Photobucket

Laman

Jumat, 18 November 2011

Mengenal Rating dan Share Suatu Program TV

Istilah rating dan share bagi sebagian orang bukan hal yang baru. Selalu dikatakan hidup-mati sebuah program TV tergantung rating dan share yang diraih. Tetapi hanya sedikit yang memahami makna rating dan share, juga bagaimana rating dan share dihasilkan. Ukuran seperti apakah yang digunakan AGB Nielsen Media Research dalam melakukan penelitiannya? Metode seperti apakah yang dilakukan?

Khusus untuk TV, sebutannya Television Audience Measurement (TAM) yang dilakukan Nielsen di Indonesia dan 26 negara lainnya. Survey itu dirancang bagi pengiklan, agensi iklan, maupun pengelola TV untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik karakter penonton TV dan acuan tontonan TV di kota-kota besar Indonesia.

Sejak 1991, Nielsen Indonesia telah menyediakan laporan rating mingguan bagi stasiun TV dan pengiklan mengunakan Layanan Rating Harian (penonton sampel mencatat acara yang ditonton serta di kanal mana, di dalam buku harian yang disediakan). Hasilnya dikirimkan pada NMR yang kemudian mentransfernya ke komputer.


Tahun 1997, NMR beralih menggunakan Peoplemeter System untuk mengembangkan pengukuran yang lebih akurat menit per menit.. Metode Peoplemeter untuk memperoleh gambaran lebih akurat mencakup 5 kota besar (Jabodetabek, Surabaya, Medan, Semarang, dan Bandung). Pada 2002 di tambah Makassar. Pada 2003 ditambah Yogyakarta (termasuk Bantul dan Sleman) serta Palembang, 2004 (Denpasar), dan 2006 (Banjarmasin). Survey Nielsen mencakup populasi 49,5 juta penonton TV.

Sejak Maret 2007, Nielsen memberikan layanan laporan rating harian. Informasi detil sebuah program acara bisa langsung diketahui sehari setelah acaranya tayang. Rating harian juga mencakup 10 kota besar Indonesia.

Angka rating dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, misalnya saja durasi suatu program, program tandingan, kualitas gambar yang diterima di rumah, penonton yang ada (available audience), jadwal tayang, waktu-waktu insidentil, juga pola kebiasaan penonton di daerah-daerah tertentu.

Rating program tidak mencerminkan kualitas program. Rating adalah presentase dari penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Yang diukur melalui rating ini kuantitas dan bukan kualitas suatu acara.

Rating = Jumlah penonton program A x 100 %
                         Populasi pemirsa TV

Dengan perhitungan rating yang menit per menit, panjangnya program mempengaruhi rating dari satu program. Misalnya program yang tadinya berdurasi 30 menit mempunyai rating 10. Ketika diperpanjang menjadi 60 menit, ratingnya turun menjadi 8 persen, dikarenakan angka pembagi yang semakin besar. 

Lantas, apakah share? Apa bedanya dengan rating? Share adalah persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu channel tertentu terhadap total pemirsa di semua channel.

Share = Program Rating x 100 %
                     Total Rating

Ada pula istilah Channel Share yakni persentase pemirsa TV di satu periode tertentu pada saluran TV. Rumus perhitungannya sebagai berikut:

Channel Share = Share x 100 % 
                          Total Pemirsa

Pada Channel Share yang dibandingkan bukan lagi acaranya, melainkan stasiun TV-nya.

Singkat kata, beda rating dan share yakni, angka rating menghitung jumlah penonton TV pada sebuah acara, sedang share menghitung persentase penonton TV di antara stasiun TV lain. Misal, jika ada 3 stasiun TV dengan populasi 10 ribu dan TV1 mempunyai angka penonton 2 ribu, TV2 seribu, dan TV3 seribu, maka rating TV1 20% dan share-nya 50%; TV2 rating 10%, share 25%; TV3 rating 10% dan share 25%. 

Dalam penentuan responden, NMR menggunakan metode Stratified Random atau acak bertingkat dan dikontrol berdasarkan kelas sosial ekonomi (SES) juga berdasarkan rumah tangga yang memiliki televisi. Klasifikasi SES AGB Nielsen Media Reserch Indonesia didasarkan pengeluaran pokok rutin bulanan rumah tangga seperti listrik, air, bahan bakar, makanan, ongkos sekolah, dll. Dan TIDAK termasuk pengeluaran tambahan seperti rokok maupun tagihan bulanan seperti tagihan rumah, mobil, kartu kredit, dll.

