Photobucket

Laman

Jumat, 18 November 2011

Mengenal Rating dan Share Suatu Program TV

Istilah rating dan share bagi sebagian orang bukan hal yang baru. Selalu dikatakan hidup-mati sebuah program TV tergantung rating dan share yang diraih. Tetapi hanya sedikit yang memahami makna rating dan share, juga bagaimana rating dan share dihasilkan. Ukuran seperti apakah yang digunakan AGB Nielsen Media Research dalam melakukan penelitiannya? Metode seperti apakah yang dilakukan?

Khusus untuk TV, sebutannya Television Audience Measurement (TAM) yang dilakukan Nielsen di Indonesia dan 26 negara lainnya. Survey itu dirancang bagi pengiklan, agensi iklan, maupun pengelola TV untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik karakter penonton TV dan acuan tontonan TV di kota-kota besar Indonesia.

Sejak 1991, Nielsen Indonesia telah menyediakan laporan rating mingguan bagi stasiun TV dan pengiklan mengunakan Layanan Rating Harian (penonton sampel mencatat acara yang ditonton serta di kanal mana, di dalam buku harian yang disediakan). Hasilnya dikirimkan pada NMR yang kemudian mentransfernya ke komputer.


Tahun 1997, NMR beralih menggunakan Peoplemeter System untuk mengembangkan pengukuran yang lebih akurat menit per menit.. Metode Peoplemeter untuk memperoleh gambaran lebih akurat mencakup 5 kota besar (Jabodetabek, Surabaya, Medan, Semarang, dan Bandung). Pada 2002 di tambah Makassar. Pada 2003 ditambah Yogyakarta (termasuk Bantul dan Sleman) serta Palembang, 2004 (Denpasar), dan 2006 (Banjarmasin). Survey Nielsen mencakup populasi 49,5 juta penonton TV.

Sejak Maret 2007, Nielsen memberikan layanan laporan rating harian. Informasi detil sebuah program acara bisa langsung diketahui sehari setelah acaranya tayang. Rating harian juga mencakup 10 kota besar Indonesia.

Angka rating dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor, misalnya saja durasi suatu program, program tandingan, kualitas gambar yang diterima di rumah, penonton yang ada (available audience), jadwal tayang, waktu-waktu insidentil, juga pola kebiasaan penonton di daerah-daerah tertentu.

Rating program tidak mencerminkan kualitas program. Rating adalah presentase dari penonton suatu acara dibandingkan dengan total atau spesifik populasi pada waktu tertentu. Yang diukur melalui rating ini kuantitas dan bukan kualitas suatu acara.

Rating = Jumlah penonton program A x 100 %
                         Populasi pemirsa TV

Dengan perhitungan rating yang menit per menit, panjangnya program mempengaruhi rating dari satu program. Misalnya program yang tadinya berdurasi 30 menit mempunyai rating 10. Ketika diperpanjang menjadi 60 menit, ratingnya turun menjadi 8 persen, dikarenakan angka pembagi yang semakin besar. 

Lantas, apakah share? Apa bedanya dengan rating? Share adalah persentase jumlah pemirsa atau target pemirsa pada ukuran satuan waktu tertentu pada suatu channel tertentu terhadap total pemirsa di semua channel.

Share = Program Rating x 100 %
                     Total Rating

Ada pula istilah Channel Share yakni persentase pemirsa TV di satu periode tertentu pada saluran TV. Rumus perhitungannya sebagai berikut:

Channel Share = Share x 100 % 
                          Total Pemirsa

Pada Channel Share yang dibandingkan bukan lagi acaranya, melainkan stasiun TV-nya.

Singkat kata, beda rating dan share yakni, angka rating menghitung jumlah penonton TV pada sebuah acara, sedang share menghitung persentase penonton TV di antara stasiun TV lain. Misal, jika ada 3 stasiun TV dengan populasi 10 ribu dan TV1 mempunyai angka penonton 2 ribu, TV2 seribu, dan TV3 seribu, maka rating TV1 20% dan share-nya 50%; TV2 rating 10%, share 25%; TV3 rating 10% dan share 25%. 

Dalam penentuan responden, NMR menggunakan metode Stratified Random atau acak bertingkat dan dikontrol berdasarkan kelas sosial ekonomi (SES) juga berdasarkan rumah tangga yang memiliki televisi. Klasifikasi SES AGB Nielsen Media Reserch Indonesia didasarkan pengeluaran pokok rutin bulanan rumah tangga seperti listrik, air, bahan bakar, makanan, ongkos sekolah, dll. Dan TIDAK termasuk pengeluaran tambahan seperti rokok maupun tagihan bulanan seperti tagihan rumah, mobil, kartu kredit, dll.

Dalam klasifikasi SES Nielsen terdapat kategirisasi berikut: A1 ( > Rp 3.5000.000), A2 (Rp 2.500.001-3.500.000), B (Rp 1.750.001-2.500.000), C1 (1.250.001-1.750.000), C2 (Rp 900.001-1.250.000), D (Rp 600.001-900.000), dan E (< Rp 600.000). 

Kriteria dari responden adalah pria dan wanita berusia 5 tahun ke atas, di rumah tangga yang memiliki televisi dalam keadaan baik. Metodologi survey kepemirsaan TV ini harus dilaksanakan sesuai dengan Global Guidelines for Television Audience Measurement (GG TAM) dan Nielsen TAM Gold Standard Worldwide yang diterapkan di negara-negara lain di seluruh dunia.

Sistem survei yang digunakan dengan alat Peoplemeter. Setiap responden yang terpilih akan dipasang alat itu di televisi mereka, yang dapat mendeteksi frekuensi TV. Alat ini terdiri dari handset yang berbentuk seperti remote control yang sudah diprogram untuk mencatat setiap anggota rumah tangga yang ada.

Jika salah satu anggota keluarga akan menonton suatu acara, mereka cukup menekan tombol khusus di handset yang sudah ditentukan. Setiap selesai menonton penonton harus memencet lagi tombol pertama. Dengan menggunakan metode Peoplemeter ini, margin of error dalam penghitungan data Nielsen berada di bawah 5 persen.

Secanggih apa pun metode penghitungan rating dan share yang dilakukan Nielsen, tentu saja tidak selalu memuaskan bagi pelaku bisnis televisi maupun masyarakat. Karena rating dan share tidak mengukur kualitas, banyak acara yang sebetulnya baik tapi karena ratingnya jeblok harus dihentikan.

Yah mau bagaimana lagi, bagi stasiun TV, angka rating sudah jadi panglima.

»»  Baca selengkapnya...

Kamis, 17 November 2011

"Jalan Dakwah": Potret Perjalanan Seorang Santri

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Seorang santri akan memanfaatkan sebaik mungkin waktunya ketika di dalam pesantren untuk menuntut ilmu keagamaan. Ilmu itu akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari setelah keluar dari pesantren. Jalan Dakwah merupakan potret kehidupan seorang santri dalam melakukan perjalanan untuk menyebarkan ilmu yang pernah ia dapatkan dalam pesantren. Sang santri akan berinteraksi dan berpartisipasi dengan masyarakat sekitar dan berusaha ikut mencari solusi ketika terjadi konflik disertai dengan penjelasan ayat al-Qur`an dan al-Hadits.

Tulisan di atas merupakan sinopsis program Jalan Dakwah, salah satu program bergenre religi milik stasiun televisi Trans7 yang tayang setiap hari Kamis, pkl. 05.00 WIBB. Program yang dirilis sejak Kamis 10 November 2011 ini didasari oleh keprihatinan banyak kalangan, khususnya kaum agamawan, terhadap berbagai fenomena yang muncul di tengah-tengah masyarakat awam yang kian bergeser dari apa yang telah digariskan oleh agama.

Dakwah, Partisipasi, dan Motivasi
Penulis sendiri ikut terlibat dalam pembuatan program tersebut sebagai host yang memerankan seorang santri yang baru selesai menempuh pendidikan agama di sebuah pesantren. Selepas dari pesantren, sang santri melakukan perjalanan panjang ke berbagai daerah guna mengaplikasikan ilmu yang telah ditimbanya di pesantren. Dalam perjalanannya, ia menemukan banyak hal yang dilakukan masyarakat yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip agama Islam.

Melihat kondisi demikian, ia pun menghampiri mereka dan mencoba meluruskannya kembali dengan berlandaskan dalil al-Qur`an, al-Hadits, serta fatwa para sahabat dan ulama yang disampaikan secara bijak dan santun. Dan ternyata apa yang disampaikan oleh santri tersebut dapat diterima dengan baik oleh setiap orang yang dihampirinya, sehingga dengan dakwahnya masyarakat semakin tercerahkan.

