masyarakat semakin tercerahkan.

Namun, seringkali ia juga menemui hal-hal luar biasa yang dilakukan oleh segelintir orang. Terkadang ia melihat bagaimana seorang kakek tua yang masih mau bekerja keras dalam mencari rizki halal sebagai tukang becak demi menafkahi keluarganya. Penghasilan yang minim dan tidak tetap tidak membuat sang kakek berputus asa. Ia justru selalu mensyukuri berapapun rizki yang didapatkannya tanpa mengeluh sedikitpun.

Kagum dengan apa yang dilihatnya, sang santri pun tidak segan-segan membantu meringankan pekerjaannya. Setelah pekerjaan si kakek berhasil diselesaikan, ia memberikan support dan suntikan motivasi kepada kakek tersebut agar apa yang dilakukannya bermanfaat dan diridhoi oleh Allah swt.

Itulah misi yang dilakukan oleh santri tersebut dalam perjalanan panjangnya; berdakwah, berpartisipasi, dan memberikan motivasi.

Kru Jalan Dakwah
Producer: Purwanto
Associate Producer: Tunggul Bayu Aji
Reporter: Kholis
Camera Person: Anggit Jati Kusuma
Camera Person: Ilmawan Dwi Hertanto
Host: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils
»»  Baca selengkapnya...

Komentar