Dalam klasifikasi SES Nielsen terdapat kategirisasi berikut: A1 ( > Rp 3.5000.000), A2 (Rp 2.500.001-3.500.000), B (Rp 1.750.001-2.500.000), C1 (1.250.001-1.750.000), C2 (Rp 900.001-1.250.000), D (Rp 600.001-900.000), dan E (< Rp 600.000). 

Kriteria dari responden adalah pria dan wanita berusia 5 tahun ke atas, di rumah tangga yang memiliki televisi dalam keadaan baik. Metodologi survey kepemirsaan TV ini harus dilaksanakan sesuai dengan Global Guidelines for Television Audience Measurement (GG TAM) dan Nielsen TAM Gold Standard Worldwide yang diterapkan di negara-negara lain di seluruh dunia.

Sistem survei yang digunakan dengan alat Peoplemeter. Setiap responden yang terpilih akan dipasang alat itu di televisi mereka, yang dapat mendeteksi frekuensi TV. Alat ini terdiri dari handset yang berbentuk seperti remote control yang sudah diprogram untuk mencatat setiap anggota rumah tangga yang ada.

Jika salah satu anggota keluarga akan menonton suatu acara, mereka cukup menekan tombol khusus di handset yang sudah ditentukan. Setiap selesai menonton penonton harus memencet lagi tombol pertama. Dengan menggunakan metode Peoplemeter ini, margin of error dalam penghitungan data Nielsen berada di bawah 5 persen.

Secanggih apa pun metode penghitungan rating dan share yang dilakukan Nielsen, tentu saja tidak selalu memuaskan bagi pelaku bisnis televisi maupun masyarakat. Karena rating dan share tidak mengukur kualitas, banyak acara yang sebetulnya baik tapi karena ratingnya jeblok harus dihentikan.

Yah mau bagaimana lagi, bagi stasiun TV, angka rating sudah jadi panglima.

»»  Baca selengkapnya...

Kamis, 17 November 2011

"Jalan Dakwah": Potret Perjalanan Seorang Santri

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Seorang santri akan memanfaatkan sebaik mungkin waktunya ketika di dalam pesantren untuk menuntut ilmu keagamaan. Ilmu itu akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari setelah keluar dari pesantren. Jalan Dakwah merupakan potret kehidupan seorang santri dalam melakukan perjalanan untuk menyebarkan ilmu yang pernah ia dapatkan dalam pesantren. Sang santri akan berinteraksi dan berpartisipasi dengan masyarakat sekitar dan berusaha ikut mencari solusi ketika terjadi konflik disertai dengan penjelasan ayat al-Qur`an dan al-Hadits.

Tulisan di atas merupakan sinopsis program Jalan Dakwah, salah satu program bergenre religi milik stasiun televisi Trans7 yang tayang setiap hari Kamis, pkl. 05.00 WIBB. Program yang dirilis sejak Kamis 10 November 2011 ini didasari oleh keprihatinan banyak kalangan, khususnya kaum agamawan, terhadap berbagai fenomena yang muncul di tengah-tengah masyarakat awam yang kian bergeser dari apa yang telah digariskan oleh agama.

Dakwah, Partisipasi, dan Motivasi
Penulis sendiri ikut terlibat dalam pembuatan program tersebut sebagai host yang memerankan seorang santri yang baru selesai menempuh pendidikan agama di sebuah pesantren. Selepas dari pesantren, sang santri melakukan perjalanan panjang ke berbagai daerah guna mengaplikasikan ilmu yang telah ditimbanya di pesantren. Dalam perjalanannya, ia menemukan banyak hal yang dilakukan masyarakat yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama Islam.

Melihat kondisi demikian, ia pun menghampiri mereka dan mencoba meluruskannya kembali dengan berlandaskan dalil al-Qur`an, al-Hadits, serta fatwa para sahabat dan ulama yang disampaikan secara bijak dan santun. Dan ternyata apa yang disampaikan oleh santri tersebut dapat diterima dengan baik oleh setiap orang yang dihampirinya, sehingga dengan dakwahnya masyarakat semakin tercerahkan.