Namun, seringkali ia juga menemui hal-hal luar biasa yang dilakukan oleh segelintir orang. Terkadang ia melihat bagaimana seorang kakek tua yang masih mau bekerja keras dalam mencari rizki halal sebagai tukang becak demi menafkahi keluarganya. Penghasilan yang minim dan tidak tetap tidak membuat sang kakek berputus asa. Ia justru selalu mensyukuri berapapun rizki yang didapatkannya tanpa mengeluh sedikitpun.

Kagum dengan apa yang dilihatnya, sang santri pun tidak segan-segan membantu meringankan pekerjaannya. Setelah pekerjaan si kakek berhasil diselesaikan, ia memberikan support dan suntikan motivasi kepada kakek tersebut agar apa yang dilakukannya bermanfaat dan diridhoi oleh Allah swt.

Itulah misi yang dilakukan oleh santri tersebut dalam perjalanan panjangnya; berdakwah, berpartisipasi, dan memberikan motivasi.

Kru Jalan Dakwah
Producer: Purwanto
Associate Producer: Tunggul Bayu Aji
Reporter: Kholis
Camera Person: Anggit Jati Kusuma
Camera Person: Ilmawan Dwi Hertanto
Host: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils
»»  Baca selengkapnya...

Senin, 14 November 2011

Program Sahabat Jauh: Numpang Akting di AstroTV

Republika: Sabtu, 09 Februari 2008


Pagi itu Prahara akan menjenguk dua orang sahabat jauhnya di Pondok Buntet Pesantren yang terletak sekitar 45 menit dari Kota Cirebon, Jawa Barat. Layaknya teman yang lama tak jumpa, Prahara pun terlihat sangat berbahagia bertemu Zidni yang mengenakan sarung, baju koko, dan berkopiah ketika menyambutnya di depan sebuah rumah di komplek asrama Pondok Pesantren Buntet. ''Assalamualaikum, apa kabar sahabat,'' ujar Prahara pada Zidni.

''Waalaikumussalam, alhamdulillah kabarku baik,'' jawab Zidni. Pertemuan sederhana itu adalah sepenggal adegan program Sahabat Jauh garapan rumah produksi Double Vision yang akan tayang di Astro Oasis. Kali ini untuk edisi Cirebon, Sahabat Jauh sudah memasuki episode 45 dari 52 epiosde yang akan diproduksi.

Seperti namanya, tayangan selama 30 menit setiap hari Jumat yang dimulai pukul 21.00 WIB ini memang mengambil tema sahabat. Para sahabat yang muncul pun sahabat yang cukup spesifik, yaitu sahabat yang mondok di pesantren-pesantren yang ada di sekitar Pulau Jawa. ''Untuk 52 episode ini kami memang fokus ke daerah sekitar Jawa Barat dan Jawa Tengah, serta kawasan lain seperti Jakarta, Tangerang, Bekasi,'' ujar di sela-sela shootingyang berlangsung di Pondok Buntet Pesantren itu.

Dalam proses pengambilan adegan kali ini, sejumlah kegiatan unik di Pondok Buntet Pesantren masuk juga dalam episode ke-45 ini. Seperti kegiatan memandikan jenazah yang menjadi salah satu mata pelajaran pokok di pesantren ini. ''Meski tak selalu memandikan jenazah, di pesantren ini kegiatan tersebut sudah menjadi kebiasaan dan setiap siswa bisa melakukannya,'' ujar Zidni yang berperan menjadi sahabat Prahara kali ini.

Ganti Kostum
Dalam kisah ini, Prahara adalah seorang mahasiswa yang sedang berkelana menggunakan berbagai jenis alat transportasi. Sebagian besar, ujar Yudi Agustia selaku asisten produser, menggunakan transportasi umum seperti bus maupun mobil kecil yang khas ala mahasiswa.

Tapi, alat transportasi seperti becak atau ojek turut digunakan Prahara untuk menjangkau pesantren yang akan ia tengok. ''Ya terkadang pesantren yang kita tuju tak dilewati angkutan umum. Jadilah, becak atau ojek yang kita pakai sebagai alat transportasi Prahara,'' ujar Yudi.

Untuk perannya ini, Prahara yang datang dengan pakaian kasual seperti celana jeans, kaos, dan jaket pun harus berganti kostum untuk menyesuaikan. Seketika, pakaian yang ia simpan dalam ransel seperti sarung, baju koko, dan kupluk langsung dikenakan.

Untuk menyiasati pergantian pakaian host agar tak terlihat kaku, tim kreatif biasanya mengganti pakaian Prahara bersamaan dengan waktu shalat seperti saat Dzuhur atau shalat Jumat. ''Saya biasanya berganti baju ketika akan shalat Dzuhur,'' papar Prahara. Dengan sarung dan baju koko inilah, Prahara membawakan acara selama di dalam pesantren.

Sosok Prahara dianggap pas sebagai host dengan alasan khusus. ''Kami memang memilih host laki-laki karena faktor fleksibilitas,'' tutur Henry.

Bagi Henry, ada kemudahan tersendiri bila host acara ini berjenis kelamin laki-laki di antaranya keleluasaan ketika memasuki kawasan pesantren.

Selain itu, host yang memiliki tinggi 177 sentimeter ini dianggap memiliki latar belakang yang cukup sebagai host acara religius. Terlebih, Prahara terbilang sangat kooperatif dengan citra pribadi yang baik, serta penguasaan keislaman yang cukup.

Selama shooting, Prahara sendiri mengaku tidak mengalami kesulitan berarti. Pengalaman menjadi host sebuah tayangan infotainment dan juga menjadi pemeran dalam sejumlah sinetron boleh jadi amat membantu beradaptasi di depan kamera.

Justru Prahara sempat mengalami pengalaman unik ketika shooting Sahabat Jauh. Misalnya, ketika shooting di sebuah pesantren di wilayah Tangerang, Prahara cukup bingung saat harus mengikuti kegiatan sehari-hari para santri yang memerah susu. ''Awal saya memegang puting sapi yang diperah, saya merasa aneh. Begitu saya berusaha memencetnya, susu tak kunjung keluar,'' papar Prahara.

Ternyata, teknik yang Prahara lakukan salah. Begitu bisa keluar, susunya memancar ke arah muka Prahara. Akhirnya, untuk scene memerah susu pun harus diulang lebih dari tiga kali dengan angle yang sama. Ada juga kejadian yang cukup membuat waswas para kru saat mengambil adegan di tanah persawahan Bekasi. Prahara yang ikut kegiatan menanam padi rela bermandikan lumpur. Namun, kru khususnya para penata kamera harus amat hati-hati menjaga kameranya agar tak jatuh ke sawah.

Maklum saja, tanah tempat tripod dipijak sangat labil dan basah. Alas berupa papan kayu digelar di atas tanah untuk membantu tripod menopang. Tim produksi pun mengambil inisiatif lain dengan melakukan pengambilan gambar dengan pola zoom in.

Hal serupa juga terjadi saat mengambil gambar di sebuah dapur umum, tempat untuk memasak makanan para santri di sebuah pesantren di wilayah Bekasi. ''Hampir tiap kali take gambar, uap memasak menghalangi ketajaman gambar,'' ujar Yudi. Akhirnya, sang penata kamera menyiasati dengan mengambil gambar saat sedang tidak menggoreng atau merebus yang mengeluarkan banyak asap.

Di Cirebon, proses shooting terbilang lancar. Sejak pagi, Prahara dan kru yang berjumlah sekitar sembilan orang itu sudah menyambangi empat lokasi. Berawal dari shooting yang menggunakan dua kamera 30 milimeter itu di Terminal Cirebon, mereka pun bergerak ke sebuah sekolah perawat. Setelah itu barulah mereka beramai-ramai naik bus dalam kota menuju Pondok Buntet Pesantren dan sempat pula menyambangi para sesepuh pesantren. Dari sana, mereka mendatangi asrama santri.

Tak terasa, hari beranjak sore. Masih ada satu lokasi yang harus diselesaikan, yaitu makam pendiri Pondok Buntet yang memiliki nilai sejarah di sekitar Cirebon. Tanpa jeda, mereka langsung bergerak menuju lokasi. Hari itu juga berakhirlah episode Cirebon.

Santri Grogi
Dalam setiap episode, Prahara menemui sahabatnya yang tinggal sementara di pesantren. Dikisahkan, Prahara mengenal sahabatnya itu melalui internet yang kemudian berlanjut dengan komunikasi lewat telepon seluler yang berujung pada pertemuan.