Namun, seringkali ia juga menemui hal-hal luar biasa yang dilakukan oleh segelintir orang. Terkadang ia melihat bagaimana seorang kakek tua yang masih mau bekerja keras dalam mencari rizki halal sebagai tukang becak demi menafkahi keluarganya. Penghasilan yang minim dan tidak tetap tidak membuat sang kakek berputus asa. Ia justru selalu mensyukuri berapapun rizki yang didapatkannya tanpa mengeluh sedikitpun.

Kagum dengan apa yang dilihatnya, sang santri pun tidak segan-segan membantu meringankan pekerjaannya. Setelah pekerjaan si kakek berhasil diselesaikan, ia memberikan support dan suntikan motivasi kepada kakek tersebut agar apa yang dilakukannya bermanfaat dan diridhoi oleh Allah swt.

Itulah misi yang dilakukan oleh santri tersebut dalam perjalanan panjangnya; berdakwah, berpartisipasi, dan memberikan motivasi.

Kru Jalan Dakwah
Producer: Purwanto
Associate Producer: Tunggul Bayu Aji
Reporter: Kholis
Camera Person: Anggit Jati Kusuma
Camera Person: Ilmawan Dwi Hertanto
Host: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils
»»  Baca selengkapnya...

Senin, 14 November 2011

Program Sahabat Jauh: Numpang Akting di AstroTV

Republika: Sabtu, 09 Februari 2008


Pagi itu Prahara akan menjenguk dua orang sahabat jauhnya di Pondok Buntet Pesantren yang terletak sekitar 45 menit dari Kota Cirebon, Jawa Barat. Layaknya teman yang lama tak jumpa, Prahara pun terlihat sangat berbahagia bertemu Zidni yang mengenakan sarung, baju koko, dan berkopiah ketika menyambutnya di depan sebuah rumah di komplek asrama Pondok Pesantren Buntet. ''Assalamualaikum, apa kabar sahabat,'' ujar Prahara pada Zidni.

''Waalaikumussalam, alhamdulillah kabarku baik,'' jawab Zidni. Pertemuan sederhana itu adalah sepenggal adegan program Sahabat Jauh garapan rumah produksi Double Vision yang akan tayang di Astro Oasis. Kali ini untuk edisi Cirebon, Sahabat Jauh sudah memasuki episode 45 dari 52 epiosde yang akan diproduksi.

Seperti namanya, tayangan selama 30 menit setiap hari Jumat yang dimulai pukul 21.00 WIB ini memang mengambil tema sahabat. Para sahabat yang muncul pun sahabat yang cukup spesifik, yaitu sahabat yang mondok di pesantren-pesantren yang ada di sekitar Pulau Jawa. ''Untuk 52 episode ini kami memang fokus ke daerah sekitar Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta kawasan lain seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi,'' ujar di sela-sela shootingyang berlangsung di Pondok Buntet Pesantren itu.

Dalam proses pengambilan adegan kali ini, sejumlah kegiatan unik di Pondok Buntet Pesantren masuk juga dalam episode ke-45 ini. Seperti kegiatan memandikan jenazah yang menjadi salah satu mata pelajaran pokok di pesantren ini. ''Meski tak selalu memandikan jenazah, di pesantren ini kegiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan dan setiap siswa bisa melakukannya,'' ujar Zidni yang berperan menjadi sahabat Prahara kali ini.

Ganti Kostum
Dalam kisah ini, Prahara adalah seorang mahasiswa yang sedang berkelana menggunakan berbagai jenis alat transportasi. Sebagian besar, ujar Yudi Agustia selaku asisten produser, menggunakan transportasi umum seperti bus maupun mobil kecil yang khas ala mahasiswa.

Tapi, alat transportasi seperti becak atau ojek turut digunakan Prahara untuk menjangkau pesantren yang akan ia tengok. ''Ya terkadang pesantren yang kita tuju tak dilewati angkutan umum. Jadilah, becak atau ojek yang kita pakai sebagai alat transportasi Prahara,'' ujar Yudi.

Untuk perannya ini, Prahara yang datang dengan pakaian kasual seperti celana jeans, kaos, dan jaket pun harus berganti kostum untuk menyesuaikan. Seketika, pakaian yang ia simpan dalam ransel seperti sarung, baju koko, dan kupluk langsung dikenakan.

Untuk menyiasati pergantian pakaian host agar tak terlihat kaku, tim kreatif biasanya mengganti pakaian Prahara bersamaan dengan waktu shalat seperti saat Dzuhur atau shalat Jumat. ''Saya biasanya berganti baju ketika akan shalat Dzuhur,'' papar Prahara. Dengan sarung dan baju koko inilah, Prahara membawakan acara selama di dalam pesantren.

Sosok Prahara dianggap pas sebagai host dengan alasan khusus. ''Kami memang memilih host laki-laki karena faktor fleksibilitas,'' tutur Henry.

Bagi Henry, ada kemudahan tersendiri bila host acara ini berjenis kelamin laki-laki di antaranya keleluasaan ketika memasuki kawasan pesantren.

Selain itu, host yang memiliki tinggi 177 sentimeter ini dianggap memiliki latar belakang yang cukup sebagai host acara religius. Terlebih, Prahara terbilang sangat kooperatif dengan citra pribadi yang baik, serta penguasaan keislaman yang cukup.

Selama shooting, Prahara sendiri mengaku tidak mengalami kesulitan berarti. Pengalaman menjadi host sebuah tayangan infotainment dan juga menjadi pemeran dalam sejumlah sinetron boleh jadi amat membantu beradaptasi di depan kamera.

Justru Prahara sempat mengalami pengalaman unik ketika shooting Sahabat Jauh. Misalnya, ketika shooting di sebuah pesantren di wilayah Tangerang, Prahara cukup bingung saat harus mengikuti kegiatan sehari-hari para santri yang memerah susu. ''Awal saya memegang puting sapi yang diperah, saya merasa aneh. Begitu saya berusaha memencetnya, susu tak kunjung keluar,'' papar Prahara.

Ternyata, teknik yang Prahara lakukan salah. Begitu bisa keluar, susunya memancar ke arah muka Prahara. Akhirnya, untuk scene memerah susu pun harus diulang lebih dari tiga kali dengan angle yang sama. Ada juga kejadian yang cukup membuat waswas para kru saat mengambil adegan di tanah persawahan Bekasi. Prahara yang ikut kegiatan menanam padi rela bermandikan lumpur. Namun, kru khususnya para penata kamera harus amat hati-hati menjaga kameranya agar tak jatuh ke sawah.

Maklum saja, tanah tempat tripod dipijak sangat labil dan basah. Alas berupa papan kayu digelar di atas tanah untuk membantu tripod menopang. Tim produksi pun mengambil inisiatif lain dengan melakukan pengambilan gambar dengan pola zoom in.

Hal serupa juga terjadi saat mengambil gambar di sebuah dapur umum, tempat untuk memasak makanan para santri di sebuah pesantren di wilayah Bekasi. ''Hampir tiap kali take gambar, uap memasak menghalangi ketajaman gambar,'' ujar Yudi. Akhirnya, sang penata kamera menyiasati dengan mengambil gambar saat sedang tidak menggoreng atau merebus yang mengeluarkan banyak asap.

Di Cirebon, proses shooting terbilang lancar. Sejak pagi, Prahara dan kru yang berjumlah sekitar sembilan orang itu sudah menyambangi empat lokasi. Berawal dari shooting yang menggunakan dua kamera 30 milimeter itu di Terminal Cirebon, mereka pun bergerak ke sebuah sekolah perawat. Setelah itu barulah mereka beramai-ramai naik bus dalam kota menuju Pondok Buntet Pesantren dan sempat pula menyambangi para sesepuh pesantren. Dari sana, mereka mendatangi asrama santri.

Tak terasa, hari beranjak sore. Masih ada satu lokasi yang harus diselesaikan, yaitu makam pendiri Pondok Buntet yang memiliki nilai sejarah di sekitar Cirebon. Tanpa jeda, mereka langsung bergerak menuju lokasi. Hari itu juga berakhirlah episode Cirebon.

Santri Grogi
Dalam setiap episode, Prahara menemui sahabatnya yang tinggal sementara di pesantren. Dikisahkan, Prahara mengenal sahabatnya itu melalui internet yang kemudian berlanjut dengan komunikasi lewat telepon seluler yang berujung pada pertemuan.