Lantaran mereka itu bukan sosok yang dikenalnya sejak lama, sahabat-sahabat Prahara yang ada dalam Sahabat Jauh sangat beragam. Tidak melulu para siswa dari tingkat madrasah, tsanawiyah, atau aliyah, namun bisa juga guru atau pegawai yang bekerja di lingkungan dalam pesantren.

Tak jarang sahabat-sahabat yang hadir memiliki keahlian khusus. Misalnya, mereka sangat memahami sejarah dan pengetahuan Islam maupun punya keterampilan lain seperti kaligrafi. Usia para sahabat Prahara pun bermacam-macam. Ada yang lebih muda dengan usia 20 tahun atau lebih dari 30 tahun, perempuan maupun laki-laki.

Sahabat-sahabat baru Prahara ini jumlahnya hampir 100 orang. Dalam tiap tayangan, Prahara menemui paling tidak dua orang sahabat --satu sebagai pemeran sahabat utama dan satu lainnya sebagai sahabat penghubung ke pemeran sahabat utama.

Lantaran sebagian besar 'sahabat' Prahara itu adalah orang biasa yang tak pernah tampil di depan kamera, mereka pun menghadapi masalah klasik: Grogi.

Padahal, saat membaca naskah sebelum shooting berlangsung mereka sudah lancar menghafal dialog, rupanya situasi berbeda muncul ketika kamera menyala.

Seperti pada pengambilan adegan antara Zidni dan Prahara, seorang penata kamera harus mengambil ulang adegan bersalaman lantaran Zidni grogi mengucapkan salam.

Hal itu, kata pria bernama lengkap Muhammad Prahara ini, biasa terjadi dan sangat bisa dimaklumi. Untuk menghilangkan grogi sang sahabat dan melakukan penyesuaian diri dengan sahabat baru yang memiliki latar belakang berbeda, Prahara biasanya sempat ngobrol dulu beberapa hari sebelum shooting.

Bila jadwalnya amat padat, proses adaptasi pun terpaksa dilakukan beberapa jam sebelum shooting. ''Ya, saya berusaha berbincang layaknya bicara dengan teman saya, santai, enjoy, dan banyak bercanda. Ini agar mereka saat shooting juga rileks dan tak kaku,'' papar Prahara.

Selain pendekatan dengan sahabat seraya mendalami naskah, Prahara pun sudah mempelajari materi yang akan dibawakan jauh hari sebelum shooting. Bahkan, kira-kira dua minggu sebelumnya. Maklum, hal ini dilakukan lantaran banyak kosa kata Islam yang cukup asing di telinga Prahara. ''Jadinya, aku harus mempelajari dengan seksama dan rajin bertanya jika menemukan kosa kata yang belum pernah aku temui biar tidak salah pengucapannya,'' tambah Prahara.

Bernilai Sejarah
Mengapa pesantren? Pertanyaan inilah yang menggelitik ketika menyaksikan program Sahabat Jauh. Rupanya, potret institusi pendidikan Islam dalam bentuk pesantren masa kini sudah terkenal di mancanegara. ''Indonesia sangat terkenal dengan pesantrennya. Kami pun ingin mengangkatnya agar kegiatan pesantren ini lebih diketahui oleh masyarakat Indonesia khususnya sehingga tak kalah populer dengan intitusi pendidikan lain,'' ujar Dewi Fadjar, direktur program Astro Indonesia, seperti dikutip dalam siaran pers.

Henry pun mengungkapkan, di Pulau Jawa banyak pesantren yang cukup menarik. Untuk Jawa Barat dan Jawa Tengah termasuk Jakarta sudah ada terdata sedikitnya 1.000 pesantren.

Untuk memilih pesantren yang akan ditengok oleh Prahara, tim produksi Double Vision Indonesia pun melakukan serangkaian riset. Diawali dengan melakukan browsing di internet, tim produksi juga meninjau langsung lokasi puluhan pesantren sebelum akhirnya memilih sekitar 50-an pesantren yang akan diangkat dalam tayangan program.

Respons yang diberikan oleh para institusi pendidikan agama yang dikenal dengan pondok pesantren juga cukup bagus. Bahkan, beberapa pesantren melayangkan surat permohonan untuk menjadi salah satu pondok pesantren yang akan ditengok oleh Prahara dalam Sahabat Jauh, papar Henry. Namun, Double Vision Indonesia cukup selektif dalam memilih pondok pesantren. Pemilihan itu bisa saja dari nilai sejarahnya ataupun kegiatan-kegiatan unik yang dimiliki masing-masing pesantren. Seperti pada Pondok Buntet Pesantren. Nilai sejarah pesantren ini terletak dari tahun berdirinya. Pondok Buntet Pesantren didirikan oleh Mbah Muqoyyim yang masih keluarga Kesultanan Cirebon pada tahun 1758. Pesantren yang sudah sangat tua. Di salah satu komplek pesantren yang ada di wilayah Kecamatan Astanajapura ini juga berdiri cukup megah sebuah masjid dengan pilar kayu jati yang tetap kokoh dibangun oleh Sunan Gunung Jati.

Adanya nilai sejarah tersebut, menurut Henry Sastrawijaya, marketing executive Double Vision Indonesia, bisa memberikan wawasan baru bagi penontonnya. ''Sehingga tayangan yang bersifat religi ini kami harap bisa menjadi sarana penambah pengetahuan bagi yang menonton. Bukan hanya tontonan yang sifatnya hanya menghibur,'' ujar dia.

»»  Baca selengkapnya...

Sundaland = Benua Atlantis yang Hilang?

Oleh: Budi Brahmantyo
Anggota KK Geologi Terapan FIKTM-ITB, dan anggota KRCB dan IAGI.


Mitos Atlantis muncul ketika mahaguru Socrates berdialog dengan ketiga muridnya; Timaeus, Critias dan Hermocrates. Critias menuturkan kepada Socartes di hadapan Timaeus dan Hermocrates cerita tentang sebuah negeri dengan peradaban tinggi yang kemudian ditenggelamkan oleh Dewa Zeus karena penduduknya yang dianggap pendosa. Critias mengaku ceritanya adalah true story, sebagai pantun turun temurun dari kakek buyut Critias sendiri yang juga bernama Critias.

Critias, si kakek buyut, mengetahui tentang Atlantis dari seorang Yunani bernama Solon. Solon sendiri dikuliahi tentang Atlantis oleh seorang pendeta Mesir, ketika ia mengunjungi Kota Sais di delta Sungai Nil. Bayangkan cerita lisan turun temurun yang mungkin banyak terjadi distorsi ketika Critias, si cicit, menceritakan kembali kepada Socrates, sebelum ditulis oleh Plato.

Di luar dari distorsi yang mungkin terjadi, tulisan tentang dialog Socrates, Timaeus dan Critias tentang Atlantis yang ditulis Plato adalah sumber tertulis yang menjadi referensi utama. Dari dialog itulah tergambar suatu negeri yang makmur, gemah ripah loh jinawi yang bernama Atlantis. Letak negeri berada di depan selat yang diapit Pilar-pilar Hercules (the Pillars of Heracles).

Negeri itu lebih besar dari gabungan Libia dan Asia. Terdapat jalan ke pulau-pulau lain di mana dari tempat ini akan ditemui sisi lain negeri yang dikelilingi oleh lautan sejati. Laut ini yang berada pada Selat Heracles hanyalah satu-satunya pelabuhan dengan gerbang sempit. Tetapi laut yang lain adalah samudera luas di mana benua yang mengelilinginya adalah benua tanpa batas.

Di Atlantis inilah terdapat kerajaan besar yang menguasai seluruh pulau dan daerah sekitarnya, termasuk Libia, kolom-kolom Heracles, sampai sejauh Mesir, dan di Eropa sampai sejauh Tyrrhenia. Lalu terjadilah gempa bumi dan banjir yang melanda negeri itu. Dalam hanya satu hari satu malam, seluruh penghuninya ditenggelamkan ke dalam bumi, dan Atlantis menghilang ditelan laut.

Cerita tragis yang memunculkan mitos Atlantis itu, bila kita cermati memang akan mengarah secara geografis di sekitar Laut Tengah (Mediterania). Selain nama-nama Libia, Mesir, Eropa dan Tyrrhenia, disebut pula selat dengan pilar-pilar Hercules yang tidak lain adalah Selat Gibraltar (atau dalam bahasa Arab, Selat Jabaltarik), selat di Laut Tengah antara Eropa dan Afrika yang merupakan gerbang ke Samudera Atlantik. Apakah betul Atlantis sebuah benua yang lebih besar dari gabungan Libia dan Asia? Pendapat ini ditentang juga sebagai salah terjemah kata Yunani meson (lebih besar) dengan kata mezon (di antara).