Lantaran mereka itu bukan sosok yang dikenalnya sejak lama, sahabat-sahabat Prahara yang ada dalam Sahabat Jauh sangat beragam. Tidak melulu para siswa dari tingkat madrasah, tsanawiyah, atau aliyah, namun bisa juga guru atau pegawai yang bekerja di lingkungan dalam pesantren.

Tak jarang sahabat-sahabat yang hadir memiliki keahlian khusus. Misalnya, mereka sangat memahami sejarah dan pengetahuan Islam maupun punya keterampilan lain seperti kaligrafi. Usia para sahabat Prahara pun bermacam-macam. Ada yang lebih muda dengan usia 20 tahun atau lebih dari 30 tahun, perempuan maupun laki-laki.

Sahabat-sahabat baru Prahara ini jumlahnya hampir 100 orang. Dalam tiap tayangan, Prahara menemui paling tidak dua orang sahabat --satu sebagai pemeran sahabat utama dan satu lainnya sebagai sahabat penghubung ke pemeran sahabat utama.

Lantaran sebagian besar 'sahabat' Prahara itu adalah orang biasa yang tak pernah tampil di depan kamera, mereka pun menghadapi masalah klasik: Grogi.

Padahal, saat membaca naskah sebelum shooting berlangsung mereka sudah lancar menghafal dialog, rupanya situasi berbeda muncul ketika kamera menyala.

Seperti pada pengambilan adegan antara Zidni dan Prahara, seorang penata kamera harus mengambil ulang adegan bersalaman lantaran Zidni grogi mengucapkan salam.

Hal itu, kata pria bernama lengkap Muhammad Prahara ini, biasa terjadi dan sangat bisa dimaklumi. Untuk menghilangkan grogi sang sahabat dan melakukan penyesuaian diri dengan sahabat baru yang memiliki latar belakang berbeda, Prahara biasanya sempat ngobrol dulu beberapa hari sebelum shooting.

Bila jadwalnya amat padat, proses adaptasi pun terpaksa dilakukan beberapa jam sebelum shooting. ''Ya, saya berusaha berbincang layaknya bicara dengan teman saya, santai, enjoy, dan banyak bercanda. Ini agar mereka saat shooting juga rileks dan tak kaku,'' papar Prahara.

Selain pendekatan dengan sahabat seraya mendalami naskah, Prahara pun sudah mempelajari materi yang akan dibawakan jauh hari sebelum shooting. Bahkan, kira-kira dua minggu sebelumnya. Maklum, hal ini dilakukan lantaran banyak kosa kata Islam yang cukup asing di telinga Prahara. ''Jadinya, aku harus mempelajari dengan seksama dan rajin bertanya jika menemukan kosa kata yang belum pernah aku temui biar tidak salah pengucapannya,'' tambah Prahara.

Bernilai Sejarah
Mengapa pesantren? Pertanyaan inilah yang menggelitik ketika menyaksikan program Sahabat Jauh. Rupanya, potret institusi pendidikan Islam dalam bentuk pesantren masa kini sudah terkenal di mancanegara. ''Indonesia sangat terkenal dengan pesantrennya. Kami pun ingin mengangkatnya agar kegiatan pesantren ini lebih diketahui oleh masyarakat Indonesia khususnya sehingga tak kalah populer dengan intitusi pendidikan lain,'' ujar Dewi Fadjar, direktur program Astro Indonesia, seperti dikutip dalam siaran pers.

Henry pun mengungkapkan, di Pulau Jawa banyak pesantren yang cukup menarik. Untuk Jawa Barat dan Jawa Tengah termasuk Jakarta sudah ada terdata sedikitnya 1.000 pesantren.

Untuk memilih pesantren yang akan ditengok oleh Prahara, tim produksi Double Vision Indonesia pun melakukan serangkaian riset. Diawali dengan melakukan browsing di internet, tim produksi juga meninjau langsung lokasi puluhan pesantren sebelum akhirnya memilih sekitar 50-an pesantren yang akan diangkat dalam tayangan program.