Sundaland
Memang betul, konotasi Atlantis tidak harus mengacu kepada Samudera Atlantik. Tetapi berdasarkan lingkungan kesejarahan dan geografis, para ahli akhirnya berkonsentrasi mencari Atlantis di sekitar Laut Tengah, antara Libia dan Turki yang dikenal sebagai Asia pada waktu itu. Sebelum Profesor Santos berargumen bahwa Atlantis adalah Sundaland, pendapat yang paling banyak diterima adalah bahwa negeri itu ada di tengah-tengah Samudera Atlantis sendiri, yaitu di Kepulauan Azores milik Portugal yang berada 1.500 km sebelah barat pantai Portugal. Tidak ada bukti arkeologis yang mengukuhkan pendapat ini.

Tempat yang paling meyakinkan sebagai Atlantis adalah Pulau Thera di Laut Aegea, sebelah timur Laut Tengah. Pulau Thera yang dikenal pula sebagai Santorini adalah pulau gunung api yang terletak di sebelah utara Pulau Kreta. Sekira 1.500 SM, sebuah letusan dahsyat gunung api ini mengubur dan menenggelamkan kebudayaan Minoan. Hasil galian arkeologis memang menunjukkan bahwa kebudayaan Minoan merupakan kebudayaan yang sangat maju di Eropa pada zamannya.

Pendapat Profesor Santos bahwa Atlantis adalah Sundaland atau Indonesia mempunyai banyak kelemahan. Pertama, tidak terdeskripsi dari cerita Solon melalui Critias bahwa Atlantis berada wilayah tropis. Kedua, deskripsi geografis di sekitar benua mitos itu mengarah semua ke Mediterania. Saya tidak tahu, lokasi mana yang ditunjuk Profesor Santos dalam bukunya sebagai selat dengan pilar-pilar Hercules.

Tetapi ia (melalui tulisan Profesor Priyatna ”PR” 2 Oktober 2006), berargumen bahwa pada masa lalu itu Atlantis merupakan benua yang membentang dari bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, terus ke arah timur dengan Indonesia (yang sekarang) sebagai pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan gunung api aktif dan dikelilingi oleh samudera yang menyatu bernama Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Ketiga, Profesor Santos mengarahkan bingkai waktu Atlantis pada zaman es kala waktu Pleistosen. Zaman es terakhir (Wurm) terjadi pada maksimum 18.000 tahun yang lalu. Saat itu, tutupan es di kutub-kutub Bumi meluas hingga lintang 60 derajat, dan air laut di khatulistiwa surut tajam. Di Kepulauan Indonesia, sebuah pendapat mengatakan bahwa air laut surut hingga minus 140 m dari muka air laut sekarang. Maka, perairan Laut Jawa, Selat Karimata dan Laut Cina Selatan yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 100 m, berubah menjadi daratan. Itulah yang kemudian dikenal sebagai Sundaland.

Setelah 18.000 tahun yang lalu, permukaan laut mulai naik seiring dengan masuknya zaman antar-es. Muka air laut naik terus hingga sekitar 5 m di atas muka laut sekarang pada sekira 5.000 tahun yang lalu, sebelum turun kembali hingga pada posisinya sekarang. Artinya, penenggelaman Sundaland akan berjalan sangat pelan (evolutif), memakan waktu 13.000 tahun. Padahal menurut cerita Critias, Atlantis tenggelam hanya dalam satu hari satu malam!

Keempat, kebudayaan Indonesia pada Pleistosen Akhir, bahkan hingga awal Holosen (11.000 tahun yang lalu) masih budaya pengumpul hasil hutan dan berburu. Peralatannya adalah kayu, bambu dan batu, dengan rekayasa sangat sederhana. Mereka tinggal di gua-gua atau teras sungai dengan tempat bernaung dari ranting kayu dan dedaunan. Tidak ada pendapat satu pun yang menggolongkan budaya Paleolitik seperti itu sebagai budaya yang dianggap maju dan tinggi dalam pengertian yang sepadan ketika Plato menuliskan bukunya.

Sekali lagi, saya belum membaca buku Profesor Santos itu. Tetapi dari paparan tulisan Prof. Priyatna, dengan sedikitnya keempat argumen di atas, anggapan bahwa Indonesia (Sundaland) adalah Atlantis sulit untuk dapat diterima. Tentu saja walaupun tulisan ini membantah Indonesia sebagai Atlantis, kita harus tetap sangat bangga dengan Sundaland di Indonesia, karena dari ilmu-ilmu geologi, arkeologi, geografi, biogeografi, linguistik dan lain-lain, kawasan Sundaland diakui kepentingannya secara internasional. Dengan fakta-fakta ilmiah itu, seperti pendapat Profesor Priyatna Abdurrasyid, membuat kita harus bersyukur dan tidak rendah diri di dalam pergaulan internasional, sebab Indonesia dengan Sundaland-nya, sekalipun akan terbantah bukan Atlantis, adalah kekayaan intelektual yang tetap diakui secara internasional.

»»  Baca selengkapnya...

Dua Puluh Empat Syarat Menjadi Atlantis: Mungkinkah Indonesia?

Berikut 24 syarat Atlantis (di mana saja di seluruh dunia) hasil kesepakatan para peneliti Atlantis dari 15 negara yang berkumpul di Pulau Milos, Yunani, dari 11 hingga 13 Juli 2005. Mereka bertukar pikiran mengenai keberadaan Benua Atlantis.

Selama konferensi dengan judul “Hipotesis Atlantis – Mencari Benua yang Hilang”, para spesialis dalam bidang arkeologi, geologi, volkanologi, dan ilmu-ilmu lain memperesentasikan pandangannya tentang keberadaan Atlantis, waktu menghilangnya, penyebabnya, dan kebudayaannya.

Berdasarkan kepada tulisan Plato, peserta konferensi akhirnya setuju pada 24 kriteria yang secara geografis harus memenuhi persyaratan keberadaan lokasi Atlantis, yaitu:
  1. Metropolis Atlantis harus terletak di suatu tempat yang tanahnya pernah ada atau sebagian masih ada.
  2. Metropolis Atlantis harus mempunyai morfologi yang jelas berupa selang-seling daratan dan perairan yang berbentuk cincin memusat.
  3. Atlantis harus berada di luar Pilar-pilar Hercules.
  4. Metropolis Atlantis lebih besar dari Libya dan Anatolia, dan Timur Tengah dan Sinai (gabungan).
  5. Atlantis harus pernah dihuni oleh masyarakat maju/beradab/cerdas (literate population) dengan ketrampilan dalam bidang metalurgi dan navigasi.
  6. Metropolis Atlantis harus secara rutin dapat dicapai melalui laut dari Athena.
  7. Pada waktu itu, Atlantis harus berada dalam situasi perang dengan Athena.
  8. Metropolis Atlantis harus mengalami penderitaan dan kehancuran fisik parah yang tidak terperikan (unprecedented proportions).
  9. Metropolis Atlantis harus tenggelam seluruhnya atau sebagian di bawah air.
  10. Waktu kehancuran Metropolis Atlantis adalah 9000 tahun Mesir, sebelum abad ke-6 SM.
  11. Bagian dari Atlantis berada sejauh 50 stadia (7,5 km) dari kota.
  12. Atlantis padat penduduk yang cukup untuk mendukung suatu pasukan besar (10.000 kereta perang, 1.200 kapal, 1.200.000 pasukan).
  13. Ciri agama penduduk Atlantis adalah mengurbankan banteng-banteng.
  14. Kehancuran Atlantis dibarengi oleh adanya gempa bumi.
  15. Setelah kehancuran Atlantis, jalur pelayaran tertutup.
  16. Gajah-gajah hidup di Atlantis.
  17. Tidak mungkin terjadi proses-proses selain proses-proses fisik atau geologis yang menyebabkan kehancuran Atlantis.
  18. Banyak mata air panas dan dingin, dengan kandungan endapan mineral, terdapat di Atlantis.
  19. Atlantis terletak di dataran pantai berukuran 2000 X 3000 stadia, dikelilingi oleh pegunungan yang langsung berbatasan dengan laut.
  20. Atlantis menguasai negara-negara lain pada zamannya.
  21. Angin di Atlantis berhembus dari arah utara (hanya terjadi di belahan bumi utara).
  22. Batuan Atlantis terdiri dari bermacam warna: hitam, putih, dan merah.
  23. Banyak saluran-saluran irigasi dibuat di Atlantis.
  24. Setiap 5 dan 6 tahun sekali, penduduk Atlantis berkurban banteng.
Dari 24 syarat di atas, mungkinkah Atlantis berada di Sundaland? Di Indonesia? Silakan pertimbangkan sendiri.