Respons yang diberikan oleh para institusi pendidikan agama yang dikenal dengan pondok pesantren juga cukup bagus. Bahkan, beberapa pesantren melayangkan surat permohonan untuk menjadi salah satu pondok pesantren yang akan ditengok oleh Prahara dalam Sahabat Jauh, papar Henry. Namun, Double Vision Indonesia cukup selektif dalam memilih pondok pesantren. Pemilihan itu bisa saja dari nilai sejarahnya ataupun kegiatan-kegiatan unik yang dimiliki masing-masing pesantren. Seperti pada Pondok Buntet Pesantren. Nilai sejarah pesantren ini terletak dari tahun berdirinya. Pondok Buntet Pesantren didirikan oleh Mbah Muqoyyim yang masih keluarga Kesultanan Cirebon pada tahun 1758. Pesantren yang sudah sangat tua. Di salah satu komplek pesantren yang ada di wilayah Kecamatan Astanajapura ini juga berdiri cukup megah sebuah masjid dengan pilar kayu jati yang tetap kokoh dibangun oleh Sunan Gunung Jati.

Adanya nilai sejarah tersebut, menurut Henry Sastrawijaya, marketing executive Double Vision Indonesia, bisa memberikan wawasan baru bagi penontonnya. ''Sehingga tayangan yang bersifat religi ini kami harap bisa menjadi sarana penambah pengetahuan bagi yang menonton. Bukan hanya tontonan yang sifatnya hanya menghibur,'' ujar dia.

»»  Baca selengkapnya...

Sundaland = Benua Atlantis yang Hilang?

Oleh: Budi Brahmantyo
Anggota KK Geologi Terapan FIKTM-ITB, dan anggota KRCB dan IAGI.


Mitos Atlantis muncul ketika mahaguru Socrates berdialog dengan ketiga muridnya; Timaeus, Critias dan Hermocrates. Critias menuturkan kepada Socartes di hadapan Timaeus dan Hermocrates cerita tentang sebuah negeri dengan peradaban tinggi yang kemudian ditenggelamkan oleh Dewa Zeus karena penduduknya yang dianggap pendosa. Critias mengaku ceritanya adalah true story, sebagai pantun turun temurun dari kakek buyut Critias sendiri yang juga bernama Critias.

Critias, si kakek buyut, mengetahui tentang Atlantis dari seorang Yunani bernama Solon. Solon sendiri dikuliahi tentang Atlantis oleh seorang pendeta Mesir, ketika ia mengunjungi Kota Sais di delta Sungai Nil. Bayangkan cerita lisan turun temurun yang mungkin banyak terjadi distorsi ketika Critias, si cicit, menceritakan kembali kepada Socrates, sebelum ditulis oleh Plato.

Di luar dari distorsi yang mungkin terjadi, tulisan tentang dialog Socrates, Timaeus dan Critias tentang Atlantis yang ditulis Plato adalah sumber tertulis yang menjadi referensi utama. Dari dialog itulah tergambar suatu negeri yang makmur, gemah ripah loh jinawi yang bernama Atlantis. Letak negeri berada di depan selat yang diapit Pilar-pilar Hercules (the Pillars of Heracles).

Negeri itu lebih besar dari gabungan Libia dan Asia. Terdapat jalan ke pulau-pulau lain di mana dari tempat ini akan ditemui sisi lain negeri yang dikelilingi oleh lautan sejati. Laut ini yang berada pada Selat Heracles hanyalah satu-satunya pelabuhan dengan gerbang sempit. Tetapi laut yang lain adalah samudera luas di mana benua yang mengelilinginya adalah benua tanpa batas.

Di Atlantis inilah terdapat kerajaan besar yang menguasai seluruh pulau dan daerah sekitarnya, termasuk Libia, kolom-kolom Heracles, sampai sejauh Mesir, dan di Eropa sampai sejauh Tyrrhenia. Lalu terjadilah gempa bumi dan banjir yang melanda negeri itu. Dalam hanya satu hari satu malam, seluruh penghuninya ditenggelamkan ke dalam bumi, dan Atlantis menghilang ditelan laut.

Cerita tragis yang memunculkan mitos Atlantis itu, bila kita cermati memang akan mengarah secara geografis di sekitar Laut Tengah (Mediterania). Selain nama-nama Libia, Mesir, Eropa dan Tyrrhenia, disebut pula selat dengan pilar-pilar Hercules yang tidak lain adalah Selat Gibraltar (atau dalam bahasa Arab, Selat Jabaltarik), selat di Laut Tengah antara Eropa dan Afrika yang merupakan gerbang ke Samudera Atlantik. Apakah betul Atlantis sebuah benua yang lebih besar dari gabungan Libia dan Asia? Pendapat ini ditentang juga sebagai salah terjemah kata Yunani meson (lebih besar) dengan kata mezon (di antara).

Sundaland
Memang betul, konotasi Atlantis tidak harus mengacu kepada Samudera Atlantik. Tetapi berdasarkan lingkungan kesejarahan dan geografis, para ahli akhirnya berkonsentrasi mencari Atlantis di sekitar Laut Tengah, antara Libia dan Turki yang dikenal sebagai Asia pada waktu itu. Sebelum Profesor Santos berargumen bahwa Atlantis adalah Sundaland, pendapat yang paling banyak diterima adalah bahwa negeri itu ada di tengah-tengah Samudera Atlantis sendiri, yaitu di Kepulauan Azores milik Portugal yang berada 1.500 km sebelah barat pantai Portugal. Tidak ada bukti arkeologis yang mengukuhkan pendapat ini.

Tempat yang paling meyakinkan sebagai Atlantis adalah Pulau Thera di Laut Aegea, sebelah timur Laut Tengah. Pulau Thera yang dikenal pula sebagai Santorini adalah pulau gunung api yang terletak di sebelah utara Pulau Kreta. Sekira 1.500 SM, sebuah letusan dahsyat gunung api ini mengubur dan menenggelamkan kebudayaan Minoan. Hasil galian arkeologis memang menunjukkan bahwa kebudayaan Minoan merupakan kebudayaan yang sangat maju di Eropa pada zamannya.

Pendapat Profesor Santos bahwa Atlantis adalah Sundaland atau Indonesia mempunyai banyak kelemahan. Pertama, tidak terdeskripsi dari cerita Solon melalui Critias bahwa Atlantis berada wilayah tropis. Kedua, deskripsi geografis di sekitar benua mitos itu mengarah semua ke Mediterania. Saya tidak tahu, lokasi mana yang ditunjuk Profesor Santos dalam bukunya sebagai selat dengan pilar-pilar Hercules.

Tetapi ia (melalui tulisan Profesor Priyatna ”PR” 2 Oktober 2006), berargumen bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung api aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Ketiga, Profesor Santos mengarahkan bingkai waktu Atlantis pada zaman es kala waktu Pleistosen. Zaman es terakhir (Wurm) terjadi pada maksimum 18.000 tahun yang lalu. Saat itu, tutupan es di kutub-kutub Bumi meluas hingga lintang 60 derajat, dan air laut di khatulistiwa surut tajam. Di Kepulauan Indonesia, sebuah pendapat mengatakan bahwa air laut surut hingga minus 140 m dari muka air laut sekarang. Maka, perairan Laut Jawa, Selat Karimata dan Laut Cina Selatan yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 100 m, berubah menjadi daratan. Itulah yang kemudian dikenal sebagai Sundaland.

Setelah 18.000 tahun yang lalu, permukaan laut mulai naik seiring dengan masuknya zaman antar-es. Muka air laut naik terus hingga sekitar 5 m di atas muka laut sekarang pada sekira 5.000 tahun yang lalu, sebelum turun kembali hingga pada posisinya sekarang. Artinya, penenggelaman Sundaland akan berjalan sangat pelan (evolutif), memakan waktu 13.000 tahun. Padahal menurut cerita Critias, Atlantis tenggelam hanya dalam satu hari satu malam!

Keempat, kebudayaan Indonesia pada Pleistosen Akhir, bahkan hingga awal Holosen (11.000 tahun yang lalu) masih budaya pengumpul hasil hutan dan berburu. Peralatannya adalah kayu, bambu dan batu, dengan rekayasa sangat sederhana. Mereka tinggal di gua-gua atau teras sungai dengan tempat bernaung dari ranting kayu dan dedaunan. Tidak ada pendapat satu pun yang menggolongkan budaya Paleolitik seperti itu sebagai budaya yang dianggap maju dan tinggi dalam pengertian yang sepadan ketika Plato menuliskan bukunya.