»»  Baca selengkapnya...

Benarkah Einstein Seorang Muslim?

Albert Einstein sejak lama diduga menganut Judaisme, agama kaum Yahudi. Namun, ada klaim yang menyatakan ilmuwan nyentrik itu sebenarnya adalah Muslim. Mana yang benar?

Klaim yang beredar di blog-blog Tanah Air ini menyebutkan adanya dokumen rahasia yang berisi surat-surat Einsten. Surat tersebut menunjukkan, ilmuwan kelahiran Jerman penemu teori relativitas ini, menganut Islam Syiah Imamiyah.

Berdasarkan laporan situs mouood.org, pada 1954, Einstein menyurati marji besar Syiah kala itu, Ayatollah Al Udzma Sayid Hossein Boroujerdi. “Setelah berkorespondensi dengan anda, saya menerima agama Islam dan mazhab Syiah 12 Imam,” tulis Einstein.

Einstein menjelaskan, Islam lebih utama ketimbang agama lain. Serta menyebutnya paling sempurna dan rasional. Ia bahkan menyatakan seluruh dunia takkan mampu membuatnya kecewa terhadap Islam maupun meragukannya.

Dalam makalah terakhirnya, ‘Die Erklarung’ (Deklarasi) yang ditulis pada tahun tersebut di Amerika Serikat (AS), Einstein dalam bahasa Jerman menelaah teori relativitas dalam ayat-ayat Al Quran dan ucapan Imam Ali bin Abi Thalib dalam kitab Nahjul Balaghah.

Einstein menyebut penjelasan Imam Ali tentang mimpi perjalanan Mi’raj jasmani Nabi Muhammad ke langit dan alam malaikat yang hanya dilakukan dalam beberapa detik, sebagai penjelasan Imam Ali yang paling bernilai.

Ada sebuah hadis yang disadur Einstein dan menjadi andalannya. Yakni diriwayatkan oleh Allamah Majlisi tentang Mi’raj jasmani Rasulullah SAW. “Ketika terangkat dari tanah, pakaian atau kaki Nabi menyentuh sebuah berisi air yang menyebabkan air tumpah.”

“Setelah Nabi kembali dari mikraj jasmani, setelah melalui berbagai zaman, beliau melihat air masih dalam keadaan tumpah di atas tanah.” Einstein melihat hadis ini sebagai khazanah keilmuan yang berharga.

Terutama karena menjelaskan keilmuan para Imam Syiah dalam relativitas waktu. Menurut Einstein, formula matematika kebangkitan jasmani, berbanding terbalik dengan formula terkenal relativitas materi dan energi. Yakni E=M.C >> M=E:C.

Artinya, sekalipun badan kita berubah menjadi energi ia dapat kembali hidup seperti semula. Naskah asli risalah ini tersembunyi dalam safety box rahasia di London, Inggris, di tempat penyimpanan Prof. Ibrahim Mahdavi, dengan alasan keamanan.

Risalah ini dibeli Mahdavi seharga US$3 juta dari pedagang Yahudi. Ia juga dibantu seseorang yang bekerja di pabrik mobil Mercedes Benz. Tulisan tangan Einstein di buku kecil itu telah dicek lewat komputer dan dibuktikan keasilannya oleh pakar manuskrip.

Perdebatan agama Einstein telah sekian lama dipelajari karena pernyataan sang ilmuwan sendiri juga sering ambigu. Ia dikabarkan mempercayai Judaisme, agama yang berakar dari filsuf Belanda Baruch de Spinoza. Namun, tak menganut konsep Tuhan yang Maha Esa.

Adapun pemikiran Spinoza yang terkenal adalah ajaran mengenai Substansi tunggal Allah atau alam. Baginya, Tuhan dan alam semesta adalah satu dan Tuhan memiliki bentuk, yakni seluruh alam jasmaniah. Aliran ini disebut panteisme-monistik.

Terkait keyakinan yang dianutnya, Einstein sempat mengatakan, “Saya tak mempercayai Tuhan secara personal dan selalu menyatakan hal ini dengan jelas. Jika ada sesuatu dalam saya yang bisa dibilang relijius, maka itu kekaguman saya terhadap struktur dunia yang sejauh ini bisa diungkap sains,” tegasnya.

Jadi, sudah bisa ditarik kesimpulannya bukan?

»»  Baca selengkapnya...

Sabtu, 12 November 2011

Rahasia Dibalik No. KTP Indonesia

Bagi anda yang telah berumur 17 tahun atau lebih pasti anda sudah memiliki atau paling tidak telah mengetahui apa itu KTP (Kartu Tanda Penduduk). Tapi mungkin kebanyakan dari anda belum mengetahui kalau hanya dari nomor yang terdapat di KTP anda, dapat menunjukkan dengan pasti dimana anda tinggal, jenis kelamin anda dan tanggal lahir anda. Nomor KTP, disadari ataupun tidak, merupakan nomor yang begitu penting bagi warga Indonesia.

Mungkin nomor KTP anda lebih penting bila dibandingkan nomor rekening bank anda. Tiap ada formulir yang mesti diisi biasanya ada kotak tempat pengisian nomor KTP, entah itu formulir untuk penggantian kartu ATM, membuka rekening bank, membuat SIM ataupun formulir yang lain. Singkatnya, nomor KTP sangat penting bagi kita semua sebagai warga Negara Indonesia.
Dan ternyata di balik nomor KTP itu ada artinya loh. Nomor KTP yang kita miliki mempunyai 16 digit nomor yang tersusun sebagai berikut :


PPKKCC.HHBBTT.RRRR

Keterangan Nomor KTP:
PP adalah nomor kode Provinsi tempat dimana diterbitkannya KTP.
KK adalah nomor kode Kabupaten/Kota tempat dimana diterbitkannya KTP.
CC adalah nomor kode Kecamatan tempat dimana diterbitkannya KTP.
HH adalah tanggal hari lahir dari pemilik KTP.
BB adalah bulan lahir dari pemilik KTP.
TT adalah tahun lahir dari pemilik KTP.
RRRR adalah nomor registrasi yang tertera saat pengajuan pembuatan KTP (Register Number).

Nomor kode wilayah diambil berdasarkan sistem klasifikasi dari Badan Pusat Statistik (BPS). Jadi misalkan, bila anda mengajukan permohonan pembuatan KTP di kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Maka 6 digit pertama pada nomor KTP anda adalah 317302. Dimana angka 31 menunjukkan kode wilayah Provinsi D.K.I. Jakarta, selanjutnya angka 73 menunjukkan kode wilayah Kota Jakarta Pusat dan angka 02 menunjukkan kode wilayah Kecamatan Menteng. 6 digit selanjutnya yang bertanda HHBBTT adalah tanggal, bulan dan tahun lahir dari pemegang KTP.

Untuk 2 digit HH yang menunjukkan tanggal kelahiran terdapat sedikit perlakuan khusus. Bila pemegang KTP adalah wanita maka tanggal lahirnya akan ditambahkan dengan 40. Alasan ditambahkan angka 40 adalah agar memberi perbedaan yang jelas.

Misal : jika seorang perempuan yang lahir di tanggal 5 maka akan tertera di di NIK nya adalah 45. Kenapa? Supaya tidak terjadi kerancuan dan dapat membedakan laki laki dan wanita. Kenapa harus 40, karena angka genap terdekat diatas angka 31 (tanggal maksimal pada kalender).

Misalnya : Jika ditambahkan dengan angka 20 maka perempuan yang lahir pada tanggal 5 akan menjadi 25 yang akan rancu dengan seorang laki-laki yang lahir pada tanggal 25. Sedangkan angka yang diambil untuk bagian TT adalah 2 digit terakhir dari tahun kelahiran pemegang KTP.
Contoh : Bila si pemegang KTP lahir pada 17 Agustus 1975 maka enam digit HHBBTT akan tertulis dengan angka 170875 (laki-laki) dan 570875 (perempuan).

Empat digit terakhir bertanda RRRR adalah nomor registrasi. Ini adalah nomor yang tertera saat pengajuan pembuatan KTP. Nomor inilah yang menjaga agar tidak ada 2 orang yang yang tinggal di daerah yang sama serta memiliki jenis kelamin dan tanggal lahir yang sama mempunyai nomor KTP yang sama. Jadi kalau misalnya setelah si A terdaftar, ternyata ada orang lain lagi di Kecamatan tersebut yang ternyata mempunyai tanggal, bulan dan tahun yang sama persis dengan si A dan berjenis kelamin yang sama pula maka dia akan mempunyai nomor registrasi yang berbeda untuk membedakannya dengan si A.
»»  Baca selengkapnya...

Pengalaman Berharga di Dunia Sastra: Ngaji dan Berdiskusi dengan Ustadz In'am (Bag. 2)

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Waktu liburan sudah habis. Saatnya berangkat ke Jakarta untuk bergelut kembali dengan aktifitas kuliah dan kemacetan. Namun, pada keberangkatan kali ini ada sesuatu yang berbeda. Pikiran saya terpecah menjadi dua, antara makalah dan nazham.

Sekilas tentang Ustadz In'am
Selama proses penyusunan nazham, saya dibantu oleh Ust. In'am Abdul Fattah. Pria kelahiran 1969 ini merupakan salah satu alumnus PP. Al-Khiyaroh Buntet Pesantren Cirebon yang didirikan oleh almarhum al-maghfur lah K.H. Mohammad Nashiruddin Zahid. Allahummaghfil lahu warhamhu wa afihi wa'fu 'anhu.

Di sana, ia mengenyam pendidikan agama selama enam tahun (1983-1989). Sebagai sosok yang cerdas, ulet, tekun,  ikhlas, dan penyabar, ia pun menjadi salah satu murid kesayangan Kyai Nashir. Ia mampu menguasai berbagai disiplin ilmu, mulai dari fiqh, ushul fiqh, mantiq, nahwu shorof, balaghoh, dan lain sebagainya. Keahliannya dalam memijat pun menjadi media kedekatannya dengan sang Kyai yang memang gemar sekali dipijat. Sedangkan posturnya yang jangkung (182 cm) membuatnya mudah dikenali. Saya sendiri, yang saat itu masih anak-anak, sangat suka jika digendong olehnya, karena hal itu membuat saya seolah-olah sedang terbang ke angkasa.

Selepas dari Al-Khiyaroh, ia melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren tempat Kyai Nashir muda dahulu berguru, PP. Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah, asuhan al-mukarram KH. Maymun Zubair. Baru satu bulan di pesantren barunya tersebut, Ust. In'am berhasil meraih juara kedua dalam perlombaan kajian kitab Alfiyah yang diselenggarakan oleh pihak pondok. Hal ini tidaklah mengherankan karena selama di Al-Khiyaroh ia sudah berhasil menghafal kitab Alfiyah secara bolak-balik. Namun demikian, ini tetaplah merupakan sebuah prestasi yang sulit ditiru mengingat ketatnya persaingan yang terjadi diantara sekitar 1500 santri senior dengan kompetensi mereka yang tidak diragukan lagi. Prestasi tersebut dapat membuktikan tingkat kecerdasannya yang di atas rata-rata.

Sayang, keberadaannya di PP. Al-Anwar harus terhenti di tahun kelima masa pendidikannya. Persoalan ekonomi keluarga menjadi faktor utama mengapa ia harus menghentikan pendidikan dan kembali ke kampung halamannya di Cilacap, Jawa Tengah. Tidak lama dari kepulangannya, 1995, ia diminta oleh sahabatnya sesama alumnus Al-Khiyaroh, Ust. Syu'aib Abdullah, untuk mengajar di pondok pesantren miliknya, PP. Roudlotul Qur`an, Ciputat. Tanpa pikir panjang, ia pun menerima permintaan sahabatnya itu untuk tinggal di Ciputat.

Pada tahun 2000, ia menikah dengan gadis setempat yang notabene merupakan muridnya sendiri. Lalu pada tahun 2001, saya diminta oleh Ust. Syu'aib untuk menjadi staff pengajar di tempat yang sama menemani Ust. In'am. Di sanalah saya dipertemukan kembali dengan Ust. In'am setelah sekian tahun lamanya berpisah.

Ngaji dan Diskusi Bersama
Saya tinggal bersamanya selama enam tahun, dan masa-masa itu saya manfaatkan untuk menimba ilmunya. Meskipun Ust. In'am adalah murid Abah saya, namun saya tidak malu untuk berguru kepadanya dan mengakuinya sebagai guru. Beberapa kitab sudah saya ikuti, seperti Tafsîr al-Jalâlain (tafsir al-Qur`an) sebanyak tiga kali, Syarĥ Ibn ‘Aqîl (nahwu), al-Tsimâr al-Yâni’ah (fiqh), Bulûgh al-Marâm (hadits), al-Luma’ (ushul fiqh), al-Asybâh wa al-Nazhâ`ir (qawa’idul fiqhiyyah), dsb, termasuk belajar kaligrafi seperti yang telah saya singgung di artikel bagian pertama.

Ust. In'am memberi banyak pengalaman kepada saya tentang Kitab Kuning, dari segi gaya bahasa maupun metode pembahasan. Ia tidak pernah sungkan untuk menjawab setiap pertanyaan yang saya ajukan. Apapun pertanyaannya selalu dijawab dengan penjelasan yang begitu luas, lugas, serta intonasi yang halus. Ia tidak pernah marah, baik saat mengajar maupun dalam kehidupan sehari-harinya. Ia adalah teman dan guru yang asyik untuk dijadikan tempat bertanya dan berdiskusi. Demikian pula dengan nazham ciptaan saya. Setiap baitnya selalu kami diskusikan bersama seperti apa yang biasa kami lakukan terhadap disiplin ilmu lainnya.

Bersambung.. (insya Allah)

Kembali ke Bagian Pertama
»»  Baca selengkapnya...

Membaca Pesan dari Tuhan

Oleh: A. Irfan Maulana, SH


Banyaknya kekacauan yang kerap terjadi akhir-akhir ini, mulai dari persoalan sosial, konflik antar warga, dan sebagainya, menuntut kita untuk menyegarkan kembali apa yang terkandung dari agama. Agama merupakan pesan Tuhan bagi umat manusia yang disampaikan bersamaan dengan berbagai ritual yang terkandung di dalamnya. Pesan agama adalah pesan langit yang harus dijalani, apapun bentuknya.

Dalam pelaksanaannya, karena bahasa Tuhan berbeda dengan bahasa manusia, Ia mengutus ribuan juru selamat (baca: nabi dan rasul) untuk menerjemahkan bahasa-Nya kepada umat mereka masing-masing. Dengan demikian, pesan Tuhan dapat sampai dan dipahami serta diaplikasikan oleh seluruh umat secara sempurna. Perlu diketahui bahwa dari sekian banyak jumlah juru selamat yang diyakini oleh umat Islam, Bani Israel menyumbang juru selamat paling banyak. Hampir sebagian besar dari mereka berasal dari golongan ini. Melihat hal tersebut, ada adagium kuat bahwasanya Bani Israel adalah bangsa pilihan diantara bangsa-bangsa yang lain.

Pesan yang nge-Tren
Gambaran konflik horizontal yang ada di tengah masyarakat merupakan bagian dari realita masyarakat yang harus dicari darimana akar permasalahannya berasal. Oleh karena itu, pembahasan mengenai bagaimana Pesan Tuhan tersampaikan dan kemudian terlembagakan pada umat-Nya merupakan bagian dari upaya untuk mengurai akar permasalahan tersebut. 

Setiap agama tentunya memiliki golongan yang dengan sukarela giat menjaga pesan Tuhan yang dijelmakan melalui perilaku mereka. Istilahnya adalah golongan suci yang mentahbiskan diri secara utuh untuk agamanya. Dalam Islam, setelah generasi juru selamat disempurnakan oleh Rasulullah saw sebagai khâtam al-anbiyâ` (penutup para nabi), pesan Tuhan tersebut beralih tugas kepada para sahabatnya untuk disampaikan kepada seluruh manusia. Sepeninggal Rasulullah, maka generasi berikutnya adalah golongan sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, hingga pada ulama salaf. Sementara itu, agama lain mempunyai istilah tersendiri dalam menamai generasinya. 

Sepeninggal para juru selamat dari berbagai agama, maka pelembagaan pesan Tuhan dirasa perlu untuk dilakukan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya pesan Tuhan yang perlu untuk dikaji dan ditelaah kembali berdasarkan konteks kekinian sehingga Ruh dari Pesan Tuhan yang berlaku dalam setiap ruang dan waktu dapat tetap hidup. 