Sekali lagi, saya belum membaca buku Profesor Santos itu. Tetapi dari paparan tulisan Prof. Priyatna, dengan sedikitnya keempat argumen di atas, anggapan bahwa Indonesia (Sundaland) adalah Atlantis sulit untuk dapat diterima. Tentu saja walaupun tulisan ini membantah Indonesia sebagai Atlantis, kita harus tetap sangat bangga dengan Sundaland di Indonesia, karena dari ilmu-ilmu geologi, arkeologi, geografi, biogeografi, linguistik dan lain-lain, kawasan Sundaland diakui kepentingannya secara internasional. Dengan fakta-fakta ilmiah itu, seperti pendapat Profesor Priyatna Abdurrasyid, membuat kita harus bersyukur dan tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Indonesia dengan Sundaland-nya, sekalipun akan terbantah bukan Atlantis, adalah kekayaan intelektual yang tetap diakui secara internasional.

»»  Baca selengkapnya...

Dua Puluh Empat Syarat Menjadi Atlantis: Mungkinkah Indonesia?

Berikut 24 syarat Atlantis (di mana saja di seluruh dunia) hasil kesepakatan para peneliti Atlantis dari 15 negara yang berkumpul di Pulau Milos, Yunani, dari 11 hingga 13 Juli 2005. Mereka bertukar pikiran mengenai keberadaan Benua Atlantis.

Selama konferensi dengan judul “Hipotesis Atlantis – Mencari Benua yang Hilang”, para spesialis dalam bidang arkeologi, geologi, volkanologi, dan ilmu-ilmu lain memperesentasikan pandangannya tentang keberadaan Atlantis, waktu menghilangnya, penyebabnya, dan kebudayaannya.

Berdasarkan kepada tulisan Plato, peserta konferensi akhirnya setuju pada 24 kriteria yang secara geografis harus memenuhi persyaratan keberadaan lokasi Atlantis, yaitu:
  1. Metropolis Atlantis harus terletak di suatu tempat yang tanahnya pernah ada atau sebagian masih ada.
  2. Metropolis Atlantis harus mempunyai morfologi yang jelas berupa selang-seling daratan dan perairan yang berbentuk cincin memusat.
  3. Atlantis harus berada di luar Pilar-pilar Hercules.
  4. Metropolis Atlantis lebih besar dari Libya dan Anatolia, dan Timur Tengah dan Sinai (gabungan).
  5. Atlantis harus pernah dihuni oleh masyarakat maju/beradab/cerdas (literate population) dengan ketrampilan dalam bidang metalurgi dan navigasi.
  6. Metropolis Atlantis harus secara rutin dapat dicapai melalui laut dari Athena.
  7. Pada waktu itu, Atlantis harus berada dalam situasi perang dengan Athena.
  8. Metropolis Atlantis harus mengalami penderitaan dan kehancuran fisik parah yang tidak terperikan (unprecedented proportions).
  9. Metropolis Atlantis harus tenggelam seluruhnya atau sebagian di bawah air.
  10. Waktu kehancuran Metropolis Atlantis adalah 9000 tahun Mesir, sebelum abad ke-6 SM.
  11. Bagian dari Atlantis berada sejauh 50 stadia (7,5 km) dari kota.
  12. Atlantis padat penduduk yang cukup untuk mendukung suatu pasukan besar (10.000 kereta perang, 1.200 kapal, 1.200.000 pasukan).
  13. Ciri agama penduduk Atlantis adalah mengurbankan banteng-banteng.
  14. Kehancuran Atlantis dibarengi oleh adanya gempa bumi.
  15. Setelah kehancuran Atlantis, jalur pelayaran tertutup.
  16. Gajah-gajah hidup di Atlantis.
  17. Tidak mungkin terjadi proses-proses selain proses-proses fisik atau geologis yang menyebabkan kehancuran Atlantis.
  18. Banyak mata air panas dan dingin, dengan kandungan endapan mineral, terdapat di Atlantis.
  19. Atlantis terletak di dataran pantai berukuran 2000 X 3000 stadia, dikelilingi oleh pegunungan yang langsung berbatasan dengan laut.
  20. Atlantis menguasai negara-negara lain pada zamannya.
  21. Angin di Atlantis berhembus dari arah utara (hanya terjadi di belahan bumi utara).
  22. Batuan Atlantis terdiri dari bermacam warna: hitam, putih, dan merah.
  23. Banyak saluran-saluran irigasi dibuat di Atlantis.
  24. Setiap 5 dan 6 tahun sekali, penduduk Atlantis berkurban banteng.
Dari 24 syarat di atas, mungkinkah Atlantis berada di Sundaland? Di Indonesia? Silakan pertimbangkan sendiri.

»»  Baca selengkapnya...

Komentar