Proses pelembagaan dari pelbagai agama memiliki sejarah panjang. Misalnya saja yang terjadi pada agama Budha. Sepeninggal pendirinya, yaitu Siddhartha Gautama atau yang biasa dipanggil dengan julukan Buddha Gautama, para pengikut Budha mengadakan Sidang Agung yang bertujuan untuk menghimpun ajaran-ajaran Budha yang terserak untuk kemudian diajarkan dan disebarkan kepada banyak orang. Karena Buddha tidak meninggalkan ajarannya secara tertulis, ajarannya diteruskan lewat sekumpulan memori murid-muridnya yang tertuang dalam bentuk sutra-sutra. Melalui Sidang Agung pula lahir para bhiksu. Mereka mendedikasikan diri secara utuh dalam lingkungan biara sebagai golongan suci yang mencoba menerjemahkan pesan Tuhan. 

Dalam ajaran Kristen, golongan suci dinamakan biarawan atau biarawati. Demi kepentingan agama, mereka secara sukarela meninggalkan kehidupan duniawi dan memfokuskan hidupnya di biara dan gereja. Di Indonesia, biasanya para biarawan ini dipanggil dengan sebutan suster. Mereka bertugas melayani ummat, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga sosial kemasyarakatan. Tugas suster, atau bagi laki-laki disebut dengan bruder, ini semata-mata untuk memperingan tugas uskup atau pastor yang memimpin lingkungan gereja. 

Islam, Indonesia, dan Santri
Tidak terkecuali Islam. Setelah kemunculan al-Qur`an di zaman kegelapan pada abad ketujuh masehi dimana mayoritas masyarakatnya pada waktu itu buta huruf, semua orang memandang perlu untuk kembali mengkaji pesan Tuhan yang terkandung di dalamnya. Tentunya proses mengkaji al-Qur`an bukanlah persoalan yang gampang, melainkan memerlukan metode jitu serta kapasitas yang mumpuni. Khusus di Indonesia, pemegang tongkat estafet sebagai juru selamat yang berkompeten untuk mengartikan bahasa Tuhan adalah santri. Santri berasal dari bahasa sansekerta cantrik, yang berarti pengemban Kitab Suci.

Polarisasi pendidikan model santri merupakan cara para ulama terdahulu untuk mengakaji serta memahami pesan Tuhan secara komprehensif. Gus Dur mengemukakan bahwa pesantren, berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya, memiliki paling tidak tiga elemen utama yang layak untuk dijadikan sebagai sebuah subkultur; (1) pola kepemimpinan pesantren yang mandiri dan tidak terkooptasi oleh negara; (2) kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan yang diambil dari berbagai abad (dalam terminologi pesantren dikenal dengan kitab klasik atau Kitab Kuning); dan (3) sistem nilai (value system) yang dianut. Beberapa nilai moralitas yang selalu ditekankan dalam ajaran-ajaran di pesantren adalah keikhlasan (al-ikhlâsh), kemandirian (al-i’timâd ‘alâ al-nafs), kesederhanaan hidup (al-iqtishâd), asketis (al-zuhd), menjaga diri (al-wara’), dan lain-lain.

Pada umumnya, pesantren menjadikan tafaqquh fi al-dîn sebagai tujuan pesantren. Secara literal ia berarti “mendalami agama”. Pengertian tafaqquh di sini tidak hanya berarti mempelajari agama eksoterik atau dalam arti hukum-hukum fiqh yang legal-formal, melainkan lebih dari itu. Lebih lanjut, menurut Zamakhsyari,


“Tujuan pendidikan tidak semata-mata untuk memperkaya pikiran santri dengan pelajaran-pelajaran agama, tetapi untuk meninggikan moral, melatih dan mempertinggi semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan, mengajarkan sikap dan tingkah-laku yang jujur dan bermoral, dan menyiapkan para santri untuk hidup sederhana dan bersih hati. Setiap santri diajarkan agar menerima etik agama di atas etik-etik yang lain. Tujuan pendidikan pesantren bukanlah untuk mengejar kepentingan kekuasaan, uang dan keagungan duniawi, tetapi ditanamkan kepada mereka bahwa belajar adalah semata-mata kewajiban dan pengabdian (ibadah) kepada Tuhan.”

Kesimpulan
Pada akhirnya, janganlah kita terjebak akan luasnya pesan Tuhan. Pesan Tuhan merupakan pesan yang harus dipahami secara lebih mendalam lagi agar tatanan bangsa dan masyarakat kita lebih terarah. Namun demikian, ironisnya, banyak dari kalangan agamawan tidak bisa membawakan perannya sebagai pembawa pesan Tuhan yang baik hingga pada akhirnya justru kekacauanlah yang banyak terjadi. Seharusnya agamawan dan juga lembaga-lembaga agama yang ada mampu memposisikan diri sebagai pencetak karakter bangsa dan peradaban manusia, sehingga yang terjadi kemudian bukanlah Pesan Tuhan yang terabaikan karena adanya “pesan” lain yang lebih memberikan keuntungan bagi dirinya. Karena pada dasarnya, Pesan Tuhan melalui semua agama telah mengarahkan, menganjurkan, serta membimbing manusia ke arah yang lebih baik. Persoalannya kemudian hanyalah sejauh mana kita dapat mengartikan pesan Tuhan tersebut? 

Selamat membaca pesan dari Tuhan!
»»  Baca selengkapnya...

Sabtu, 05 November 2011

Pengalaman Berharga di Dunia Sastra: Berawal dari Seni Kaligrafi (Bag. 1)

Oleh: R. Mh. Zidni Ilman NZ, S.Fils


Seperti biasanya, liburan kuliah di pertengahan tahun 2002 kali itu saya manfaatkan untuk pulang ke kampung halaman. Masa libur yang cukup lama, hampir dua bulan, memberikan banyak kesempatan bagi saya untuk berkumpul dengan keluarga sekaligus cooling down setelah setahun berkutat dengan diskusi dan tugas perkuliahan yang melelahkan.

Berawal dari Kaligrafi
Masa senggang itu lebih banyak saya habiskan untuk jalan-jalan, bercanda ria dengan keluarga, ataupun santai di kamar. Saat di kamar, kegiatan yang saya lakukan adalah nonton tv, utak-atik komputer, baca buku, dan sesekali corat coret sambil mengasah kemampuan seni tulis huruf Arab (kaligrafi) yang saya pelajari dari Ustadz In'am di Ciputat.

Nah, saat corat-coret itulah tanpa sengaja saya bersentuhan dengan salah satu cabang sastra Arab, yakni syi'ir dan nazham. Secara etimologi, syi'ir berasal dari sya'ara atau sya'ura yang berarti "mengetahui dan merasakannya". Sedangkan menurut terminologi, syi'ir adalah "suatu kalimat yang sengaja disusun dengan menggunakan irama dan sajak yang mengungkapkan tentang khayalan atau imaginasi yang indah". (1)

Adapun nazham, secara etimologi, berasal dari kata nazhama yang berarti "menyusun". Dan secara terminologi, pengertiannya tidak terlalu berbeda dengan syi'ir. Perbedaanya terletak pada konten dan sistematika penulisannya. Syi'ir dibuat untuk menggambarkan suatu perasaan atau peristiwa tertentu secara acak, sementara itu nazham mengandung pembahasan dan penjelasan mengenai suatu cabang ilmu secara sistematis. Namun, karena syi'ir memiliki pengertian yang lebih luas, maka nazham dapat disebut sebagai syi'ir, dan tidak sebaliknya. 

Membuat Teks Muqaddimah dan 
Pada mulanya, saya bingung harus menulis apa untuk sekedar mengasah kemampuan kaligrafi saya ini. Kebetulan saat itu saya sedang fokus mempelajari salah satu jenis tulisan (khath), yakni Khath Naskhi -- tulisan Arab standar seperti halnya Times New Roman untuk tulisan Latin. Akhirnya saya putuskan untuk membuat teks pembukaan (muqaddimah) untuk ceramah atau sambutan yang terdiri dari beberapa kalimat pendek berakhiran huruf Ha atau Ta Marbuthah yang ketika waqaf bunyinya berubah menjadi Ha. Dua kalimat pertama berbunyi,

حَمْدًا وَشُكْرًا لِمَنْ أَعْطَى الرَّحْمَةَ * لِجَمِيْعِ الْمَخْلُوْقِ وَالْهِدَايَةَ * .....

"Segala puji dan syukur bagi Dzat yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada segenap makhluq"

Iseng-iseng saya baca kalimat tersebut dengan irama yang mirip dengan syi'iran, dan bisa! Skenario pun langsung berubah, dari semula membuat muqaddimah ceramah menjadi muqaddimah kitab nazham seperti halnya kitab 'Aqidat al-'Awwam,. Setelah selesai membuat muqaddimah sebanyak enam bait, saya kembali kebingungan mencari kira-kira tema apa yang mau dibahas. Berbagai ide bermunculan, dan saya memilih untuk membahas pembagian lima macam hukum fiqh Islam; wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Kurang dari satu jam, saya berhasil membuat sekitar sepuluh bait (selain muqaddimah) untuk menerangkan kelima macam hukum tersebut secara ringkas. Akan tetapi, lagi-lagi saya dibuat bingung untuk menentukan tema berikutnya yang akan dibahas.

Membuat Nazham Ilmu Nahwu
Setelah berfikir cukup lama, saya pun memilih untuk membahas ilmu nahwu bagi pelajar pemula. Adapun konten dan sistematika penulisannya merujuk pada kitab al-Ajurumiyyah dengan sedikit tambahan. Pilihan tersebut bukannya tanpa alasan. Pembahasan yang panjang dan sistem penulisan yang sudah demikian sistematis akan meringankan saya, mengingat kitab tersebut memiliki lebih dari dua puluh bab. Setidaknya, saya tidak perlu bingung-bingung lagi mencari tema pembahasan dalam jangka waktu yang relatif lama.

Sejak saat itu, pikiran saya dihantui oleh proyek baru ini. Kapanpun, dimanapun, dan sedang melakukan kegiatan apapun, otak saya tak pernah berhenti untuk terus menerus membuat nazham. Kertas dan pulpen tidak pernah lepas dari tangan saya untuk mencatat bait-bait baru yang saya hasilkan. Hati kecil saya mengatakan bahwa saya harus berhasil menyelesaikan keseluruhan nazham ini secara utuh meski harus menghabiskan waktu berbulan-bulan dan siap dengan resiko apapun yang mungkin terjadi. Sebuah komitmen yang benar-benar kuat, sekuat pohon Rengas di Kali Cawang  dekat Bunen yang ada di kampung halaman saya, Buntet Pesantren Cirebon.

»»  Baca selengkapnya...

Jumat, 04 November 2011

Usia Alam Semesta Dihitung Berdasarkan Dalil al-Qur`an

Apakah anda tahu berapa umur alam semesta yang kita huni saat ini? Dengan mempergunakan dalil-dalil ayat-ayat suci al-Qur`an kita dapat menghitung usia dari alam semesta ini.

Mohammad Asadi dalam bukunya, The Grand Unifying Theory of Everything, menyatakan bahwa umur alam semesta itu 17-20 milyar tahun. Sementara Profesor Jean Claude Batelere berpendapat  bahwa umur semesta sekitar 18 milyar tahun. Sedangkan teori NASA mengeluarkan data umur semesta itu berada di pada kisaran 12-18 milyar tahun.

Sebagaimana diketahui, selama ini para ilmuwan dengan segala peralatan canggihnya dan ilmu 'tingginya' berusaha menguak berapa umur semesta. Sebenarnya, misteri tersebut sudah tertera di dalam al-Qur`an dengan sangat jelas. Mari kita telaah dari sini:

(1) Berdasarkan informasi Al Qur’an, keberadaan alam dunia tidak lebih dari 1 hari. Ini termuat dalam al-Qur`an,

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُوْلُوْنَ إِذْ يَقُوْلُ أَمْثَلُهُمْ طَرِيْقَةً إِنْ لَبِثْتُمْ إِلَّا يَوْماً

"Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya  di antara mereka, “Kamu tidak berdiam (di dunia), melainkan hanyalah sehari saja." Q.S. Thaha (20) : 104

(2) Sehari langit sama artinya dengan 1.000 tahun perhitungan manusia.

وَيَسْتَعْجِلُوْنَكَ بِالْعَذَابِ وَلَنْ يُخْلِفَ اللهُ وَعْدَهُ وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّوْنَ

"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." Q.S. Al-Hajj (22) : 47

(3) Sehari kadarnya 50.000 tahun.

تَعْرُجُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوْحُ إِلَيْهِ فِيْ يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِيْنَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun." Q.S. Al-Ma'arij (70) : 4

Bila 1 tahun hitungan manusia adalah 365,2422 hari, maka sehari langit diperoleh: 365,2422 x 50.000 x 1.000 x 1 diperoleh 18,26 milyar tahun. Hasil perhitungan 18.26 milyar tahun itu secara kebetulan hampir sama dengan yang dihitung oleh para ilmuwan yang saya sebutkan di atas. Artinya tidak ada yang sulit dimata Allah SWT selagi manusia mau berpikir. Persoalan sains dan iptek dapat digali dan dijawab oleh al-Quran dengan begitu mudah. Itulah salah satu alasan mengapa al-Qur`an disebut sebagai petunjuk bagi manusia dan penerang atas kegelepan, pemberi obat bagi yang sakit, pemberi ketenteraman jiwa yang tidak pernah damai, kitab suci yang tidak pernah ada kadaluarsa dalam judul dan bahasan, selalu elastis dalam tiap sendi kehidupan manusia, bisa diterima dalam tiap kondisi bangsa yang berbeda tingkat umur yang berbeda, suku yang berbeda, negara yang berbeda, serta pas dalam kondisi apapun alias UNIVERSAL. Wallahu a'lam.

»»  Baca selengkapnya...

Selasa, 01 November 2011

Bayi-bayi ke-7 Miliar di Dunia

Menurut PBB, Senin (31/10/2011) menjadi tanda sebuah tonggak baru populasi umat manusia di dunia terjadi. Jumlah umat manusia di dunia akan melebihi 7 miliar jiwa, mulai hari ini.

Seperti dilansir Time, para pejabat PBB menganugerahkan kehormatan simbolik kepada seorang bayi menandai manusia ketujuh miliar di dunia kepada Danica Camacho. Bayi mungkil ini lahir di Manila, Filipina. Camile Galura, nama manusia ketujuh miliar ini yang kepadanya dirayakan lahirnya sejarah baru dunia.

Time juga mencatat manusia ketujuh miliar adalah bayi yang juga lahir Senin (31/10/2011) di Louisville, Colorado, Amerika Serikat. Cin demikian nama bayi yang berada dalam dekapan hangat Miran ibunya, yang lahir di rumah sakit Advent Avista di Louisville, Colorado dekat Denver pada pukul 02:41 waktu setempat.

Selain itu, di Hefei, China, juga tercatat para perawat menunjukkan bayi baru lahir di sebuah rumah sakit di Hefei, provinsi Anhui, Cina, pada hari yang sama.

Pun demikian dengan bayi yang lahir di Tegucigalpa, Honduras. Tampak seorang dokter anak mengukur kepala Linda Abigail, anak ketiga dari Lourdes Suyapa Rodriguez, setelah ia lahir pukul 00.20, di Escuela rumah sakit di Tegucigalpa, Honduras.

Demikian pula di Karachi, Pakistan. Ibu Sakeena Khatoon juga baru saja melahirkan bayinya yang lahir pada Senin 31 Oktober 2011 di sebuah rumah sakit lokal di Karachi, Pakistan.

Lebih lanjut juga di Kolombo, Sri Lanka, tampak orangtua dan kerabat memegang bayi yang baru lahir di Castle, rumah sakit di Kolombo, Sri Lanka, Senin, 31 Oktober, 2011. Bayi itu bernama, Oishee.

Di Moskow, Rusia, seorang bayi juga terlihat baru dilahirkan di pusat kota Moskow. Sama pula dengan bayi yang lahir pada hari yang sama di kota Mal, India. Bayi itu adalah anak Vinita Yadav, 23 tahun. Tampak sang ibu memegang bayinya bernama Nargis, bayi perempuan, yang lahir pada pukul 07:20 waktu setempat, di pinggiran kota Lucknow, India utara, 31 Oktober 2011.

Tbilisi, Georgia juga menjadi kota sejarah dimana Seorang ibu melahirkan bayinya di sebuah rumah sakit bersalin di Tbilisi, Georgia, 31 Oktober 2011.

Di kota Ankara, Turki, PBB juga merilis foto seorang anak bayi yang baru lahir di Turki. Bayi tersebut bernama Yusuf Efe, lahir di Rumah Sakit Bersalin Tahir Burak di Ankara Zekai, Turki, Senin pagi, 31 Oktober 2011.

»»  Baca selengkapnya...

Komentar